Mendag: Penutupan Gerai Ritel Bukan karena Daya Beli Lesu
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, indeks penjualan riil mengalami kenaikan tipis sebesar 0,8% year-on-year, meskipun ada laporan penutupan sejumlah gerai ritel modern di ...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, indeks penjualan riil mengalami kenaikan tipis sebesar 0,8% year-on-year, meskipun ada laporan penutupan sejumlah gerai ritel modern di beberapa kota besar. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso dengan tegas membantah anggapan bahwa penutupan gerai-gerai tersebut disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat. Ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi domestik masih solid, dan penutupan gerai lebih banyak dipengaruhi oleh faktor internal perusahaan, seperti efisiensi operasional dan perubahan strategi bisnis.
Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran publik yang meluas setelah beberapa jaringan ritel ternama mengumumkan penutupan sejumlah cabangnya. Data dari Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (APRINDO) mencatat, sepanjang tahun 2024 hingga awal 2025, setidaknya ada 150 gerai ritel modern yang tutup di Pulau Jawa. Namun, Mendag menekankan bahwa angka tersebut masih jauh di bawah jumlah gerai yang baru dibuka, yaitu sekitar 200 gerai pada periode yang sama, sehingga secara neto masih terjadi ekspansi.
Faktor Internal Perusahaan vs Daya Beli Masyarakat
Di satu sisi, data makro menunjukkan bahwa daya beli masyarakat sebenarnya masih terjaga. Tingkat inflasi inti per Januari 2025 tercatat 2,4% year-on-year, masih dalam kisaran target Bank Indonesia. Selain itu, penjualan eceran yang diproksikan dari Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 1,2% year-on-year pada kuartal IV-2024. Angka ini mengindikasikan bahwa konsumsi rumah tangga masih berkontribusi sekitar 54% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dan tidak menunjukkan adanya penurunan drastis.
Di sisi lain, banyak analis yang berpendapat bahwa penutupan gerai ritel lebih disebabkan oleh pergeseran perilaku konsumen ke platform belanja daring. Data dari Kementerian Perdagangan menunjukkan nilai transaksi e-commerce pada tahun 2024 mencapai Rp 487 triliun, naik 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini memaksa perusahaan ritel untuk melakukan rasionalisasi toko fisik yang dianggap tidak efisien. “Penutupan gerai adalah keputusan bisnis yang wajar, bukan cermin dari lesunya daya beli. Perusahaan harus menyesuaikan portofolio aset mereka dengan tren pasar,” ujar Budi Santoso dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (18/2/2025).
“Penutupan gerai adalah keputusan bisnis yang wajar, bukan cermin dari lesunya daya beli. Perusahaan harus menyesuaikan portofolio aset mereka dengan tren pasar,” ujar Budi Santoso.
Sentimen Pasar dan Respons Pelaku Usaha
Sentimen pasar terhadap isu ini cenderung bervariasi. Di satu sisi, investor melihat penutupan gerai sebagai langkah positif untuk meningkatkan efisiensi dan likuiditas perusahaan. Sebagai contoh, saham emiten ritel PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) justru mengalami kenaikan 2,3% dalam sepekan terakhir setelah mengumumkan penutupan 20 gerai yang tidak produktif. Hal ini menunjukkan bahwa pasar merespons positif upaya perusahaan dalam memperbaiki struktur biaya dan fokus pada gerai dengan valuasi tinggi.
Di sisi lain, serikat pekerja dan pengamat ekonomi mengingatkan bahwa penutupan gerai dapat memicu risiko capital outflow di sektor riil, terutama jika tidak diimbangi dengan penciptaan lapangan kerja baru di sektor lain. Mereka menunjuk data dari Kementerian Ketenagakerjaan yang mencatat adanya 12.000 pekerja ritel yang terkena PHK sepanjang 2024. Namun, Mendag membantah bahwa hal ini berdampak signifikan terhadap daya beli agregat. “Kami melihat pertumbuhan upah riil masih positif, dan program bansos pemerintah terus berjalan. Jadi, isu daya beli lesu itu tidak berdasar,” tegasnya.
Proyeksi dan Strategi ke Depan
Ke depan, pemerintah berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ritel modern dan tradisional. Salah satu langkah yang disiapkan adalah insentif fiskal bagi ritel yang melakukan digitalisasi, serta penguatan kemitraan dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurut proyeksi Kementerian Perdagangan, penjualan ritel modern pada tahun 2025 diperkirakan tumbuh 4,5% year-on-year, didorong oleh belanja pemerintah dan musim liburan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2024 yang hanya 3,8%.
Namun, tantangan tetap ada. Bank Indonesia dalam laporan terbarunya menyebutkan bahwa ketidakpastian global, seperti konflik geopolitik dan fluktuasi harga komoditas, dapat mempengaruhi ekspektasi konsumen. Meski demikian, Mendag optimistis bahwa fundamental ekonomi domestik mampu bertahan. “Kami tidak melihat adanya penurunan daya beli yang struktural. Yang terjadi adalah transformasi, bukan kontraksi,” pungkasnya.
Comments (0)