Kementerian Perdagangan Republik Indonesia memastikan stabilitas harga dan pasokan komoditas pangan pokok di sejumlah pasar tradisional yang berada di dalam radius paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kendati aktivitas vulkanik di kawasan Selat Sunda sempat meningkatkan kekhawatiran terkait potensi gangguan rantai pasok antara Pulau Jawa dan Sumatra, pergerakan barang pokok dilaporkan masih berjalan normal.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa pemantauan intensif dilakukan melalui koordinasi dengan dinas perdagangan daerah serta memanfaatkan data harian Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). Hasil verifikasi lapangan menunjukkan bahwa gejolak harga maupun kelangkaan komoditas strategis belum terindikasi di pasar-pasar utama wilayah pesisir Banten dan Lampung Selatan.
"Berdasarkan pemantauan harian kami di lapangan, pasokan bahan pangan di wilayah yang terpapar abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau masih sangat terkendali. Jalur distribusi logistik tidak terputus dan harga-harga komoditas utama tetap stabil," ujar Budi Santoso dalam keterangan resminya.
Penelusuran Rantai Pasok Pascahujan Abu Vulkanik
Paparan abu vulkanik dari erupsi gunung api kerap menjadi pemicu perlambatan armada angkutan logistik, penurunan kualitas komoditas hortikultura terbuka, hingga kepanikan belanja masyarakat (panic buying). Berdasarkan penelusuran tim monitoring di lapangan, komoditas yang rentan terhadap dampak abu vulkanik seperti cabai merah keriting, bawang merah, dan sayuran daun masih mencatatkan suplai harian yang mencukupi.
Data pemantauan mencatat komoditas beras medium berada di kisaran Rp13.200 hingga Rp13.800 per kilogram, sementara minyak goreng kemasan rakyat MinyaKita tetap terjaga di level Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter. Kelancaran arus penyeberangan kapal feri lintas Merak–Bakauheni menjadi faktor krusial yang menopang stabilitas pasokan pangan antarpulau.
Kronologi Pemantauan Pasar dan Langkah Penanganan
Kemendag menerapkan protokol mitigasi terpadu untuk merespons dampak bencana terhadap ketersediaan barang kebutuhan pokok melalui tahapan berikut:
- Pemetaan Radius Terdampak: Petugas lapangan mendata pasar tradisional di radius 15–30 kilometer dari kawasan pesisir yang menerima akumulasi abu vulkanik guna mengantisipasi kerusakan stok komoditas terbuka.
- Verifikasi Ketersediaan Gudang: Pemeriksaan stok beras di gudang-gudang Perum BULOG terdekat untuk memastikan cadangan beras pemerintah (CBP) siap disalurkan kapan pun dibutuhkan.
- Pengawasan Jalur Arteri Logistik: Koordinasi dengan otoritas pelabuhan dan kepolisian lalu lintas untuk memprioritaskan truk pengangkut sembako agar tidak tertahan akibat debu tebal di jalan raya.
- Penyiapan Operasi Pasar: Penyusunan skema intervensi pasar murah terpadu apabila ditemukan oknum pedagang yang memanfaatkan situasi bencana untuk menaikkan harga secara spekulatif.
Mitigasi Tekanan Inflasi di Daerah Rawan Bencana
Kemendag mengimbau para distributor dan pedagang eceran untuk tidak menahan stok barang kebutuhan pokok. Pemerintah daerah diminta terus memperbarui laporan dinamika harga agar langkah stabilisasi pasokan dapat segera dieksekusi jika aktivitas erupsi meningkat.
- Pengawasan Spekulasi Harga: Satgas Pangan daerah meningkatkan inspeksi guna mencegah penimbunan barang pokok di tengah situasi bencana.
- Distribusi Alternatif: Menyiapkan rute logistik darat cadangan jika jalur penyeberangan laut utama mengalami kendala operasional akibat cuaca ekstrem atau jarak pandang terbatas.
- Jaminan Kualitas Pangan: Pedagang diimbau menutup lapak dagangan terbuka menggunakan terpal plastik agar bahan pangan terhindar dari kontaminasi partikel debu vulkanik.
Dengan langkah preventif ini, pemerintah optimistis inflasi pangan di zona terdampak bencana erupsi dapat ditekan, menjaga daya beli masyarakat tetap terlindungi tanpa gangguan pasokan kebutuhan dasar.
Comments (0)