Berdasarkan pantauan harian Kementerian Perdagangan per 6 Oktober 2026, rata-rata harga telur ayam ras di tingkat konsumen tercatat sekitar Rp26.200 per kilogram, masih mengambang di bawah patokan harga acuan pangan nasional yang dipatok pada level Rp30.000 per kilogram. Jarak antara dua angka tersebut mencapai Rp3.800, atau setara selisih kurang lebih 12,7% dari harga acuan.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa selisih itu menandakan pasar telur nasional belum menembus ambang batas yang dikhawatirkan. Harga acuan pangan sendiri adalah rujukan harga wajar yang dihitung berdasarkan biaya produksi, distribusi, dan margin yang dianggap sehat bagi pelaku usaha, sehingga bila harga di pasaran melebihi angka tersebut, pemerintah dapat menyalurkan stok cadangan atau menambah pasokan impor untuk meredam lonjakan.
Kesenjangan Harga Acuan dan Harga Nyata
Secara historis, harga telur memang dikenal sebagai komoditas dengan volatilitas tinggi. Dalam tiga tahun terakhir, komoditas ini sempat menyentuh level di atas Rp32.000 per kilogram pada periode pemulihan pasca-Lebaran 2024, sebelum kembali melandai. Tren terkini justru menunjukkan arah sebaliknya: pasokan yang relatif longgar menekan harga hingga bertengger di kisaran Rp26.000-an, jauh dari titik resistance psikologis Rp30.000.
Di satu sisi, posisi harga di bawah patokan memberikan ruang lega bagi konsumen rumah tangga dan pelaku usaha kuliner yang menjadikan telur sebagai bahan baku utama. Industri pengolahan kue, katering, serta warung makan skala kecil memang sangat sensitif terhadap pergerakan harga telur karena komoditas ini dapat menyerap porsi anggaran bahan baku yang signifikan. Dengan adanya ruang tersebut, daya beli konsumen di tengah tekanan inflasi pangan tahunan dapat sedikit terjaga.
Di sisi lain, produsen justru menghadapi tekanan margin yang menipis. Pakan yang menyerap sekitar 60%–70% biaya operasional peternak telur tidak menurun sebanding dengan harga jual. Harga jagung dan bungkil kedelai sebagai komponen pakan utama cenderung stabil atau bahkan mengalami kenaikan musiman saat musim tanam berganti. Ketika harga jual turun sementara biaya pakan tetap, rasio keuntungan per kilogram telur menyempit, dan hal ini berpotensi memicu pengurangan populasi petelur dalam jangka menengah.
Faktor Penyebab Harga Bertahan Landai
Beberapa variabel fundamental menjelaskan mengapa harga telur bertahan di posisi saat ini. Pertama, siklus produksi unggas yang berjalan normal setelah periode restocking pada kuartal sebelumnya. Populasi indukan yang produktif masih berada di rentang aman, sehingga volume telur harian di sentra produksi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur tidak mengalami kekosongan signifikan.
Kedua, faktor cuaca. Tidak terjadi gangguan distribusi akibat banjir atau longsor yang parah pada jalur logistik utama, sehingga rantai pasok dari kandang ke pasar induk berjalan lancar. Likuiditas distribusi yang lancar menekan biaya transportasi, yang pada akhirnya menahan kenaikan harga di hilir.
Ketiga, sentimen pasar yang relatif kalem menjelang akhir tahun. Pelaku usaha besar menahan diri untuk melakukan akumulasi stok karena memperkirakan pasokan tetap terjaga. Padahal, secara siklus, permintaan biasanya mulai menanjak saat memasuki periode libur akhir tahun dan persiapan perayaan keagamaan.
Menurut pengamat ekonomi pangan, selisih harga acuan sebesar dua belas persen masih berada dalam koridor wajar. Yang perlu diwaspadai adalah bila selisih itu terus menyusut hingga di bawah lima persen dalam beberapa pekan berturut-turut, karena itu bisa menjadi sinyal awal tekanan permintaan.
Pro dan Kontra terkait Kebijakan Harga Acuan
Pro: mekanisme harga acuan memberi kepastian bagi konsumen sekaligus menjadi instrumen pengawasan bagi aparat di daerah. Ketika harga mendekati patokan, pemerintah dapat cepat bertindak dengan operasi pasar, sehingga gejolak tidak berujung pada keterpurukan daya beli kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Pendekatan ini juga membantu menjaga indeks harga konsumen tetap terkendali, sejalan dengan target inflasi pangan yang ditetapkan Bank Indonesia.
Kontra: sebagian ekonom berargumen bahwa harga acuan yang terlalu ketat dapat mengganggu insentif produksi. Bila produsen terus-menerus menjual di bawah titik impas, keputusan untuk menambah kapasitas kandang akan tertunda, dan justru memicu korelasi negatif antara rendahnya harga saat ini dengan kelangkaan pasokan di periode berikutnya. Di samping itu, dalam konteks pasar bebas, penetapan patokan dinilai dapat menggeser mekanisme penemuan harga yang sehararnya didorong oleh interaksi permintaan dan penawaran.
Proyeksi Menuju Akhir Tahun
Untuk kuartal keempat, pasar memperkirakan harga telur akan bergerak pada rentang Rp27.000–Rp29.000 per kilogram bila tidak ada gangguan pasokan eksternal. Pergerakan indeks harga pangan global dan kebijakan impor bahan pakan akan menjadi variabel yang perlu dipantau, mengingat ketergantungan Indonesia terhadap jagung impor masih cukup tinggi.
Bagi investor dan pelaku usaha, yang layak diamati bukan hanya angka harga harian, melainkan juga tren jangka panjang, rasio biaya pakan terhadap harga jual, serta kebijakan impor yang berpotensi mengubah struktur biaya. Perpaduan data tersebut akan memberi gambaran lebih utuh tentang apakah kondisi saat ini mencerminkan kesehatan fundamental sektor perunggasan atau sekadar keseimbangan sementara yang rapuh.
Comments (0)