Suara gemuruh berat memecah kesunyian malam di kawasan lereng Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Selasa dini hari. Aktivitas vulkanis gunung api tertinggi di Pulau Jawa tersebut kembali menunjukkan peningkatan signifikan, ditandai dengan letusan eksplosif yang memicu getaran dan kepanikan warga di sejumlah desa terdekat.
Berdasarkan penelusuran tim investigasi di lapangan, fenomena dentuman dan suara gemuruh kuat tersebut terdengar jelas hingga radius lebih dari 10 kilometer dari puncak kawah Jonggring Saloko. Warga di kawasan Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro dilaporkan sempat keluar rumah untuk memantau situasi di tengah pekatnya kabut malam.
Kronologi Peningkatan Aktivitas Dini Hari
Aktivitas vulkanik Semeru terekam mengalami eskalasi bertahap sebelum letusan utama terjadi pada dini hari. Berikut rangkaian kronologi peristiwa yang berhasil dihimpun:
- Pukul 01.15 WIB: Sensor seismograf Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru di Gunung Sawur mulai merekam lonjakan gempa letusan dan hembusan beruntun.
- Pukul 02.30 WIB: Erupsi eksplosif terjadi disertai suara gemuruh pekak yang menggetarkan kaca rumah warga di lereng selatan dan tenggara.
- Pukul 03.00 WIB: Kolom asap pekat bercampur abu vulkanis teramati membubung tinggi ke udara, mengarah condong ke barat daya mengikuti pergerakan angin.
- Pukul 04.15 WIB: Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama relawan setempat mulai menyisir jalur evakuasi untuk memastikan keselamatan warga kelompok rentan.
Data Seismik dan Ancaman Guguran Lava
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat bahwa erupsi ini menghasilkan getaran seismik beramplitudo tinggi. Tekanan gas dari dalam perut gunung disinyalir menjadi pemicu timbulnya dentuman suara yang sangat keras ke permukaan.
"Gemuruh tersebut berasal dari pelepasan tekanan gas yang sangat kuat saat material magma mendesak kubah lava. Warga diimbau tetap tenang namun wajib mematuhi peta kawasan rawan bencana," tegas salah satu petugas pemantau vulkanologi.
Investigasi di zona rawan menunjukkan potensi bahaya sekunder berupa aliran lahar dingin di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak, terutama jalur Besuk Kobokan, Besuk Bang, dan Besuk Kembar. Ancaman ini kian meningkat mengingat curah hujan di kawasan puncak masih fluktuatif.
Rekomendasi dan Langkah Mitigasi Darurat
Menyikapi peningkatan aktivitas ini, otoritas kebencanaan memberlakukan pembatasan aktivitas ketat bagi masyarakat dan wisatawan:
- Tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari pusat erupsi.
- Menjauhi area sempadan sungai pada jarak 500 meter di sepanjang bantaran sungai karena berpotensi terlanda perluasan awan panas guguran.
- Mewaspadai radius 5 kilometer dari kawah aktif guna menghindari ancaman lontaran batu pijar.
- Masyarakat diimbau selalu mengenakan masker pelindung pernapasan untuk mengantisipasi paparan abu vulkanis.
Hingga laporan ini diturunkan, status Gunung Semeru masih bertahan pada level siaga. Koordinasi lintas sektor antara PVMBG, BPBD Kabupaten Lumajang, dan aparat keamanan terus diperketat untuk memitigasi risiko terburuk jika erupsi susulan dengan intensitas lebih besar kembali terjadi.
Comments (0)