Berdasarkan data penyelenggara ajang balap internasional di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, perhelatan MotoGP tahun ini mencatatkan kehadiran penonton sebanyak 157.875 orang selama tiga hari penyelenggaraan. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah sirkuit yang diresmikan pada 2021 itu, sekaligus menandai titik balik bagi sektor pariwisata olahraga atau sport tourism di kawasan Indonesia timur. Bagi pembaca awam, sport tourism merujuk pada aktivitas perjalanan wisata yang motif utamanya adalah menyaksikan atau mengikuti even olahraga, sehingga efek ekonominya menyebar ke akomodasi, kuliner, transportasi, dan usaha mikro.
Angka Makro dan Konteks Year-on-Year
Jika dibandingkan dengan penyelenggaraan tahun sebelumnya, jumlah penonton mengalami kenaikan signifikan. Pada edisi 2023, kehadiran penonton tercatat sekitar 102.000 orang, sementara pada 2022 sekitar 103.000 orang. Dengan demikian, lonjakan year-on-year pada edisi terbaru mencapai kurang lebih 54 persen. Peningkatan ini penting karena okupansi hotel di kawasan Kuta Mandalika dan Mataram dilaporkan menembus 90 persen pada puncak even, jauh di atas rata-rata okupansi harian yang berkisar 55–60 persen pada bulan biasa.
Dari sisi penerimaan negara bukan pajak dan belanja wisatawan, estimasi awal menunjukkan perputaran uang di kawasan ekonomi khusus Mandalika berada pada rentang Rp1,2 triliun hingga Rp1,5 triliun selama periode even. Angka ini dihitung dari belanja tiket, akomodasi, konsumsi, dan transportasi lokal. Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Regional Bruto NTB juga diproyeksikan naik dari sekitar 11 persen menjadi 13 persen dalam dua tahun ke depan apabila tren ini berlanjut.
Di Satu Sisi: Fundamental Ekonomi Lokal Menguat
Di satu sisi, lonjakan kunjungan memberi dorongan nyata bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Sebanyak lebih dari 1.500 UMKM dilaporkan terlibat langsung dalam rantai pasok even, mulai dari penyediaan makanan, suvenir, jasa penyewaan kendaraan, hingga tenaga kerja harian. Skema kemitraan yang difasilitasi badan pengelola kawasan membuat sebagian UMKM mendapat pelatihan standar layanan dan akses pembiayaan berbunga rendah.
"Sport tourism bukan sekadar menjual tiket, melainkan membangun ekosistem. Yang paling penting adalah bagaimana nilai tambahnya tinggal di masyarakat lokal, bukan hanya lewat sebagai arus uang sesaat," ujar seorang ekonom pariwisata di sebuah lembaga riset independen.
Dari perspektif makro, keberhasilan Mandalika memperkuat posisi Indonesia dalam peta destinasi olahraga global. Diversifikasi sumber devisa menjadi krusial ketika harga komoditas berfluktuasi. Pariwisata menawarkan penerimaan yang relatif stabil dan padat karya, sehingga membantu menekan angka pengangguran terbuka di NTB yang pada periode yang sama berada di kisaran 4,5 persen.
Selain itu, efek reputasi atau branding tidak bisa diabaikan. Pemberitaan internasional atas Mandalika berpotensi menurunkan biaya promosi destinasi lain di Indonesia, karena wisatawan mancanegara cenderung mengombinasikan kunjungan ke Bali, Labuan Bajo, dan Lombok dalam satu portofolio perjalanan. Inilah yang disebut efek pengganda atau multiplier effect, di mana satu rupiah belanja wisatawan berputar beberapa kali di ekonomi lokal.
Di Sisi Lain: Risiko Sustanabilitas dan Sentimen Pasar
Di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan bahwa rekor penonton tidak otomatis menjamin keberlanjutan. Ketergantungan pada satu even besar menciptakan risiko konsentrasi. Bila kontrak penyelenggaraan tidak diperpanjang, atau bila terjadi gangguan seperti cuaca ekstrem, gejolak geopolitik, hingga pelemahan daya beli global, maka arus kunjungan bisa menurun tajam dalam waktu singkat.
Dari kacamata likuiditas dan investasi, pembangunan infrastruktur Mandalika menyerap dana besar. Rasio pengembalian investasi atau return on investment perlu diuji dengan data kunjungan di hari biasa, bukan hanya saat even. Okupansi hotel di luar minggu penyelenggaraan masih menjadi pekerjaan rumah. Tanpa strategi kalender even yang berkelanjutan, aset-aset akomodasi berisiko mengalami idle capacity atau kapasitas menganggur yang menekan margin pengusaha.
Faktor eksternal juga perlu dicermati. Sentimen pasar global terhadap negara berkembang dapat memicu capital outflow, yang pada gilirannya melemahkan nilai tukar dan menaikkan biaya perjalanan wisatawan asing. Bila rupiah terdepresiasi terlalu dalam, harga paket wisata di Indonesia bisa menjadi kurang kompetitif dibandingkan destinasi regional seperti Thailand dan Malaysia yang gencar membangun sirkuit balap bertaraf internasional.
Aspek lingkungan dan sosial juga menjadi sorotan. Lonjakan sampah, tekanan pada sumber air, serta potensi kenaikan harga properti lokal dapat memicu resistensi masyarakat bila tidak dikelola dengan tata kelola yang transparan. Valuasi lahan di sekitar kawasan diketahui mengalami kenaikan dua hingga tiga kali lipat dalam lima tahun terakhir, sebuah tren yang menguntungkan pemilik lahan tetapi menyulitkan generasi muda untuk memiliki hunian.
Proyeksi dan Fundamental ke Depan
Melihat dua sisi tersebut, proyeksi ke depan bergantung pada kemampuan mengubah kunjungan musiman menjadi aliran pendapatan yang stabil. Strategi yang lazim ditempuh adalah memperbanyak even pendukung, seperti balap nasional, festival musik, konferensi olahraga, dan wisata berbasis komunitas. Pendekatan ini menciptakan indeks kunjungan yang lebih merata sepanjang tahun.
Pada akhirnya, rekor 157.875 penonton adalah sinyal positif bagi fundamental sektor pariwisata nasional. Namun, keberlanjutan ekonomi lokal menuntut perencanaan jangka panjang, diversifikasi even, serta penguatan UMKM agar manfaat tidak bersifat sementara. Selama tata kelola dan investasi pendukung berjalan seimbang, Mandalika berpotensi menjadi model sport tourism yang berdaya saing, bukan sekadar panggung balap yang gemerlap sesaat.
Comments (0)