Perjalanan seorang purna pekerja migran Indonesia (PMI) yang berhasil mentransformasi keterampilan dan tabungannya menjadi usaha mandiri kembali menjadi kisah inspiratif. Rosyidah, setelah bertahun-tahun mengadu nasib di negeri orang, memutuskan untuk pulang dan membangun lini bisnis olahan hasil laut yang kini dikenal dengan merek C'milzea. Langkahnya tersebut tidak hanya menandai babak baru dalam kehidupannya, tetapi juga turut menggerakkan roda ekonomi di lingkungan sekitar.
Dari Devisa Negara ke Dapur Produksi
Rosyidah menghabiskan lebih dari satu dekade bekerja di sektor informal di Timur Tengah. Selama masa itu, ia tidak hanya mengumpulkan pundi-pundi rupiah, tetapi juga mengamati betapa tingginya permintaan pasar global terhadap makanan ringan berbasis laut yang higienis dan tahan lama. Sekembalinya ke Tanah Air, ia melihat potensi besar di wilayah pesisir tempatnya tinggal: pasokan ikan, cumi, dan udang melimpah, namun nilai tambahnya masih rendah karena mayoritas dijual dalam bentuk segar. Dengan modal terbatas, Rosyidah mulai bereksperimen di dapur rumahnya, menciptakan aneka camilan seperti stik ikan, keripik cumi renyah, dan abon seafood. Produk awal ini kemudian menjadi cikal bakal C'milzea.
Tantangan Ganda: Produksi dan Legalitas
Seperti kebanyakan wirausaha pemula, Rosyidah menghadapi kendala klasik: standarisasi rasa, konsistensi kualitas, dan kemasan yang menarik. Selain itu, sebagai usaha rumahan, produknya belum memiliki legalitas lengkap, seperti izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikasi halal. Hal ini membatasi ruang gerak C'milzea untuk menembus pasar modern atau reseller di luar kota. Rosyidah mengaku, pada tahun pertama, produksinya masih sangat fluktuatif, bergantung pada pesanan kerabat dan acara lokal saja. Omset bulanan saat itu hanya berkisar di angka Rp2 juta hingga Rp3 juta, jauh dari titik impas yang ideal.
Intervensi Strategis Program BRI Peduli
Perubahan signifikan mulai terjadi ketika Rosyidah terhubung dengan program tanggung jawab sosial lingkungan (TJSL) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, yang dikenal luas sebagai BRI Peduli. Program ini memang menyasar pelaku usaha ultra mikro dan mikro yang memiliki produk potensial namun belum tersentuh akses permodalan dan pelatihan yang memadai. Melalui serangkaian asesmen, C'milzea dinilai memiliki prospek untuk naik kelas. BRI Peduli tidak serta-merta memberikan bantuan uang tunai, melainkan memfasilitasi tiga pilar pengembangan: peningkatan kapasitas produksi, legalitas usaha, dan akses pemasaran.
Rosyidah mengikuti pelatihan Good Manufacturing Practices (GMP) selama dua bulan. Ia belajar mengaplikasikan teknik pengolahan pangan yang lebih higienis, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pencucian, penggorengan dengan suhu terkontrol, hingga pengemasan dengan alat sealer kedap udara. BRI Peduli juga memberikan bantuan peralatan produksi berupa mesin spinner peniris minyak dan alat pengering otomatis. Intervensi ini berdampak langsung: kapasitas produksi melonjak hingga tiga kali lipat dari sebelumnya, dan produk jadi memiliki daya tahan hingga enam bulan tanpa bahan pengawet.
Legalitas Lengkap Membuka Pasar Lebih Luas
Salah satu terobosan paling krusial adalah pendampingan pengurusan legalitas. Sebelum bergabung dalam program, Rosyidah belum memahami alur birokrasi perizinan. Tim pendampingan BRI Peduli membantu mulai dari uji laboratorium kandungan gizi, proses pendaftaran NIB (Nomor Induk Berusaha), hingga terbitnya sertifikat PIRT dan sertifikasi halal. Dengan dokumen yang lengkap, C'milzea kini bisa masuk ke jaringan toko oleh-oleh, supermarket lokal, dan bahkan mulai melirik ekspansi ke platform e-commerce. Kepercayaan konsumen pun meningkat signifikan. Volume penjualan bulanan kini menembus angka Rp15 juta, dengan tren kenaikan positif year-on-year.
Dampak Berganda: Perempuan dan Komunitas Pesisir
Dampak dari keberhasilan C'milzea tidak berhenti pada Rosyidah seorang. Untuk memenuhi permintaan yang terus bertambah, ia merekrut tetangga sekitar, mayoritas adalah ibu rumah tangga dan istri nelayan yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan tetap. Kini, terdapat enam tenaga kerja lokal yang terlibat aktif dalam proses produksi dan pengemasan. Mereka mendapatkan upah layak dengan sistem kerja fleksibel, sehingga tetap bisa mengurus keluarga. Model pemberdayaan ini menciptakan efek domino: peningkatan pendapatan keluarga, berkurangnya angka pengangguran terselubung di desa pesisir, dan tumbuhnya ekosistem wirausaha berbasis komunitas.
Di sisi lain, Rosyidah juga menjaga rantai pasok dengan membeli hasil tangkapan langsung dari nelayan kecil di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) setempat. Ini memotong tengkulak yang kerap menekan harga di tingkat produsen. Dengan demikian, C'milzea turut memperkuat posisi tawar nelayan tradisional. Enam nelayan menjadi pemasok tetap ikan dan cumi segar bagi dapur produksi, menciptakan simbiosis mutualisme yang langgeng.
Proyeksi Pengembangan dan Replikasi Model
Melihat animo pasar yang terus meningkat, Rosyidah berencana mengembangkan varian produk baru berbasis rumput laut dan ikan teri premium yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Ia juga tengah menjajaki kerja sama dengan agregator produk UMKM untuk menembus pasar ekspor non-tarif, khususnya ke komunitas diaspora Indonesia di Malaysia dan Hong Kong. Sementara itu, BRI Peduli memproyeksikan model pemberdayaan serupa dapat direplikasi di sembilan titik pesisir lain di Indonesia. Pola intervensi terstruktur mulai dari hulu (produksi) hingga hilir (pasar) dinilai efektif dalam menciptakan kemandirian ekonomi eks-PMI dan masyarakat pesisir.
Kisah Rosyidah dan C'milzea menjadi bukti bahwa dengan perpaduan antara semangat pantang menyerah kaum perempuan dan dukungan yang tepat dari institusi keuangan, entitas ultra mikro mampu bertransformasi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi lokal yang riil. Tabungan pengalaman sebagai pekerja migran yang dibawa pulang, ketika dipertemukan dengan fasilitasi pelatihan, peralatan, dan legalitas, menghasilkan produk olahan hasil laut yang tak hanya renyah di lidah, tetapi juga kokoh secara fundamental bisnis.
Comments (0)