Oct 13, 2026
Bisnis

Maritim Literasi dan Investasi SDM Generasi Muda

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi serta Badan Pusat Statistik (BPS) per 2024, sektor ekonomi kelautan menyumbang sekitar 7,4 persen dari Produk Domestik Bruto (...

Maritim Literasi dan Investasi SDM Generasi Muda

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi serta Badan Pusat Statistik (BPS) per 2024, sektor ekonomi kelautan menyumbang sekitar 7,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, jauh di bawah potensi yang diproyeksikan mencapai 15 persen pada 2030. Angka ini menjadi dasar penting mengapa literasi maritim bagi generasi muda bukan sekadar program seremonial, melainkan investasi jangka panjang bagi fundamental ekonomi Indonesia.

Di tengah tren itu, sebuah kegiatan bertajuk Bahtera LiteraSEA digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dengan mengajak pelajar mengenal dunia maritim secara interaktif. Pendekatan ini mencoba menjembatani kesenjangan antara narasi makro ekonomi kelautan dan pemahaman generasi muda yang selama ini lebih akrab dengan sektor digital dan jasa.

Potensi Ekonomi Maritim dan Realitas Serapan Tenaga Kerja

Indonesia memiliki garis pantai sekitar 99.093 kilometer dan lebih dari 17.000 pulau, sebuah anugerah geografis yang menempatkan negara ini pada posisi strategis dalam jalur perdagangan global. Namun, berdasarkan data Badan Keamanan Laut dan Kementerian Perhubungan, kontribusi sektor pelayaran nasional terhadap angkutan kargo internasional masih berkisar 5 persen hingga 7 persen. Artinya, mayoritas barang ekspor-impor masih diangkut kapal berbendera asing.

Kondisi ini menciptakan apa yang dalam terminologi ekonomi disebut sebagai opportunity loss, yakni nilai tambah yang hilang karena potensi tidak tergarap optimal. Setiap satu persen kenaikan pangsa angkutan laut domestik diproyeksikan dapat menambah devisa negara hingga Rp 2,3 triliun per tahun, berdasarkan kalkulasi Asosiasi Pengusaha Pelayaran Nasional.

Masalahnya, sumber daya manusia di sektor ini belum tumbuh secepat kebutuhan industri. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa dari sekitar 1,2 juta lulusan sekolah menengah kejuruan setiap tahun, hanya sekitar 3,8 persen yang terserap ke sektor maritim dan logistik laut. Rendahnya minat generasi muda terhadap bidang ini menjadi salah satu penghambat utama pengembangan industri pelayaran nasional.

Pro: Literasi Maritim sebagai Fondasi Portofolio SDM

Di satu sisi, pengenalan literasi maritim sejak dini memiliki dampak positif terhadap pembentukan portofolio keterampilan generasi muda. Negara-negara seperti Norwegia dan Jepang membuktikan bahwa pengenalan industri maritim pada usia sekolah berkorelasi dengan peningkatan serapan tenaga kerja sektor pelayaran hingga 18 persen dalam kurun satu dekade.

Program semacam ini juga berpotensi memperkuat sentimen pasar terhadap sektor kelautan. Ketika generasi muda memahami nilai ekonomi laut, permintaan terhadap pendidikan vokasi maritim meningkat, yang pada akhirnya mendorong likuiditas tenaga kerja terampil di dalam negeri. Ini penting untuk menekan ketergantungan pada tenaga kerja asing di kapal-kapal niaga.

“Tanpa literasi maritim yang kuat, negara ini akan terus menjadi penonton di lautnya sendiri. Pendidikan adalah pintu masuk paling logis untuk mengubah paradigma itu,” ujar seorang pengamat ekonomi kelautan dari sebuah lembaga riset independen.

Kontra: Keterbatasan Anggaran dan Skala Program

Di sisi lain, pendekatan berbasis kegiatan interaktif seperti ini menghadapi tantangan fundamental berupa keterbatasan anggaran dan skala jangkauan. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, alokasi anggaran untuk program literasi non-akademik pada 2024 hanya sekitar Rp 1,4 triliun, yang harus dibagi untuk berbagai tema, termasuk literasi keuangan, digital, dan kebencanaan.

Skala kegiatan yang menyasar ratusan pelajar di ibu kota dinilai belum menyentuh akar persoalan, yaitu daerah pesisir yang justru menjadi pusat aktivitas maritim. Sekitar 60 persen desa pesisir di Indonesia masih memiliki indeks literasi dasar di bawah rata-rata nasional. Tanpa intervensi di wilayah-wilayah ini, program literasi maritim berisiko menjadi sekadar simbolik tanpa dampak ekonomi riil.

Selain itu, ada kekhawatiran bahwa pengenalan industri maritim kepada anak-anak perlu diimbangi dengan pemahaman tentang tantangan sektor ini, seperti ketidakpastian pendapatan nelayan, keselamatan kerja di kapal, dan fluktuasi harga komoditas laut. Tanpa itu, literasi maritim bisa menciptakan ekspektasi tanpa kesiapan menghadapi risiko.

Proyeksi dan Arah Ke Depan

Mengacu pada proyeksi Bank Indonesia bahwa ekonomi kelautan dapat tumbuh 6,8 persen year-on-year pada 2027 apabila didukung penguatan SDM, maka investasi pada literasi maritim menjadi niscaya. Namun, keberhasilannya bergantung pada tiga faktor: konsistensi kebijakan, alokasi anggaran yang terukur, dan kolaborasi antara pemerintah, industri, serta lembaga pendidikan.

Dengan rasio kapitalisasi sektor maritim yang masih rendah dibandingkan sektor jasa keuangan dan digital, membangun kesadaran generasi muda adalah langkah awal yang rasional. Fundamental ekonomi laut Indonesia tidak perlu diragukan; yang diperlukan adalah manusia-manusia yang memahami cara mengelolanya. Tanpa itu, potensi maritim hanya akan menjadi angka di atas kertas, bukan kekuatan nyata dalam struktur ekonomi nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User