LONDON, Beritadua.com — Mantan Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, melontarkan klaim yang berpotensi mengguncang arah kebijakan ekonomi Negeri Raja Charles itu: setiap rumah tangga di Inggris Raya bisa lebih kaya hingga £5.000 (sekitar Rp100 juta) per tahun apabila negara tersebut serius menempatkan inovasi sebagai jantung kebijakan pemerintah. Pernyataan itu disampaikan Brown di tengah gelombang diskusi tentang masa depan industri Inggris yang dinilai mulai kehilangan momentum.
Brown tidak berbicara dalam ruang hampa. Ia menyoroti satu paradoks yang sudah lama mengakar: Inggris memiliki cadangan aset intelektual yang luar biasa besar, tetapi justru gagal mengubah perusahaan-perusahaan kecil berbasis riset menjadi kisah sukses global. Kegagalan itu, menurutnya, bukan soal kurangnya bakat, melainkan soal arah kebijakan.
Dekade Terobosan Sains Terbesar dalam Seabad
Dalam pandangan Brown, sepuluh tahun ke depan hampir pasti menjadi dekade yang melahirkan terobosan ilmiah terbesar dalam satu abad terakhir. Ia menyebut tiga medan tempur utama: kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, dan biologi.
Pertanyaan yang ia ajukan bersifat mendasar sekaligus brutal. Bisakah kemajuan itu dipakai untuk menaklukkan kanker, menemukan cara mengobati atau mencegah demensia, serta mengatasi lonjakan resistensi terhadap antibiotik yang kini dilaporkan meningkat tajam di rumah-rumah sakit di berbagai negara? Bisakah umat manusia menemukan cara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan energi sekaligus melindungi lingkungan? Bisakah AI mengubah cara layanan pendidikan, kesehatan, dan perawatan sosial diberikan kepada jutaan orang tanpa mengorbankan kekuatan manufaktur modern?
"Kita punya cadangan aset yang dalam, tetapi kita kesulitan mengubah perusahaan kecil menjadi kisah sukses global. Inovasi harus berada di jantung kebijakan pemerintah." — Gordon Brown, PM Inggris 2007–2010
Aset Melimpah, Komersialisasi Tertinggal
Data yang dipaparkan Brown menunjukkan bahwa klaimnya bukan retorika kosong. Inggris menampung empat dari 10 universitas terbaik dunia dan 16 dari 100 universitas terbaik global. Lima di antaranya masuk jajaran 10 teratas Eropa untuk urusan spin-out — perusahaan rintisan yang dibangun dari kekayaan intelektual hasil riset kampus.
Yang lebih mengejutkan, dengan populasi kurang dari 1 persen penduduk dunia, Inggris memproduksi sekitar 6 persen makalah riset global, hampir 9 persen sitasi, dan 12 persen riset paling banyak dikutip di dunia. Artinya, mesin pengetahuan Inggris berjalan jauh di atas kapasitas relatifnya.
Namun di titik itulah masalahnya muncul. Amerika Serikat dan Tiongkok tetap menjadi pusat kekuatan inovasi dunia yang paling kasat mata. Inggris, dengan semua kampus kelas dunianya, kerap kehilangan nilai tambah ketika riset harus berpindah dari laboratorium ke pasar.
Seruan di Panggung Konferensi Manchester
Isu ini menjadi tema sentral Konferensi Innovation Nation di Manchester, forum yang turut disapa oleh sosok yang lama menjadi wajah kawasan itu, Andy Burnham, dan disebut-sebut sebagai panggung tempat para penemu, investor, serta industrialis Inggris bertemu.
Pertanyaan politik utamanya jelas: peran apa yang bisa dimainkan Inggris dalam mengembangkan teknologi-teknologi transformatif ini, tanpa sekadar menjadi pemasok riset murah bagi korporasi asing?
- Masalah struktural: ekosistem pendanaan yang enggan mengambil risiko jangka panjang pada perusahaan teknologi tahap awal.
- Peluang: AI, komputasi kuantum, dan bioteknologi membuka pasar baru bernilai triliunan dolar.
- Taruhan sosial: demensia, kanker, dan resistensi antibiotik adalah beban fiskal yang tak bisa diabaikan.
- Rekomendasi Brown: inovasi harus dilembagakan dalam kebijakan pemerintah, bukan diserahkan pada mekanisme pasar semata.
Taruhan Ekonomi yang Tak Bisa Ditunda
Angka £5.000 per rumah tangga adalah cara Brown menerjemahkan jargon inovasi menjadi bahasa dapur. Ia ingin publik memahami bahwa kebijakan sains bukan urusan elite laboratorium, melainkan menyangkut daya beli keluarga, kualitas layanan kesehatan, dan keberlanjutan energi.
Namun jalan menuju ke sana tidak mulus. Tanpa reformasi pendanaan, insentif pajak untuk riset terapan, dan strategi pengadaan negara yang berpihak pada perusahaan lokal, Inggris berisiko kembali mengulang pola lama: melahirkan ide besar, lalu menonton negara lain memanen keuntungannya.
Brown sendiri menutup argumennya dengan nada peringatan. Dekade ini, katanya, adalah jendela yang tidak akan terbuka dua kali. Jika inovasi tidak dijadikan pusat kebijakan sekarang, Inggris bukan hanya kehilangan £5.000 per rumah tangga — ia kehilangan dekade.
Comments (0)