Kuntilanak di Mata Augusta de Wit dan Ekonomi Horor Indonesia
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per triwulan IV 2024, sektor ekonomi kreatif menyumbang lebih dari Rp 1.300 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, dengan subsektor film, a...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per triwulan IV 2024, sektor ekonomi kreatif menyumbang lebih dari Rp 1.300 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, dengan subsektor film, animasi, dan video mencatat pertumbuhan dua digit secara year-on-year. Di tengah tren tersebut, narasi horor lokal — termasuk kisah kuntilanak — menjelma menjadi salah satu aset intelektual paling bernilai dalam industri hiburan Tanah Air. Menariknya, jauh sebelum genre ini mendulang jutaan penonton, seorang perempuan Belanda bernama Augusta de Wit telah lebih dulu mendokumentasikan pertemuannya dengan sosok hantu tersebut di Jawa pada akhir abad ke-19.
Augusta de Wit bukanlah pendatang biasa. Ia menetap bertahun-tahun di Jawa, mengajar di Surabaya, dan tekun mencatat adat, kepercayaan, serta kehidupan masyarakat pribumi. Dalam catatannya, ia mengaku berjumpa dengan kuntilanak — arwah perempuan yang dalam kepercayaan lokal meninggal saat melahirkan — di sebuah kawasan di Jawa. Alih-alih berteriak ketakutan, reaksinya justru di luar dugaan: ia tetap tenang, mengamati dengan saksama, lalu menuliskan pengalaman itu dengan nada datar dan analitis, seolah sedang mendokumentasikan fenomena alam biasa.
Sikap tersebut terbilang langka pada masanya, ketika sebagian besar orang Eropa memandang kepercayaan lokal sebagai takhayul belaka. Bagi de Wit, pengalaman itu justru menjadi pintu untuk memahami kosmologi masyarakat Jawa secara lebih dalam. Tanpa ia sadari, catatan etnografisnya kini menjadi salah satu bukti tertulis paling awal mengenai figur kuntilanak — figur yang kelak berevolusi menjadi komoditas budaya dengan nilai ekonomi tinggi.
Dari Cerita Rakyat Menjadi Aset Ekonomi Kreatif
Transformasi kuntilanak dari folklor menjadi produk komersial tercermin dari data industri film nasional. Film horor mendominasi daftar box office Indonesia: "KKN di Desa Penari" (2022) meraup lebih dari 10 juta penonton — rekor tertinggi sepanjang masa — sementara "Pengabdi Setan 2: Communion" menembus sekitar 6,4 juta penonton. Total penonton film nasional pada 2022 tercatat sekitar 54 juta, dan lebih dari separuh judul terlaris bergenre horor. Sosok kuntilanak sendiri telah diangkat ke layar lebar puluhan kali sejak era 1970-an hingga trilogi modern pada 2006–2008 dan versi pembaruan pada 2018.
Dari kacamata ekonomi, fenomena ini menunjukkan bagaimana modal budaya (cultural capital) dapat dikonversi menjadi pendapatan riil. Film horor relatif murah diproduksi — rata-rata di bawah Rp 20 miliar per judul — namun berpotensi menghasilkan pendapatan kotor berkali lipat dari biaya awal. Rasio imbal hasil inilah yang membuat rumah produksi terus menambah porsi horor dalam portofolio konten mereka, bahkan ketika genre lain kesulitan mendapatkan pendanaan.
Di Satu Sisi: Peluang Ekspor dan Multiplier Effect
Kubu pendukung menilai tren ini positif bagi fundamental ekonomi kreatif nasional. Film horor Indonesia telah menembus pasar Malaysia, Singapura, hingga platform streaming global, membuka aliran devisa dari sektor jasa. Dampak ganda (multiplier effect) juga terasa pada wisata mistis, kuliner di lokasi syuting, merchandise, hingga penciptaan lapangan kerja kreatif. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memproyeksikan kontribusi ekonomi kreatif terus mengalami kenaikan menuju 8 persen dari PDB dalam beberapa tahun ke depan.
"Kekuatan horor Indonesia terletak pada kearifan lokal yang tidak bisa ditiru Hollywood. Kuntilanak, pocong, dan sundel bolong adalah kekayaan intelektual kolektif yang valuasi ekonominya baru mulai dihitung secara serius," ujar seorang pengamat industri kreatif di Jakarta.
Di Sisi Lain: Risiko Kejenuhan dan Kritik Kualitas
Namun, di sisi lain, dominasi horor memicu kekhawatiran yang tidak bisa diabaikan. Sentimen pasar yang terlalu condong ke satu genre berisiko menciptakan kejenuhan penonton dan menekan diversifikasi karya. Sejumlah kritikus menilai eksploitasi berlebihan terhadap kepercayaan mistis dapat memperkuat stereotip irasional, sementara kualitas naskah kerap dikorbankan demi kecepatan produksi. Ada pula kekhawatiran bahwa likuiditas investor hanya mengalir ke horor, sehingga genre drama, dokumenter, dan anak kekurangan ruang tumbuh.
Ke depan, proyeksi industri tetap optimistis namun menuntut keseimbangan. Kisah Augusta de Wit lebih dari seabad silam mengingatkan bahwa kuntilanak bermula dari narasi budaya yang dicatat dengan rasa hormat — bukan sekadar komoditas. Jika industri mampu menjaga kedalaman cerita sekaligus tata kelola bisnis yang sehat, ekonomi horor Indonesia berpotensi terus tumbuh tanpa kehilangan akar kulturalnya.
Comments (0)