Lonjakan Harga Daging Ayam dan Telur Jadi Sorotan Pekan Ini
Berdasarkan pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS) pada minggu ketiga bulan Juli 2026, terjadi pergerakan harga komoditas pangan strategis yang cukup signifikan. Sejumlah bahan pokok mengalami kenaika...
Berdasarkan pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS) pada minggu ketiga bulan Juli 2026, terjadi pergerakan harga komoditas pangan strategis yang cukup signifikan. Sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan harga secara bertahap, dipicu oleh kombinasi faktor musiman, dinamika distribusi, dan meningkatnya permintaan.
Daging dan Telur Ayam Ras Kompak Naik
Harga daging ayam ras di tingkat konsumen tercatat mengalami kenaikan rata-rata sebesar 5,2% secara month-to-month. Di Pasar Induk Kramat Jati, misalnya, harga daging ayam kini menembus angka Rp38.500 per kilogram, dari posisi sebelumnya Rp36.600 per kg pada bulan Juni. Kenaikan ini dikonfirmasi oleh pedagang yang merasakan pasokan dari peternak mulai menipis seiring dengan penurunan produktivitas akibat cuaca yang tidak menentu.
Senada dengan itu, harga telur ayam ras juga merayap naik. Data panel harga pangan mencatat kenaikan sebesar 3,8% secara year-on-year. Di sejumlah pasar tradisional Jakarta, harga telur kini berkisar antara Rp28.000–Rp30.000 per kilogram, meningkat dari kisaran Rp27.000–Rp28.500 pada periode yang sama tahun lalu. Tren ini sejalan dengan peningkatan biaya pakan yang berdampak pada harga pokok produksi (HPP) di tingkat peternak.
Di satu sisi, kenaikan ini menguntungkan para peternak skala kecil dan menengah yang selama ini tertekan oleh impor jagung dan volatilitas harga. Di sisi lain, konsumen rumah tangga, khususnya kelompok bawah, harus mengalokasikan pendapatan lebih besar untuk memenuhi sumber protein hewani.
Cabai dan Beras Ikut Memanaskan Inflasi Pangan
Tidak hanya daging dan telur, komoditas hortikultura seperti cabai-cabaian—termasuk cabai merah besar, cabai keriting, dan rawit—juga mencatatkan tren kenaikan. Berdasarkan data penelusuran di Pasar Tanah Abang, harga cabai merah keriting melonjak 12% dalam dua pekan terakhir, dari Rp45.000 menjadi menyentuh Rp50.500 per kilogram. Kenaikan ini dipicu oleh pasokan yang terganggu akibat hujan deras di sentra produksi di Brebes dan Magelang, yang menyebabkan gagal panen parsial.
Sementara itu, harga beras medium juga berada dalam tekanan. Harga beras IR 64 di tingkat grosir naik tipis sebesar 1,2% menjadi sekitar Rp12.800 per kilogram. Walaupun kenaikannya tidak setajam protein hewani, beras sebagai komponen utama inflasi inti tetap menjadi perhatian Bank Indonesia. Dalam rilis terakhir, BI menyatakan akan terus memonitor pergerakan harga pangan volatile food sebagai salah satu indikator stabilitas moneter.
Dua Perspektif: Antara Keberlanjutan Usaha dan Daya Beli
Pro: Para produsen dan peternak menyambut kenaikan harga ini sebagai koreksi atas tekanan biaya produksi yang meningkat. Ketua Asosiasi Peternak Ayam Ras Nasional mengungkapkan bahwa kenaikan HPP telur dan daging sudah lama dinanti setelah harga sempat anjlok di bawah biaya produksi pada awal tahun. Kenaikan ini memberi ruang bagi peternak untuk memulihkan margin,
ujarnya.
Kontra: Di kalangan konsumen, terutama ibu rumah tangga, kenaikan ini dirasakan sebagai beban tambahan. Yanti, seorang pengusaha warung makan di Bekasi, mengaku harus mengurangi porsi daging ayam dalam menu harian dan menyesuaikan harga jual. Kami sudah naikkan harga menu Rp1.000, tapi tetap saja margin menyusut,
keluhnya. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional menunjukkan bahwa elastisitas permintaan untuk protein hewani cukup tinggi pada kelompok pendapatan bawah, sehingga kenaikan harga berpotensi menekan konsumsi hingga 3–5%.
Dari perspektif makro, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan ini berpotensi menyumbang tambahan inflasi bulanan sebesar 0,15–0,20 poin persentase. Namun, analis memperkirakan bahwa dampaknya akan bersifat temporer sepanjang pasokan dapat kembali normal pada akhir kuartal tiga. Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional menegaskan akan menggencarkan operasi pasar murah dan menjaga stok beras pemerintah agar tidak terjadi gejolak.
Dengan dinamika ini, para pemangku kebijakan diharapkan mampu menyeimbangkan antara keberpihakan pada produsen dan perlindungan konsumen, sehingga stabilitas harga dan kesejahteraan bersama dapat tercapai.
Comments (0)