Sep 11, 2026
Nasional

Lombok — Pakar Unram Desak Rekonstruksi Kampung Sade Bertumpu Tiga Pilar

Kampung Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, kini menghadapi persimpangan jalan antara mempertahankan keaslian tradisi dan

Lombok — Pakar Unram Desak Rekonstruksi Kampung Sade Bertumpu Tiga Pilar

Kampung Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, kini menghadapi persimpangan jalan antara mempertahankan keaslian tradisi dan tuntutan modernisasi yang kian mendesak. Di tengah ancaman kerentanan fisik bangunan tradisional dan pesatnya pertumbuhan pariwisata kawasan Mandalika, pembenahan kawasan bernilai sejarah ini tidak lagi bisa dilakukan secara asal-asalan. Pakar Komunikasi Pembangunan Universitas Mataram (Unram), Agus Purbathin Hadi, menegaskan bahwa rekonstruksi pemukiman otentik Suku Sasak tersebut harus diletakkan di atas tiga pilar utama agar tidak merusak tatanan sosial dan identitas budaya warga setempat.

Kerentanan Infrastruktur dan Tantangan Preservasi

Kampung Sade berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 2 hektare dengan memuat sekitar 150 bangunan tradisional yang dihuni oleh puluhan kepala keluarga secara turun-temurun. Bangunan beratap atap alang-alang, berdinding anyaman bambu, serta berlantai campuran tanah dan kotoran kerbau merupakan daya tarik utama pariwisata Lombok. Namun, karakteristik material alami ini menyimpan potensi risiko kebakaran dan pelapukan struktur yang amat tinggi. Investigasi di lapangan menunjukkan bahwa kerapatan antarrumah yang sangat tinggi—dengan jarak hanya berkisar 0,5 hingga 1 meter—menjadikan kawasan adat ini sangat rentan terhadap bencana kebakaran beruntun.

Tiga Pilar Rekonstruksi Berkelanjutan

Mengutip kajian mendalam dari Universitas Mataram, tata ulang Kampung Adat Sade harus bertumpu pada formula terintegrasi. "Rekonstruksi bukan sekadar membangun kembali fisik yang rusak atau mempercantik tampilan luar, melainkan merawat interaksi sosial dan kearifan lokal yang ada di dalamnya," ujar Agus Purbathin Hadi dalam rekomendasinya. Tiga pilar utama yang diusulkan meliputi:

  • Pilar Kelestarian Budaya (Authenticity): Menjamin bahwa setiap proses pemugaran material tetap menggunakan teknik arsitektur tradisional Suku Sasak tanpa kompromi estetika demi kepentingan komersial belaka.
  • Pilar Ketahanan Bencana (Resilience):** Mengintegrasikan teknologi mitigasi modern, seperti instalasi hidran pemadam tersembunyi dan penataan jalur evakuasi tanpa merusak wujud visual cagar budaya.
  • Pilar Kesejahteraan Ekonomi Lokal (Sustainability):** Memastikan arus pendapatan dari pariwisata mengalir secara adil dan langsung kepada warga lokal, bukan hanya dinikmati oleh pihak ketiga atau investor luar.

Perbandingan Pendekatan Rekonstruksi Kampung Adat

Untuk memahami pentingnya terobosan ini, berikut perbandingan antara pendekatan pemugaran fisik konvensional dengan model tiga pilar berkelanjutan:

Aspek Penilaian Pendekatan Fisik Konvensional Pendekatan Tiga Pilar Berkelanjutan
Fokus Utama Perbaikan visual & kosmetik fisik Integrasi budaya, keselamatan, & ekonomi
Keterlibatan Warga Objek / Penonton pembangunan Subjek aktif (Komunikasi Partisipatif)
Mitigasi Bencana Minim dan sering diabaikan Sistem pengaman tersembunyi & tanggap darurat
Dampak Ekonomi Terpusat pada pengembang luar Retensi nilai ekonomi untuk komunitas lokal

Langkah Strategis Rekonstruksi Kawasan

Untuk mengimplementasikan rekomendasi tersebut secara konkret, pemerintah daerah bersama Lembaga Adat disarankan menempuh tahapan sistematis berikut:

  1. Melakukan pemetaan risiko fisik dan pemutakhiran data kondisi struktur 150 bangunan yang terancam lapuk.
  2. Menggelar musyawarah warga berbasis komunikasi partisipatif (*paruga*) untuk menyepakati batas-batas modifikasi teknologi keselamatan.
  3. Membangun jaringan pemadam kebakaran terselubung yang disamarkan menggunakan elemen arsitektur lokal.
  4. Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) pengelolaan kunjungan wisatawan agar tidak melebihi daya dukung lingkungan (*carrying capacity*).
"Keberhasilan rekonstruksi Kampung Adat Sade akan menjadi tolok ukur nasional bagaimana kawasan cagar budaya dikelola secara modern tanpa kehilangan roh tradisionalnya," tegas Agus Purbathin Hadi.

Di tengah makin masifnya pertumbuhan infrastruktur di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang berjarak hanya sekitar 8 kilometer dari lokasi, perlindungan terhadap Kampung Sade menjadi krusial. Kegagalan merencanakan rekonstruksi yang inklusif tidak hanya mengancam kelestarian cagar budaya Suku Sasak, tetapi juga berpotensi mengeliminasi daya tarik otentik destinasi wisata Nusa Tenggara Barat di mata dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User