LAMPUNG – Dua semangat besar tengah mengakar kuat di bumi Lampung: menjaga warisan alam Taman Nasional Way Kambas (TNWK) sekaligus memastikan anak-anak tumbuh bebas dari stunting. Dalam momentum Hari Anak Nasional (HAN) 2026, kedua isu ini tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan bertemu dalam satu tarikan napas panjang: melindungi generasi mendatang, baik dari sisi ekologis maupun biologis. Jika Way Kambas adalah rumah bagi spesies kunci seperti Gajah Sumatra, maka tubuh balita yang sehat adalah fondasi peradaban. Keduanya menuntut intervensi yang melampaui proyek jangka pendek—sebuah gerakan kolektif yang mengubah cara pandang.
Di tingkat kebijakan, pergeseran paradigma itu tampak jelas. Kunjungan kerja Marsekal Muda TNI Dedi Saprudin Samsudin, Deputi Bidang Dukungan Program Strategis Presiden Sekretariat Presiden, ke TNWK menandai babak baru. Tidak ada lagi sekat kaku antara “kawasan lindung” dan “wilayah masyarakat”. Sebaliknya, yang dikedepankan adalah kesadaran bahwa konservasi hanya bisa berhasil jika masyarakat merasa memiliki. Slogan “TNWK Adalah Kita” pun lahir bukan dari meja birokrasi, melainkan dari kebutuhan mendesak untuk merawat bentang alam seluas 1.300 kilometer persegi itu secara inklusif.
Dari Benteng Beton ke Pagar Sosial: Ekologi Kesadaran di Way Kambas
Diskusi strategis yang digelar di Aula Balai TNWK menghadirkan pemandangan yang tak biasa. Di sana, Marsekal Muda Dedi duduk bersama perwakilan aparat keamanan, akademisi, dan Kepala Balai TNWK MHD. Zaidi. Mereka tidak sedang membahas operasi pengamanan konvensional, melainkan psikologi dan ekonomi masyarakat penyangga hutan. Interaksi negatif antara Gajah Sumatra dengan manusia—entah itu perusakan ladang atau konflik fisik—telah lama menjadi luka yang sulit sembuh. Namun, dengan melibatkan Brigadir Jenderal TNI Sriyanto selaku Ketua Tim Gabungan, pendekatan mitigasi kini diarahkan pada kemitraan, bukan represi.
“Slogan TNWK Adalah Kita bukan sekadar jargon. Kalimat itu mencerminkan perubahan cara pandang dalam mengelola kawasan konservasi. Jika kita ingin gajah tetap lestari, tetangganya harus sejahtera dan paham,” ungkap Marsekal Muda Dedi dalam diskusi tersebut, menekankan bahwa masyarakat bukan ancaman, melainkan benteng terdepan.
Pernyataannya menjadi penegas bahwa krisis biodiversitas tidak bisa ditangani hanya dengan patroli. Perlu ada rekonstruksi sosial di mana setiap butir padi yang ditanam petani di zona penyangga tidak dianggap sebagai pemicu konflik, melainkan sebagai bagian dari rantai solusi. Dengan mendudukkan warga sebagai mitra sejajar, TNWK kini bertransformasi menjadi laboratorium hidup untuk tata kelola konservasi berbasis partisipasi.
510 Ribu Telur dan Perang Melawan Stunting di Pesawaran
Berjarak sekitar 80 kilometer dari rimbunnya kanopi Way Kambas, pertempuran lain demi masa depan anak-anak Lampung tengah berkecamuk di Kabupaten Pesawaran. Stunting, masalah gizi kronis yang mengintai 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), menjadi musuh yang tak kalah ganas. Di sinilah kiprah sektor swasta menjadi katalis penting. Alfamart, melalui program andalannya, turun langsung ke Balai Desa Sukadadi, Kecamatan Gedong Tataan, untuk merayakan Hari Anak Nasional dengan sebuah komitmen masif: menyalurkan 510 ribu butir telur.
Bantuan ini bukan sekadar seremoni belaka. Program Satu Telur Sehari (STS) yang digulirkan sepanjang Mei hingga Oktober 2026 merupakan intervensi nutrisi terstruktur yang menyasar 85 balita dari enam desa lingkar: Sukaraja, Sukadadi, Gedong Tataan, Karang Anyar, Pampangan, dan Way Layap. Selama enam bulan, anak-anak berusia 1 hingga 3 tahun yang terindikasi stunting akan menerima asupan protein hewani setiap hari. Sebagai dampak langsung, 2.700 anak di 39 kabupaten/kota di Indonesia merasakan manfaat program yang sama, menjadikan inisiatif ini sebagai penyaluran terbesar sejak digulirkan pada tahun 2022.
“Edukasi tidak kalah penting dari pemberian telur. Kami mengajarkan orang tua bahwa stunting bukan hanya tentang kurang makan, tapi tentang pola asuh dan sanitasi. Momentum Hari Anak Nasional adalah hari kebangkitan kita melawan kehilangan generasi,” ujar Solihin, Branch Manager Alfamart, di tengah acara yang diselimuti antusiasme tinggi para ibu muda.
Suasana di Balai Desa Sukadadi merefleksikan wajah baru kebijakan kesehatan publik. Para orang tua tidak hanya menerima paket bantuan, tetapi juga menyimak dengan serius pemaparan dari ahli gizi. Edukasi 1.000 HPK ditekankan sebagai kunci: investasi pada otak dan tinggi badan anak tidak bisa ditunda. Ketika anak-anak itu kelak dewasa, merekalah yang akan menjaga Way Kambas, mengelola pemerintahan, dan memastikan Lampung tidak kehilangan daya saingnya.
Simfoni Pelestarian: Ekologi dan Gizi dalam Satu Tarikan Napas
Dua peristiwa ini, meski terpisah secara geografis dan sektoral, sejatinya adalah cerminan dari visi yang sama: keberlanjutan. Gajah Sumatra yang dijaga di timur Lampung dan anak-anak balita yang diasup gizinya di Pesawaran adalah dua entitas rentan yang memikul masa depan provinsi ini. Kerusakan habitat akan memicu banjir, gagal panen, dan gelombang kemiskinan yang berujung pada malnutrisi. Sebaliknya, anak-anak yang cerdas dan sehat akan menjadi tenaga kerja produktif yang mampu menciptakan mata pencaharian alternatif tanpa merambah hutan.
Dengan melibatkan multipihak—dari Sekretariat Presiden, TNI, balai konservasi, hingga ritel modern—kedua program ini membuktikan bahwa solusi atas masalah kompleks memerlukan orkestrasi. Pola pikir “TNWK Adalah Kita” kini menemukan pasangan sejatinya: “Anak Sehat Milik Bersama.” Keduanya adalah panggilan bagi warga Lampung untuk tidak lagi menjadi penonton, melainkan pelaku utama. Masa depan memang tidak bisa diprediksi, tetapi ia bisa disiapkan. Dan di Lampung, persiapan itu dimulai dari sebiji telur pagi ini, serta sebatang pohon yang tidak ditebang malam nanti.
[SOCIAL_TWEET]: Konservasi dan nutrisi bertemu di Lampung. Slogan #TNWKAdalahKita jadi semangat baru jaga gajah, sementara 510 ribu telur dikerahkan Alfamart perangi stunting. Masa depan ada di tangan kita hari ini. #HAN2026 #LampungSehat[SOCIAL_TG]: 🐘🥚 Gerakan di Lampung menggabungkan nasib gajah dan masa depan anak-anak. Diskusi strategis di Way Kambas dan edukasi gizi di Pesawaran menjadi sinyal bahwa kolaborasi sektor negara, swasta, dan masyarakat adalah kuncinya. Info lengkapnya di sini!
Comments (0)