Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per September 2025, perekonomian Indonesia masih menunjukkan tren pemulihan meski dengan laju yang melambat. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tercatat mengalami kenaikan sebesar 5,08% secara year-on-year pada kuartal II tahun ini. Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yaitu 5,24%. Dengan kondisi tersebut, target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,00% yang ingin dicapai pada tahun depan menjadi tantangan yang cukup besar bagi fundamental perekonomian nasional. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan langkah terstruktur dengan mempertimbangkan berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri.
Menakar Kebutuhan Pertumbuhan
Sebelum membahas strategi yang dapat mendorong laju ekonomi, perlu dipahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan PDB. PDB merupakan nilai total barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam kurun waktu tertentu, sehingga angka ini kerap dijadikan sebagai indeks untuk mengukur kinerja ekonomi secara keseluruhan. Untuk dapat menaikkan laju PDB dari 5,08% menuju 6,00%, dibutuhkan dorongan pertumbuhan tambahan sebesar 0,92% poin persentase dalam waktu kurang dari satu tahun. Dorongan tersebut tidak dapat hanya bergantung pada satu sektor, namun harus berasal dari beragam sumber yang mampu memperkuat konsumsi, investasi, maupun ekspor.
Di satu sisi, ruang untuk mendorong pertumbuhan masih terbuka. Hal ini dapat dilihat melalui rasio investasi terhadap PDB yang masih berada di kisaran 29,8%, serta likuiditas perbankan yang terjaga dengan rasio alat likuid terhadap kewajiban (LCR) berada di atas 130%. Kondisi ini memberikan kapasitas bagi sektor riil untuk mendapatkan pembiayaan dalam rangka memperluas produksinya. Di sisi lain, ruang tersebut tidaklah bebas hambatan. Sentimen pasar global yang masih fluktuatif kerap memicu capital outflow (arus keluar modal asing) dari pasar keuangan domestik. Berdasarkan catatan Bank Indonesia, arus keluar modal bersih pada beberapa bulan tahun ini sempat mencapai kisaran Rp 12,5 triliun dalam satu bulan, sehingga dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta biaya pembiayaan.
Strategi Penggerak Ekonomi
Salah satu fokus yang dapat mendorong pertumbuhan adalah melalui penguatan investasi. Investasi berperan penting dalam menambah kapasitas produksi, membuka lapangan pekerjaan, serta meningkatkan produktivitas jangka panjang. Di satu sisi, pembangunan infrastruktur yang berkesinambungan mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) terhadap sektor-sektor pendukung, seperti logistik, konstruksi, bahan bangunan, hingga jasa. Proyeksi dari efek tersebut dapat mendorong pertumbuhan sektor terkait hingga 1,2% poin terhadap PDB secara kumulatif apabila terealisasi secara bertahap.
Di sisi lain, untuk menarik investasi, perlu diperhatikan valuasi dan iklim usaha. Kenaikan biaya energi global, waktu perizinan, serta ketersediaan sumber daya manusia terampil menjadi faktor yang dapat menurunkan minat investor. Selain itu, sektor manufaktur yang merupakan salah satu tulang punggung ekspor, mengalami kenaikan biaya produksi akibat fluktuasi harga bahan baku impor. Hal ini berpotensi menahan ekspansi produksi, khususnya untuk industri yang memiliki ketergantungan impor yang tinggi.
Tidak hanya investasi, konsumsi rumah tangga juga masih menjadi motor utama perekonomian Indonesia. Konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 53% terhadap total PDB, menjadikannya sektor dengan bobot terbesar. Di satu sisi, tingkat pengangguran terbuka yang berada di kisaran 4,8% serta inflasi yang terjaga di kisaran 2,5% - 3,0% dapat menjaga daya beli masyarakat. Di sisi lain, tren peningkatan utang konsumsi, khususnya melalui pembiayaan non-bank, perlu diwaspadai. Apabila tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan riil, maka sentimen pasar terhadap daya beli dapat melemah dan berujung pada perlambatan konsumsi di semester berikutnya.
Hambatan Global yang Tak Terhindarkan
Dalam upaya mengejar target ini, faktor eksternal tidak dapat diabaikan. Kebijakan moneter negara maju yang masih cenderung ketat, ditambah dengan ketidakpastian geopolitik, kerap memicu capital outflow secara global. Hal ini secara langsung berdampak terhadap portofolio investasi asing di Indonesia. Ketika investor asing melakukan penarikan dana dari surat berharga negara maupun saham, likuiditas domestik dapat mengalami penurunan, sehingga Bank Indonesia perlu menjaga stabilitas melalui berbagai instrumen untuk meredam volatilitas tanpa menghambat pertumbuhan kredit.
Di satu sisi, diversifikasi pasar ekspor dapat menjadi bantalan terhadap perlambatan ekonomi mitra dagang. Ekspansi ke pasar dengan permintaan yang masih positif dapat membantu menjaga kinerja neraca perdagangan. Di sisi lain, proteksionisme global yang kembali mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir menjadi tantangan bagi negara dengan basis ekspor barang, termasuk Indonesia. Hal ini dapat menekan indeks ekspor non-migas yang sebelumnya tumbuh, sehingga memerlukan peningkatan nilai tambah produk agar lebih kompetitif, bukan hanya dari segi harga, namun juga dari segi kualitas.
"Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tidak diukur hanya dari seberapa cepat angka PDB naik, namun juga dari seberapa kuat fundamental yang menopangnya untuk bertahan di tengah guncangan global."
Kesimpulan: Antara Target dan Realita
Melihat seluruh aspek yang telah dibahas, target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,00% merupakan sebuah proyeksi yang ambisius, namun bukanlah hal yang mustahil. Di satu sisi, likuiditas yang memadai, potensi investasi, serta konsumsi rumah tangga yang besar menjadi modal kuat untuk mendorong laju ekonomi. Di sisi lain, tekanan eksternal, perlambatan laju tahun ini yang hanya sebesar 5,08% secara year-on-year, serta berbagai tantangan struktural menjadi faktor yang dapat memperlambat realisasinya. Oleh karena itu, keberhasilan dalam mengejar target ini akan sangat bergantung kepada konsistensi dalam memperkuat fundamental, menjaga stabilitas makro, serta kemampuan untuk merespons sentimen pasar secara tepat tanpa mengorbankan stabilitas jangka panjang.
Comments (0)