Mandalika dan Peluang UMKM Menembus Pasar Global

Pertamina Grand Prix of Indonesia di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, kembali menjadi magnet bagi UMKM lokal untuk memperluas jangkauan pasar. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonom...

Oct 10, 2026 - 19:13
0 0
Mandalika dan Peluang UMKM Menembus Pasar Global

Pertamina Grand Prix of Indonesia di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, kembali menjadi magnet bagi UMKM lokal untuk memperluas jangkauan pasar. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per Oktober 2024, ajang MotoGP Mandalika tercatat menarik lebih dari 100.000 penonton dalam beberapa hari penyelenggaraan, dengan komposisi sekitar 30 persen merupakan wisatawan mancanegara. Angka ini menjadi pintu masuk strategis bagi produk usaha mikro, kecil, dan menengah untuk bersentuhan langsung dengan pasar internasional tanpa harus keluar dari daerahnya.

Dalam konteks ekonomi, event berskala global seperti MotoGP menciptakan apa yang disebut multiplier effect — dampak berganda yang menjalar dari sektor pariwisata ke sektor riil, termasuk kuliner, kriya, fesyen, dan jasa. UMKM yang mampu memanfaatkan momen ini berpeluang mengubah status dari pemain lokal menjadi pemain yang dikenal lintas negara.

Di Satu Sisi: Momentum Ekspor Tidak Langsung bagi UMKM

Di satu sisi, kehadiran wisatawan asing di Mandalika menghadirkan peluang ekspor tidak langsung. Ketika seorang turis membeli kain tenun khas Lombok, kopi lokal, atau camilan berbahan baku daerah, produk tersebut otomatis menembus pasar global melalui pengalaman konsumen. Data Dinas Koperasi dan UKM NTB menunjukkan jumlah UMKM di provinsi ini mencapai lebih dari 300.000 unit, dengan kontribusi terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) yang terus mengalami kenaikan dalam lima tahun terakhir.

Menurut sejumlah pengamat ekonomi kreatif, ajang internasional mampu meningkatkan brand awareness produk lokal secara signifikan. Nilai transaksi UMKM selama gelaran MotoGP 2023 dilaporkan menembus puluhan miliar rupiah, dengan rata-rata kenaikan omzet per pelaku usaha mencapai 40 hingga 60 persen dibanding periode normal. Peningkatan likuiditas ini penting bagi UMKM yang selama ini terkendala modal kerja dan akses pembiayaan.

"Event internasional adalah etalase terbesar bagi UMKM kita. Yang dibutuhkan bukan hanya kehadiran, tetapi kesiapan kualitas, kemasan, dan kapasitas produksi," ujar seorang akademisi ekonomi pembangunan.

Keunggulan lain adalah potensi kemitraan lintas negara. Beberapa pelaku UMKM yang konsisten tampil di Mandalika mengaku mulai menerima pesanan dari pembeli Malaysia, Singapura, hingga Australia. Ini menandakan bahwa produk lokal memiliki daya saing jika dikemas dengan narasi budaya dan standar kualitas yang memadai.

Di Sisi Lain: Tantangan Kapasitas dan Konsistensi

Namun, di sisi lain, peluang ini tidak serta-merta berbuah manis. Persoalan klasik UMKM masih membayangi: kapasitas produksi terbatas, kualitas belum seragam, akses pembiayaan sempit, dan kemampuan pemasaran digital yang belum merata. Riset Bank Indonesia mencatat hanya sekitar 20 sampai 25 persen UMKM nasional yang benar-benar terhubung ke ekosistem digital dan rantai pasok formal. Artinya, mayoritas masih bergerak di sektor informal dengan margin tipis.

Dari perspektif makro, lonjakan permintaan selama event bersifat sementara. Setelah MotoGP usai, banyak UMKM kembali menghadapi penurunan pesanan. Tanpa strategi lanjutan berupa sertifikasi, standardisasi mutu, dan akses pasar daring, momentum ini berisiko hanya menjadi kenaikan omzet musiman. Sentimen pasar yang tinggi saat event tidak otomatis memperbaiki fundamental usaha.

Selain itu, ada kekhawatiran soal pemerataan. Sebagian besar manfaat ekonomi cenderung dinikmati pelaku usaha yang sudah mapan dan berjejaring, sementara UMKM di pelosok masih terhambat akses lokasi, logistik, dan informasi. Kesenjangan ini dapat memperlebar disparitas pendapatan antardaerah.

Proyeksi dan Prasyarat Agar Dampak Berkelanjutan

Ke depan, proyeksi dampak ekonomi Mandalika bergantung pada seberapa serius ekosistem pendukung dibangun. Pemerintah daerah bersama lembaga pembiayaan perlu memperkuat pelatihan kemasan, sertifikasi halal, izin edar, hingga pendampingan pemasaran lintas negara. Keterlibatan perbankan dalam menyediakan kredit usaha rakyat dengan bunga ringan juga menjadi kunci menjaga likuiditas pelaku usaha.

Pada akhirnya, MotoGP Mandalika bukan sekadar ajang balap. Ia adalah laboratorium ekonomi di mana UMKM diuji untuk naik kelas. Jika kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan pelaku usaha berjalan konsisten, bukan tidak mungkin tren ini melahirkan eksportir-eksportir baru dari NTB. Namun bila hanya mengandalkan euforia sesaat, peluang itu bisa menguap bersama berakhirnya balapan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User