Lima Saham Jadi Sorotan Analis: BMRI, BBNI, MDKA, ADMR, UNVR

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) per awal pekan ini, suku bunga acuan BI Rate bertahan di level 6,00 persen, sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi year-on-year sebesar 2,13 persen...

Aug 07, 2026 - 07:25
0 0
Lima Saham Jadi Sorotan Analis: BMRI, BBNI, MDKA, ADMR, UNVR

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) per awal pekan ini, suku bunga acuan BI Rate bertahan di level 6,00 persen, sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi year-on-year sebesar 2,13 persen. Di tengah bauran data makro tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di kisaran 7.200–7.300 dengan nilai tukar rupiah sekitar Rp16.200 per dolar AS. Sejumlah analis pasar modal menyoroti lima emiten yang dinilai layak dipantau pelaku pasar, yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Perlu ditegaskan, sorotan tersebut bukan rekomendasi beli, melainkan potret sentimen pasar terkini.

Perbankan: Fundamental BMRI dan BBNI di Tengah Likuiditas Ketat

Di satu sisi, fundamental sektor perbankan nasional masih solid. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan pertumbuhan kredit perbankan sekitar 10–11 persen year-on-year, dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL, yakni perbandingan kredit macet terhadap total kredit) terjaga di bawah 3 persen. BMRI membukukan laba bersih di atas Rp50 triliun pada 2024, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, sementara BBNI menopang kinerja melalui segmen korporasi dan bisnis internasional. Dari sisi valuasi, rasio harga terhadap nilai buku (price to book value/PBV) keduanya berada di kisaran 1,8–2,2 kali, masih di bawah rata-rata lima tahun terakhir.

Di sisi lain, suku bunga acuan yang tinggi berpotensi menekan margin bunga bersih (net interest margin/NIM), yaitu selisih antara pendapatan bunga dan biaya dana. Persaingan merebut dana pihak ketiga membuat biaya dana (cost of fund) berisiko mengalami kenaikan. Jika likuiditas rupiah tetap ketat, ruang ekspansi kredit kedua bank bisa menyempit pada semester berjalan.

"Perbankan berkapitalisasi besar masih menjadi jangkar portofolio karena arus kasnya stabil, tetapi investor perlu mencermati tren biaya dana dan potensi perlambatan permintaan kredit," ujar Kepala Riset salah satu sekuritas domestik.

Tambang: MDKA dan ADMR Bertumpu pada Arah Harga Komoditas

Untuk sektor tambang, MDKA diuntungkan oleh tren harga tembaga yang bertahan di atas USD9.500 per ton dan harga emas yang sempat menembus USD2.600 per ons troi. Pro: permintaan tembaga global diproyeksikan tumbuh seiring transisi energi dan adopsi kendaraan listrik. Kontra: perseroan masih menanggung belanja modal (capital expenditure/capex) besar untuk proyek hilirisasi, sehingga arus kas bebas relatif tipis dan sangat sensitif terhadap perubahan harga komoditas.

Adapun ADMR, yang bergerak di segmen batu bara metalurgi untuk industri baja, mencatat volume penjualan yang mengalami kenaikan dua digit dibandingkan tahun lalu. Namun, harga batu bara metalurgi telah turun jauh dari puncak 2022 yang menembus USD600 per ton ke kisaran USD200 per ton. Artinya, kenaikan volume belum tentu berbanding lurus dengan kenaikan laba bila harga jual rata-rata terus melemah.

Konsumer: UNVR antara Valuasi Murah dan Tantangan Daya Beli

UNVR merepresentasikan sisi defensif pasar. Setelah beberapa tahun mengalami penurunan penjualan, valuasi saham emiten barang konsumsi ini terkoreksi tajam: rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/PER) kini di kisaran 20 kali, jauh di bawah rata-rata historis di atas 40 kali. Imbal hasil dividen (dividend yield) sekitar 4–5 persen menjadi daya tarik bagi investor yang mengutamakan pendapatan pasif. Di sisi lain, pelemahan daya beli kelas menengah dan persaingan produk lokal membuat proyeksi pemulihan kinerja masih penuh ketidakpastian.

Dua Sisi bagi Investor: Peluang dan Risiko ke Depan

Di satu sisi, ekspektasi pemangkasan suku bunga bank sentral AS membuka peluang arus modal asing (capital inflow) kembali masuk ke pasar saham domestik, ditopang inflasi yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen. Di sisi lain, risiko capital outflow masih membayangi bila rupiah terus melemah menembus Rp16.500 per dolar AS, ditambah ketidakpastian geopolitik global yang dapat menggerus sentimen pasar. Dalam kondisi seperti ini, analis umumnya menyarankan pendekatan selektif: menimbang fundamental, valuasi, dan likuiditas masing-masing emiten, alih-alih sekadar mengikuti daftar saham yang sedang populer.

Bagi investor ritel, lima saham tersebut merepresentasikan tiga tema berbeda: perbankan sebagai jangkar stabilitas, tambang sebagai permainan siklus komoditas, dan konsumer sebagai lindung nilai defensif. Keputusan akhir tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko dan horizon investasi masing-masing, serta dikonfirmasi melalui riset independen sebelum masuk ke pasar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User