Literasi dan Numerasi Fondasi Daya Saing: DPN Apresiasi Langkah Kemendikdasmen
Dewan Pendidikan Nasional (DPN) memberikan apresiasi tinggi terhadap kebijakan strategis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang menempatkan literasi dan numerasi sebagai dua k...
Dewan Pendidikan Nasional (DPN) memberikan apresiasi tinggi terhadap kebijakan strategis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang menempatkan literasi dan numerasi sebagai dua kompetensi fundamental dalam sistem pendidikan Indonesia. Langkah ini dinilai krusial untuk membangun sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing global.
Dalam beberapa tahun terakhir, potret kemampuan literasi dan numerasi pelajar Indonesia masih memprihatinkan. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan skor membaca siswa Indonesia rata-rata 359, atau turun 12 poin dari edisi sebelumnya. Sementara untuk matematika, skor mencapai 366, menurun 13 poin. Meski peringkat Indonesia naik beberapa posisi, capaian ini masih jauh dari rata-rata negara OECD. Data tersebut mengonfirmasi perlunya akselerasi program peningkatan literasi dan numerasi secara sistematis.
Mengapa Literasi dan Numerasi Menjadi Fondasi Kompetensi?
Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan kecakapan untuk memahami, mengevaluasi, dan merefleksikan teks guna mencapai tujuan, mengembangkan pengetahuan, serta berpartisipasi dalam masyarakat. Numerasi pun serupa, mencakup kemampuan bernalar secara matematis dalam memecahkan masalah sehari-hari. Keduanya menjadi prasyarat untuk menguasai disiplin ilmu lain dan mengembangkan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.
DPN menegaskan, tanpa fondasi literasi dan numerasi yang kokoh, sulit bagi siswa untuk memahami konsep sains, teknologi, atau bahkan isu-isu sosial yang kompleks. Oleh karena itu, kebijakan Kemendikdasmen yang menjadikan dua kompetensi ini sebagai fokus utama mendapat dukungan penuh. “Kami melihat komitmen pemerintah untuk mengembalikan esensi pendidikan dasar sebagai pembangun kecakapan fundamental. Ini adalah langkah visioner yang akan menentukan daya saing bangsa di masa depan,” ujar seorang perwakilan DPN dalam sebuah diskusi terbatas.
Tantangan Rendahnya Literasi-Numerasi dan Implikasinya
Berbagai survei domestik seperti Asesmen Nasional (AN) yang dilaksanakan Kemendikbudristek sebelumnya juga memperlihatkan bahwa proporsi siswa dengan kemampuan literasi dan numerasi di atas minimum masih rendah, terutama di wilayah 3T (terdepan, terpencil, tertinggal). Ketimpangan akses terhadap bahan bacaan berkualitas, keterbatasan guru yang terlatih, dan rendahnya budaya membaca di rumah menjadi faktor penyebab yang berkelindan.
Rendahnya literasi-numerasi berdampak langsung pada produktivitas tenaga kerja dan indeks pembangunan manusia. Bank Dunia dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Desember 2022 menyoroti bahwa learning poverty di Indonesia—persentase anak usia 10 tahun yang tidak bisa membaca dan memahami teks sederhana—mencapai 53% sebelum pandemi, dan diperkirakan meningkat akibat learning loss selama pandemi. Situasi ini mengancam bonus demografi jika tidak segera diintervensi.
Strategi Kemendikdasmen dan Peran Gerakan Nasional
Kemendikdasmen di bawah nomenklatur baru telah merancang berbagai program untuk menguatkan literasi dan numerasi. Di antaranya adalah penyederhanaan kurikulum dengan penekanan pada pembelajaran terdiferensiasi sesuai level kemampuan siswa, penguatan pelatihan guru melalui platform Merdeka Mengajar, serta distribusi buku bacaan bermutu hingga ke pelosok. Gerakan Nasional Literasi dan Numerasi yang didorong DPN bertujuan untuk menyatukan gerak semua pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat, daerah, sekolah, komunitas literasi, dunia usaha, hingga keluarga.
“Gerakan ini bukan hanya tanggung jawab sekolah. Orang tua harus menjadi teladan membaca, perpustakaan desa harus dihidupkan, dan dunia industri dapat berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan,” tegas pernyataan DPN. Sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuhnya budaya literasi dan numerasi.
Salah satu inisiatif yang tengah dirumuskan adalah pengintegrasian literasi baca tulis dan numerasi ke dalam aktivitas kokurikuler secara lebih terstruktur, serta pemanfaatan teknologi digital untuk menjangkau daerah-daerah sulit. Pendekatan berbasis teknologi diharapkan mampu mempercepat peningkatan skor PISA Indonesia yang ditargetkan mencapai 400 pada tahun 2030.
Harapan ke Depan: Membangun Daya Saing Bangsa
Dengan menempatkan literasi dan numerasi sebagai kompetensi fundamental, Indonesia sedang membangun fondasi bagi transformasi ekonomi berbasis pengetahuan. DPN optimistis, gerakan nasional yang massif dan berkelanjutan dapat mengubah wajah pendidikan Indonesia. Namun, perlu komitmen politik yang stabil, alokasi anggaran pendidikan yang tepat sasaran, serta monitoring dan evaluasi yang transparan.
Pada akhirnya, investasi pada literasi dan numerasi adalah investasi pada kemandirian dan kemajuan bangsa. Seperti yang diyakini DPN, “Anak-anak yang literat dan numerat akan tumbuh menjadi warga negara yang mampu bernalar jernih, mengambil keputusan tepat, dan berkontribusi nyata dalam pembangunan. Inilah jalan untuk memperkokoh daya saing Indonesia di panggung global.”
Baca juga:
Comments (0)