KUR BRI Pacu Ekspansi UMKM Gula Merah Sumenep Selama Dua Dekade

Berdasarkan data BPS per Agustus 2024, kontribusi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terhadap produk domestik bruto nasional mengalami kenaikan hingga mencapai 61,2 persen, sementara serapan tena...

Aug 13, 2026 - 07:17
0 0
KUR BRI Pacu Ekspansi UMKM Gula Merah Sumenep Selama Dua Dekade

Berdasarkan data BPS per Agustus 2024, kontribusi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terhadap produk domestik bruto nasional mengalami kenaikan hingga mencapai 61,2 persen, sementara serapan tenaga kerja di sektor ini stabil di kisaran 97 persen dari total angkatan kerja. Di sisi lain, OJK mencatat penyaluran kredit produktif untuk UMKM pada triwulan II 2024 meningkat 10,3 persen year-on-year dengan total outstanding mencapai Rp1.438,5 triliun. Dalam konteks tersebut, kisah Rosidah, pengusaha gula merah asal Sumenep, Madura, menawarkan lensa mikro tentang bagaimana akses pembiayaan formal dapat mengubah tren kesejahteraan pelaku usaha perdesaan.

Selama dua dekade terakhir, Rosidah membangun unit usaha pengolahan gula merah dari skala rumahan menjadi salah satu pemasok utama di wilayahnya. Proses transformasi ini tidak terlepas dari injeksi modal kerja melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan BRI. Di satu sisi, fasilitas kredit tersebut berhasil memperkuat fundamental usahanya dengan meningkatkan kapasitas produksi, memperluas jaringan distribusi, dan menciptakan multiplier effect bagi ekonomi lokal. Di sisi lain, ketergantungan pada single-line financing dari perbankan konvensional membuka risiko terhadap fluktuasi suku bunga dan tekanan likuiditas apabila terjadi keterlambatan penjualan atau penurunan harga komoditas tebu di pasar spot.

Ekspansi Kapasitas dan Multiplier Effect Lokal

Dari sisi fundamental, aliran KUR yang masuk ke portofolio usaha Rosidah digunakan untuk pengadaan alat pemasak modern, penambahan tenaga kerja musiman, dan diversifikasi varian gula merah seperti gula semut dan gula batok kelapa. Sebelum mendapatkan akses kredit pada tahun 2004, produksi hariannya tertahan di level 50 kilogram dengan omzet bulanan tidak lebih dari Rp3 juta. Saat ini, setelah beberapa kali restrukturisasi dan penambahan plafon, kapasitas produksinya mengalami kenaikan hingga 800 kilogram per hari, dengan nilai tambah bersih yang mampu menyerap 15 tenaga kerja tetap dan puluhan pekerja harian di musim panen tebu.

Tren positif ini sejalan dengan indeks kepercayaan konsumen (consumer confidence index) di wilayah Jawa Timur Bagian Timur yang mencatat level di atas 110 poin pada semester I 2024, menandakan sentimen pasar yang kondusif bagi ekspansi usaha manufaktur ringan perdesaan. Kenaikan daya beli masyarakat sekitar juga tercermin dari meningkatnya permintaan gula merah lokal untuk kebutuhan industri kecil, kue tradisional, dan ekspor antarpulau. Dengan demikian, valuasi aset produktif Rosidah—mencakup peralatan, bangunan pabrik, dan persediaan bahan baku—diperkirakan mengalami apresiasi signifikan dibandingkan posisi dua dekade lalu.

Risiko Likuiditas dan Tekanan pada Rasio Kredit

Meskipun narasi pertumbuhan terlihat solid, segmen UMKM pengolahan komoditas pertanian tetap menghadapi volatilitas harga input yang tidak dapat diabaikan. Di satu sisi, KUR dengan suku bunga bersubsidi sebesar 6 persen per tahun memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk menjaga margin operasional. Di sisi lain, musim kemarau ekstrem pada 2023 lalu menyebabkan harga tebu di tingkat petani mengalami kenaikan 22 persen year-on-year, sehingga rasio biaya bahan baku terhadap pendapatan (cost-to-income ratio) di usaha gula merah mengalami pelebaran.

Dalam kondisi demikian, tekanan likuiditas dapat muncul ketika siklus kas usaha tidak sinkron dengan jadwal angsuran kredit. Apalagi, jika terjadi capital outflow dari sektor perdesaan ke instrumen investasi perkotaan yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, daya dukung konsumen lokal terhadap produk gula merah premium bisa sedikit melemah. Belum lagi risiko kredit macet (non-performing loan/NPL) pada segmen mikro yang secara historis memiliki rasio lebih tinggi dibanding korporasi besar, sehingga memerlukan manajemen arus kas yang ketat agar portofolio pembiayaan tidak berubah menjadi beban bagi kedua belah pihak.

“Keberhasilan UMKM tidak hanya diukur dari akselerasi penyaluran kredit, tetapi juga dari ketahanan model bisnis menghadapi siklus pasar komoditas. Diversifikasi sumber pendanaan dan efisiensi rantai pasok menjadi kunci menjaga fundamental jangka panjang,” ujar Praktisi Perbankan dan Pengamat UMKM.

Proyeksi dan Kebutuhan Diversifikasi Portofolio

Ke depan, proyeksi pertumbuhan sektor UMKM pengolahan pangan di Sumenep dan sekitarnya masih mengarah ke zona positif, didukung oleh program pemerintah yang memperpanjang insentif KUR hingga tahun 2025 dengan alokasi plafon meningkat 8 persen dari realisasi tahun sebelumnya. Namun, agar tren ekspansi seperti yang dialami Rosidah dapat direplikasi secara luas, diperlukan pendekatan yang tidak lagi mengandalkan single-source financing semata.

Penguatan modal usaha melalui skema pembiayaan syariah, venture debt, atau kemitraan strategis dengan off-taker besar dinilai perlu masuk ke dalam portofolio pendanaan pelaku usaha perdesaan. Selain itu, penerapan teknologi digital dalam manajemen persediaan dan pemasaran dapat menekan biaya operasional serta mempercepat perputaran kas, sehingga rasio lancar usaha tetap sehat di atas ambang batas 120 persen. Dengan struktur fundamental yang semakin kokoh, sentimen pasar terhadap produk gula merah lokal diharapkan tidak sekadar mengikuti siklus musiman, melainkan menciptakan landasan ekonomi yang sustain bagi kesejahteraan keluarga dan masyarakat sekitar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User