Lima Tips Emas untuk Perintis dari Direktur Utama BRI

Yogyakarta – Jogja Financial Festival yang berlangsung baru-baru ini bukan sekadar ajang pamer produk keuangan, melainkan juga ruang inspirasi bagi para calon pengusaha. Dalam salah satu sesi, Direk...

Lima Tips Emas untuk Perintis dari Direktur Utama BRI

Yogyakarta – Jogja Financial Festival yang berlangsung baru-baru ini bukan sekadar ajang pamer produk keuangan, melainkan juga ruang inspirasi bagi para calon pengusaha. Dalam salah satu sesi, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, hadir dan membagikan lima strategi fundamental untuk memulai usaha. Dengan gaya komunikasi yang lugas, ia menegaskan bahwa berwirausaha bukan melulu soal ketersediaan modal. Lebih dari itu, dibutuhkan kecermatan memilih jenis bisnis, pengelolaan keuangan yang disiplin, serta keberanian memanfaatkan ekosistem digital. Lima strategi tersebut dirangkai dari pengalaman BRI mendampingi puluhan juta pelaku UMKM di seluruh Indonesia. Berikut uraiannya.

Mulai dari Bisnis dengan Hambatan Masuk Rendah

Hery Gunardi menekankan pentingnya memilih model usaha yang tidak mensyaratkan investasi alat berat, keahlian langka, atau perizinan yang rumit. Konsep hambatan masuk rendah ini menjadi kunci agar risiko awal dapat ditekan seminimal mungkin. Sebagai contoh, menjual makanan ringan kemasan, membuka jasa laundry kiloan, atau menjadi reseller produk digital hanya membutuhkan modal ratusan ribu hingga jutaan rupiah. “Jangan terpaku pada bisnis yang tampak prestisius tetapi memerlukan dana besar di depan. Mulailah dari yang sederhana, asalkan permintaan pasarnya jelas,” paparnya. Pendekatan ini membuat calon pengusaha lebih lincah mengatur arus kas di bulan-bulan pertama dan tidak terjerat utang konsumtif. Dengan struktur biaya yang ramping, ketika omzet belum stabil, pelaku usaha tetap bisa bernapas tanpa tekanan beban tetap yang tinggi.

Uji Pasar dengan Skala Terkecil

Tips kedua yang dibagikan adalah validasi ide menggunakan metode minimum viable product. Sebelum memproduksi dalam jumlah besar atau menyewa tempat permanen, calon pengusaha dianjurkan merilis versi percobaan dari produk atau jasanya. Bisa melalui lapak kecil di depan rumah, sistem pre-order di grup media sosial, atau menitipkan barang ke warung tetangga. Tujuannya untuk memperoleh umpan balik nyata dari konsumen: apakah harga sudah pas, kemasan menarik, dan rasa atau fungsi diterima. Berdasarkan data internal BRI dari program inkubasi, bisnis yang melalui tahap uji pasar memiliki tingkat keberlangsungan 30 persen lebih tinggi dalam dua tahun pertama. Dengan demikian, risiko kerugian besar akibat stok yang tidak laku atau investasi peralatan yang salah sasaran bisa dihindari.

Pisahkan Uang Bisnis dan Uang Pribadi

Manajemen keuangan menjadi sorotan utama dalam sesi tersebut. Direktur Utama BRI itu secara tegas menyatakan bahwa pengusaha pemula wajib memisahkan aliran dana usaha dari kas pribadi. Praktik mencampur keuangan, meskipun lazim terjadi pada usaha mikro, justru menjadi penyebab utama sulitnya mengukur laba sebenarnya. Ia menyarankan untuk membuka rekening khusus bisnis, bahkan jika usahanya masih beromzet kecil. Bank seperti BRI menyediakan produk tabungan usaha dengan setoran awal ringan dan fitur auto-debet untuk cicilan pinjaman. “Kalau uangnya tercampur, Anda tidak pernah tahu apakah bisnis ini benar-benar untung atau justru ditutupi oleh suntikan dari gaji bulanan,” katanya. Pemisahan ini juga memudahkan saat akan mengajukan kredit produktif ke lembaga keuangan formal karena pembukuan menjadi lebih transparan.

Catat Arus Kas Harian Walau Sederhana

Masih dalam kerangka disiplin finansial, Hery Gunardi mendorong para perintis untuk membiasakan pencatatan setiap transaksi. Tidak perlu sistem akuntansi yang rumit; buku tulis, spreadsheet, atau aplikasi gratis di ponsel sudah memadai. Poin penting yang harus direkam adalah uang masuk, uang keluar untuk bahan baku, biaya operasional, dan selisihnya. Dalam skala nasional, survei BRI menunjukkan bahwa hanya 2 dari 10 usaha mikro yang tertib mencatat arus kas. Padahal, kebiasaan ini membuat pengusaha bisa mendeteksi pemborosan, memutuskan kapan harus menambah produksi, serta mengetahui kapan boleh mengambil keuntungan tanpa mengorbankan modal kerja. Bank pelat merah ini bahkan menggandeng komunitas untuk memberikan pelatihan pembukuan sederhana secara cuma-cuma di berbagai daerah.

Manfaatkan Ekosistem Digital untuk Pemasaran dan Operasional

Strategi kelima merupakan refleksi dari masifnya penetrasi internet di Indonesia. Bos BRI mengingatkan bahwa platform digital kini bukan lagi pelengkap, melainkan saluran utama bagi perintis usaha. Mulai dari sistem pembayaran digital melalui QRIS yang memangkas ketergantungan pada uang tunai, hingga pemasaran via media sosial seperti WhatsApp Business dan TikTok Shop yang bisa menjangkau konsumen tanpa batas geografis. Ia juga mencontohkan bagaimana fitur e-katalog dan Belanja di platform dagang elektronik mampu menghubungkan produk usaha kecil dengan pasar yang jauh lebih luas. “Saat ini, penjual cilok di pinggir jalan pun bisa menerima transfer dari pembeli tanpa perlu uang pas,” ujarnya. Bank seperti BRI juga menyediakan super app yang memungkinkan pengusaha mengelola logistik, pembayaran, hingga pelaporan keuangan dalam satu genggaman.

Kelima jurus tersebut dirancang agar dapat langsung diterapkan, bahkan oleh individu yang sama sekali belum memiliki pengalaman bisnis. Dengan berfokus pada hambatan masuk rendah, validasi pasar, pemisahan keuangan, pencatatan arus kas, dan pemanfaatan teknologi, pelaku usaha baru diharapkan mampu membangun fondasi yang kokoh. Pada akhirnya, dukungan institusi perbankan seperti BRI tinggal menunggu inisiatif para perintis untuk memulai langkah pertama secara disiplin.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User