KUR BRI Mengangkat UMKM Gula Merah Sumenep dan Kesejahteraan Warga
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per semester I-2026, kontribusi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional tercatat sekitar 61 persen, dengan pe...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per semester I-2026, kontribusi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional tercatat sekitar 61 persen, dengan penyerapan tenaga kerja di atas 97 persen. Artinya, hampir seluruh lapangan kerja di dalam negeri ditopang oleh pelaku usaha kecil, termasuk sektor pengolahan pangan tradisional. Di tengah tren itu, perjalanan Rosidah, pengusaha gula merah asal Sumenep, Madura, menawarkan potret nyata bagaimana pembiayaan murah dapat mengubah arah hidup sebuah usaha keluarga. Selama hampir dua dekade ia membesarkan usaha gula merah dari skala rumahan, hingga akhirnya produksi mengalami kenaikan yang signifikan setelah memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan BRI. Dampaknya tidak hanya dirasakan keluarga, tetapi juga warga sekitar yang ikut terlibat dalam rantai produksi.
Usaha yang dirintis Rosidah berawal dari pengolahan nira kelapa secara tradisional, mengikuti keterampilan warisan yang lama hidup di wilayah pesisir Sumenep. Dalam dua dekade terakhir, pasang surut usaha sempat dialaminya, terutama ketika keterbatasan modal menekan volume produksi harian. Titik perubahan terjadi saat ia mendapatkan akses KUR, yang memberi ruang untuk menambah peralatan, memperbesar kapasitas pemasakan nira, dan memperluas jaringan pemasaran ke luar daerah. Alhasil, jumlah produksi meningkat, omzet bertumbuh, dan sebagian keuntungan diputar kembali untuk mempekerjakan tetangga sekitar. Dengan kata lain, satu akses kredit menciptakan efek berantai: lebih banyak bahan baku terserap, lebih banyak tenaga kerja terpakai, dan lebih banyak pendapatan mengalir ke rumah tangga petani nira.
Peran Pembiayaan Mikro dalam Rantai Produksi Gula Merah
Dalam struktur usaha gula merah, modal kerja adalah segalanya. Bahan baku nira harus dibayar tunai, kayu bakar atau gas untuk pemasakan membutuhkan biaya harian, sementara hasil penjualan baru diterima setelah produk laku di pasar. Celah waktu inilah yang kerap menjerat pengusaha kecil ke rentenir berbunga tinggi. KUR hadir dengan bunga maksimal 6 persen efektif per tahun, jauh lebih rendah dibandingkan pembiayaan informal yang bisa menembus puluhan persen per bulan. Dengan plafon KUR Mikro yang kini mencapai Rp100 juta, pelaku usaha seperti Rosidah memperoleh ruang napas likuiditas tanpa harus menggadaikan aset produktif. Istilah likuiditas, bagi pembaca awam, sederhananya adalah kemampuan usaha memenuhi kebutuhan uang tunai jangka pendek; ketika likuiditas sehat, produksi tidak tersendat.
Data penyaluran turut mendukung gambaran ini. Sepanjang 2025, realisasi KUR nasional tercatat di atas Rp300 triliun, dan BRI sebagai penyalur terbesar menguasai porsi signifikan dari total tersebut, dengan tren penyaluran yang mengalami kenaikan year-on-year dibanding periode sebelumnya. Year-on-year berarti perbandingan capaian dengan periode yang sama tahun lalu, indikator umum untuk membaca arah pertumbuhan. Meski begitu, angka kredit yang mengalir perlu dibaca bersama rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL). NPL adalah ukuran seberapa besar kredit yang berpotensi macet dibanding total pinjaman; jika rasio ini tetap terkendali di bawah ambang aman lima persen, ekspansi pembiayaan dapat dinilai masih sehat secara fundamental.
Dua Sisi Kebijakan: Pengungkit Pertumbuhan dan Risiko Beban Utang
Di satu sisi, kisah Rosidah membuktikan bahwa KUR bekerja sebagai pengungkit produktif. Bertambahnya kapasitas produksi berarti bertambahnya pendapatan, dan bertambahnya pendapatan berarti membaiknya kemampuan membayar. Dalam jangka panjang, usaha yang naik kelas dari mikro ke kecil berpotensi memperkuat fundamental ekonomi daerah, menekan angka kemiskinan, dan menahan laju urbanisasi karena lapangan kerja tersedia di kampung halaman. Dampak sosialnya juga nyata: kesejahteraan keluarga pengusaha meningkat seiring naiknya pendapatan rumah tangga, dan tetangga yang dipekerjakan ikut menikmati putaran ekonomi tersebut.
Di sisi lain, para pengamat mengingatkan bahwa tidak semua pelaku UMKM memiliki kapasitas penyerapan modal yang sama. Jika ekspansi produksi tidak diimbangi kepastian pasar, utang yang semula produktif bisa berbalik menjadi beban. Risiko lain datang dari eksternal: ketika sentimen pasar global memburuk dan terjadi capital outflow — istilah untuk arus modal asing yang keluar dari dalam negeri — suku bunga acuan berpotensi naik, yang pada akhirnya menekan biaya dana perbankan dan memperketat penyaluran kredit baru. Oleh karena itu, keberhasilan model ini tidak bisa dilepaskan dari stabilitas makroekonomi dan ketersediaan pasar penyerap produk.
Proyeksi ke Depan: Mendampingi UMKM agar Naik Kelas
Ke depan, proyeksi pertumbuhan sektor UMKM pangan olahan masih menjanjikan, ditopang permintaan domestik yang stabil, tren konsumen yang kembali melirik produk tradisional, serta indeks kepercayaan pelaku usaha yang bergerak di zona ekspansi. Namun, naik kelas bukan hanya soal uang. Aspek pendampingan — pelatihan manajemen keuangan, standardisasi mutu, hingga sertifikasi halal dan perbaikan kemasan — menjadi faktor penentu agar produk gula merah Sumenep mampu menembus pasar modern bahkan peluang ekspor. Tanpa pendampingan, kenaikan produksi berisiko berhenti pada volume semata tanpa perbaikan nilai tambah.
Bagi perbankan, portofolio kredit UMKM yang tumbuh sehat tetap menjadi daya tarik tersendiri karena segmen ini relatif tahan terhadap gejolak dibanding kredit korporasi besar. Adapun bagi pelaku usaha, keputusan menambah utang sebaiknya selalu dihitung cermat terhadap kemampuan membayar, bukan sekadar mengikuti euforia. Seperti halnya valuasi dalam dunia investasi — penilaian apakah suatu aset sudah dihargai wajar — kelayakan utang juga perlu dinilai dengan jujur. Pada akhirnya, kisah Rosidah adalah pengingat bahwa instrumen pembiayaan hanyalah alat; keberhasilan tetap ditentukan oleh kesungguhan pelaku usaha, ketersediaan pasar, dan kebijakan yang konsisten. Kombinasi ketiganya, bukan sekadar angka penyaluran kredit, yang akan menentukan apakah dua dekade perjuangan seorang pengusaha gula merah berakhir pada kesejahteraan yang berkelanjutan atau sekadar cerita sesaat.
Comments (0)