Oct 08, 2026
Bisnis

LPS: 52 Persen Gen-Z Pilih Judi Bola Dibanding Investasi

Berdasarkan temuan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang dipaparkan dalam seminar Campus to Community bertema literasi keuangan di Universitas Pamulang, sebanyak 52 persen responden dari kalangan Gen-Z...

LPS: 52 Persen Gen-Z Pilih Judi Bola Dibanding Investasi

Berdasarkan temuan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang dipaparkan dalam seminar Campus to Community bertema literasi keuangan di Universitas Pamulang, sebanyak 52 persen responden dari kalangan Gen-Z mengaku lebih tertarik menempatkan dana pada judi bola ketimbang instrumen investasi formal. Angka ini menjadi sinyal mengkhawatirkan di tengah upaya memperluas basis investor ritel domestik yang selama ini menjadi penopang likuiditas pasar keuangan Indonesia.

Temuan tersebut muncul saat LPS bersama sejumlah mitra menggelar program edukasi bertema "Kampus sebagai Penggerak Literasi Keuangan bagi Masyarakat Unbanked". Kegiatan dihelat di lingkungan kampus Universitas Pamulang dan menyasar mahasiswa sebagai segmen yang paling rentan terhadap paparan produk keuangan berisiko tinggi, termasuk judi daring yang belakangan marak di ruang digital.

Skala Masalah dan Konteks Makro

Jika merujuk data BPS dan Bank Indonesia per akhir 2023, jumlah penduduk usia produktif 15-29 tahun mencapai lebih dari 65 juta jiwa, atau sekitar seperempat total populasi nasional. Survei OJK menempatkan indeks literasi keuangan nasional pada level 65,43 persen (SNLIK 2024), namun inklusi keuangan justru jauh lebih tinggi yakni 75,02 persen. Artinya, masyarakat semakin banyak mengakses produk keuangan, tetapi pemahaman terhadap risiko masih tertinggal. Kesenjangan inilah yang menjadi lahan subur praktik spekulatif seperti judi bola daring.

Di satu sisi, tren ini menggambarkan preferensi generasi muda terhadap instrumen berimbal hasil cepat, mudah diakses melalui aplikasi ponsel, dan minim persyaratan administratif. Judi bola menawarkan sensasi volatilitas harian yang menyerupai perilaku trading, dengan faktor adrenalin yang jauh lebih besar dibanding reksa dana atau deposito yang bergerak lambat. Platform judi daring juga kerap menyamarkan diri sebagai layanan "investasi alternatif" sehingga sulit dibedakan oleh pengguna awam.

Di sisi lain, kelompok yang sama sebenarnya merupakan target utama pasar modal. Data KSEI menunjukkan investor ritel pasar modal didominasi usia di bawah 30 tahun, dengan proporsi mencapai sekitar 55 persen dari total single investor identification (SID). Ini menandakan Gen-Z tidak menolak investasi secara prinsip, melainkan tersedot ke kanal yang salah karena keterbatasan panduan dan tingginya iming-iming iklan digital.

Fundamental Ekonomi dan Daya Beli Gen-Z

Dari perspektif makro, pendapatan rata-rata kelompok muda baru lulusan perguruan tinggi berkisar pada rentang Rp4 juta hingga Rp6 juta per bulan, dengan rasio tabungan yang tipikal rendah. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kisaran 5,0-5,2 persen year-on-year sepanjang 2024 memang terlihat solid, tetapi tidak otomatis melebar ke kantong generasi muda yang menghadapi beban cicilan, biaya hidup perkotaan, dan ketidakpastian kerja. Dalam kondisi seperti ini, iming-iming keuntungan instan dari judi bola menjadi daya tarik irasional yang sulit dibendung dengan sekadar kampanye "investasi sejak dini".

Yayasan yang mengamati literasi keuangan menilai bahwa perilaku ini juga dipengaruhi oleh sentimen pasar dan budaya impulsif di media sosial. Di sisi portofolio, produk seperti reksa dana pasar uang menawarkan imbal hasil sekitar 4-5 persen per tahun, sementara judi bola menawarkan janji keuntungan berlipat ganda dalam hitungan jam. Selisih ini, secara psikologis, membuat investasi konvensional tampak lambat dan tidak menarik.

Risiko Capital Outflow dan Stabilitas

Dampak lebih lanjut menyentuh stabilitas sistem keuangan. Aliran dana ke kanal judi daring berpotensi setara dengan puluhan triliun rupiah per tahun berdasarkan estimasi PPATK. Jika dana yang seharusnya masuk ke sistem keuangan formal justru bocor ke platform ilegal, maka potensi likuiditas di perbankan dan pasar modal mengalami penurunan. Pada saat yang sama, risiko capital outflow dari investor asing yang sensitif terhadap sentimen pasar domestik dapat memperbesar tekanan pada nilai tukar dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).

Namun perlu dicatat, temuan 52 persen ini bukan tanpa catatan metodologis. Sampel terbatas di satu kampus tidak bisa digeneralisasi ke seluruh Gen-Z Indonesia. Bisa jadi angka tersebut mencerminkan kerentanan spesifik komunitas kampus tertentu, bukan tren nasional. Justru inilah pentingnya memperkuat edukasi berbasis kampus dengan kurikulum praktis: pengenalan profil risiko, valuasi aset sederhana, hingga simulasi portofolio dengan nominal kecil.

Kesimpulannya, angka 52 persen itu adalah alarm, bukan vonis. Selama indeks literasi keuangan belum naik signifikan dan penegakan hukum terhadap platform judi daring belum konsisten, preferensi irasional ini berpotensi bertahan. Kolaborasi antara lembaga penjamin, otoritas jasa keuangan, kampus, dan pelaku industri menjadi kunci agar dana masyarakat kembali ke kanal investasi yang produktif dan terukur, bukan ke meja taruhan yang tak terproteksi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User