Oct 13, 2026
Bisnis

Mandalika 2026 dan Dorongan Ekonomi Balap Nasional

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia per kuartal III 2026, penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, kembali menjadi ...

Mandalika 2026 dan Dorongan Ekonomi Balap Nasional

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia per kuartal III 2026, penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, kembali menjadi salah satu pendorong utama kinerja ekonomi daerah. Ajang balap kelas dunia MotoGP itu tidak hanya menyita perhatian global, tetapi juga meninggalkan jejak nyata pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta industri pariwisata di kawasan tersebut.

Dampak Makro dan Serapan Tenaga Kerja

Merujuk pada data Dinas Pariwisata NTB dan catatan Bank Indonesia (BI) per Oktober 2026, penyelenggaraan event ini diperkirakan menyumbang tambahan sekitar Rp 500 miliar hingga Rp 700 miliar terhadap perputaran uang di wilayah Mandalika dan sekitarnya. Angka itu mencakup belanja wisatawan, konsumsi pelaku balap, hingga transaksi UMKM di sekitar sirkuit. Tingkat hunian hotel di kawasan Mandalika dilaporkan menembus 90 persen pada pekan balapan, naik signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang berada di kisaran 65 hingga 70 persen.

Dari sisi ketenagakerjaan, ribuan pekerja lokal dilibatkan langsung, mulai dari petugas keamanan, tenaga kebersihan, hingga pelaku usaha kuliner. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB dalam beberapa tahun terakhir memang masih relatif tertinggal dibandingkan rata-rata nasional, sehingga momentum seperti Mandalika diharapkan dapat mempersempit gap tersebut secara bertahap.

Pro dan Kontra Ekosistem Balap

"Event internasional seperti ini bukan sekadar soal balapan. Yang perlu dihitung adalah multiplier effect bagi ekonomi lokal, mulai dari UMKM hingga sektor jasa," ujar seorang ekonom dari lembaga riset independen.

Di satu sisi, para pelaku usaha dan pemerintah daerah menilai ajang ini memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem balap global sekaligus mendorong percepatan pembangunan infrastruktur di NTB. Sentimen pasar terhadap potensi wisata Mandalika pun cenderung positif, dengan munculnya minat investor pada sektor hotel, restoran, dan transportasi. Menurut data OJK, penyaluran kredit usaha kecil di wilayah NTB mengalami kenaikan year-on-year sekitar 8,5 persen pada paruh pertama 2026, sebagian dipicu oleh aktivitas ekonomi di sekitar sirkuit.

Di sisi lain, sejumlah pengamat mengingatkan soal risiko ketergantungan pada event musiman. Ketika balapan usai, geliat ekonomi sering kali merosot tajam, sehingga fundamental ekonomi lokal perlu diperkuat. Ada pula catatan soal valuasi biaya penyelenggaraan yang tinggi serta kebutuhan perawatan sirkuit yang berkelanjutan, yang berpotensi membebani anggaran jika tidak dikelola dengan portofolio investasi yang tepat.

Proyeksi dan Tantangan Likuiditas

Ke depan, keberlanjutan dampak ekonomi Mandalika sangat bergantung pada bagaimana pemangku kepentingan mengelola likuiditas dan menjaga tren kunjungan wisatawan di luar periode balapan. Capital outflow dari sektor pariwisata bisa terjadi bila rantai pasok lokal tidak diperkuat. Indeks daya saing pariwisata Indonesia pun perlu terus dijaga agar tidak hanya bergantung pada hajatan besar.

Secara keseluruhan, ajang ini menawarkan dua sisi yang harus dibaca berimbang: peluang penguatan ekonomi daerah di satu sisi, dan tantangan keberlanjutan serta efisiensi anggaran di sisi lain. Pemerintah bersama pelaku usaha diharapkan menyusun strategi jangka panjang agar efek positif ini tidak sekadar bersifat musiman, melainkan menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di Nusa Tenggara Barat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User