Oct 10, 2026
Bisnis

Literasi Keuangan di Pulau Pari Dorong Ekonomi Biru Berkelanjutan

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Bank Indonesia per Oktober 2026, sektor ekonomi biru menyumbang sekitar 7,5 persen dari Produk Domestik Bruto nasional, dengan proyeksi pertum...

Literasi Keuangan di Pulau Pari Dorong Ekonomi Biru Berkelanjutan

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Bank Indonesia per Oktober 2026, sektor ekonomi biru menyumbang sekitar 7,5 persen dari Produk Domestik Bruto nasional, dengan proyeksi pertumbuhan year-on-year mencapai 6,2 persen pada akhir tahun. Angka ini menempatkan ekonomi kelautan sebagai salah satu pilar fundamental dalam diversifikasi sumber pertumbuhan, terutama di tengah tren perlambatan ekonomi global dan sentimen pasar yang masih dibayangi ketidakpastian suku bunga. Di sisi lain, indeks inklusi keuangan masyarakat pesisir masih tertinggal jauh dibandingkan rata-rata nasional, sebuah paradoks yang menjadi fokus berbagai inisiatif kolaboratif, termasuk program literasi keuangan terbaru yang menyasar komunitas perempuan di kawasan Pulau Pari.

Mengapa Literasi Keuangan Penting bagi Ekonomi Biru

Ekonomi biru adalah istilah yang merujuk pada pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi, mencakup sektor perikanan, pariwisata bahari, energi terbarukan, dan transportasi laut. Tantangan utamanya bukan semata pada potensi sumber daya, melainkan pada kapasitas pelaku usaha kecil di wilayah pesisir untuk mengelola keuangan secara sehat. Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan indeks literasi keuangan nasional berada di level 65,43 persen pada 2024, namun untuk wilayah kepulauan angka tersebut diperkirakan lebih rendah, sekitar 48 hingga 52 persen. Kesenjangan ini membuat pelaku usaha mikro pesisir rentan terhadap jeratan pinjaman informal dengan bunga tinggi.

Di satu sisi, penguatan literasi keuangan membuka akses terhadap layanan perbankan formal, memungkinkan pelaku usaha memiliki portofolio tabungan yang lebih terstruktur, serta meningkatkan kapasitas pengelolaan arus kas. Di sisi lain, keterbatasan infrastruktur digital dan jangkauan layanan perbankan di pulau-pulau kecil menjadi hambatan struktural yang tidak bisa diselesaikan hanya melalui edukasi.

Pro dan Kontra Program Literasi Berbasis Komunitas

Pro: Program yang menyasar perempuan pesisir memiliki efek berganda terhadap ekonomi rumah tangga. Berbagai studi Bank Dunia mencatat bahwa setiap kenaikan 10 persen inklusi keuangan perempuan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga hingga 3 persen. Perempuan yang mengelola keuangan rumah tangga cenderung mengalokasikan dana untuk pendidikan anak dan kesehatan, sehingga dampaknya bersifat jangka panjang. Kolaborasi antara lembaga keuangan dan organisasi lingkungan menjadi model yang menarik karena menggabungkan dua agenda sekaligus, yakni restorasi ekosistem dan pemberdayaan ekonomi.

Kontra: Program literasi keuangan kerap dikritik karena berhenti pada tahap edukasi tanpa disertai akses modal yang memadai. Tanpa produk pembiayaan yang sesuai kebutuhan nelayan kecil dan pelaku wisata bahari, pemahaman finansial tidak otomatis berubah menjadi kenaikan pendapatan. Selain itu, risiko komersialisasi kawasan pesisir menjadi perhatian, karena masuknya layanan keuangan dapat mendorong aktivitas ekonomi yang tidak selaras dengan daya dukung lingkungan laut.

"Restorasi lingkungan dan literasi keuangan harus berjalan seiring, karena keduanya menentukan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat pesisir," ujar seorang perwakilan yayasan konservasi laut dalam peluncuran program tersebut.

Implikasi terhadap Fundamental Sektor Pesisir

Dari kacamata makro, inisiatif semacam ini berpotensi memperbaiki likuiditas rumah tangga di wilayah pesisir dan mengurangi ketergantungan pada rentenir. Jika berhasil direplikasi ke sejumlah pulau lain, dampaknya terhadap rasio inklusi keuangan nasional bisa cukup signifikan. Namun, valuasi dampak ekonomi biru tetap bergantung pada kualitas ekosistem laut itu sendiri. Kerusakan terumbu karang dan penurunan populasi ikan akan menggerus pendapatan utama masyarakat, terlepas dari sebaik apa pengelolaan keuangannya.

Proyeksi jangka menengah menunjukkan bahwa program berbasis komunitas hanya akan berkelanjutan jika terhubung dengan rantai nilai yang lebih besar, misalnya pasar hasil laut bersertifikat atau paket wisata berbasis konservasi. Tanpa itu, program berisiko menjadi kegiatan seremonial tanpa efek struktural. Sentimen pasar terhadap sektor keuangan yang menyasar segmen mikro juga relatif positif, seiring meningkatnya kesadaran investor terhadap kriteria lingkungan, sosial, dan tata kelola.

Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi biru tidak cukup diukur dari pertumbuhan nominal, melainkan dari seberapa merata manfaatnya dirasakan hingga pulau-pulau kecil. Kombinasi literasi keuangan, akses modal, dan konservasi ekosistem menjadi trio yang harus berjalan paralel. Tanpa keseimbangan tersebut, target pertumbuhan ekonomi biru 6,2 persen hanya akan menjadi angka di atas kertas, sementara masyarakat pesisir tetap menghadapi ketidakpastian penghidupan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User