Krom Bank Bidik Ekspansi di Tengah Lonjakan Industri Pergadaian 50 Persen

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir 2024, outstanding pembiayaan industri pergadaian mengalami kenaikan lebih dari 50 persen secara year-on-year, menempatkan sektor gadai sebagai s...

Aug 08, 2026 - 14:26
0 0
Krom Bank Bidik Ekspansi di Tengah Lonjakan Industri Pergadaian 50 Persen

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir 2024, outstanding pembiayaan industri pergadaian mengalami kenaikan lebih dari 50 persen secara year-on-year, menempatkan sektor gadai sebagai salah satu segmen jasa keuangan dengan pertumbuhan tertinggi di Indonesia. Kinerja tersebut terjadi di tengah tren kenaikan harga emas dunia yang menembus rekor baru serta kebutuhan likuiditas masyarakat yang meningkat. Kondisi ini mendorong PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) untuk mengarahkan strategi ekspansinya ke segmen pembiayaan berbasis agunan emas.

Bagi pembaca awam, outstanding pembiayaan merujuk pada total nilai pinjaman yang masih beredar dan belum dilunasi. Kenaikan indikator ini mencerminkan permintaan kredit yang kuat sekaligus kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek sektor tersebut. Dalam konteks pergadaian, lonjakan outstanding umumnya berkorelasi dengan dua faktor utama, yakni harga emas sebagai agunan dan kebutuhan dana tunai jangka pendek masyarakat.

Fundamental Industri Pergadaian Menunjukkan Penguatan

Secara fundamental, industri pergadaian ditopang oleh tren kenaikan harga emas global yang menguat lebih dari 25 persen sepanjang 2024 dan melanjutkan penguatan pada 2025. Di pasar domestik, harga emas batangan sempat menembus level Rp 1,7 juta per gram, naik signifikan dibandingkan sekitar Rp 1,1 juta per gram pada awal 2023. Kenaikan nilai agunan ini otomatis memperbesar plafon pembiayaan yang dapat dicairkan, sehingga mendorong pertumbuhan outstanding tanpa harus menambah jumlah nasabah secara agresif.

Dari sisi permintaan, gadai menjadi alternatif pembiayaan yang menarik karena prosesnya cepat, persyaratan sederhana, dan tidak memerlukan riwayat kredit yang panjang. Di tengah suku bunga acuan BI Rate yang berada di level sekitar 6 persen, sebagian masyarakat memilih menggadaikan aset daripada mengajukan kredit tanpa agunan yang bunganya lebih tinggi. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) di segmen gadai juga tercatat relatif rendah, umumnya di bawah 2 persen, karena adanya agunan likuid berupa emas.

Data industri menunjukkan nilai bisnis pergadaian nasional diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah, dengan kontribusi terbesar masih dipegang pemain pelat merah. Kendati demikian, ruang bertumbuh bagi pemain baru tetap terbuka lebar karena penetrasi layanan gadai formal di Indonesia masih rendah dibandingkan jumlah populasi pemilik emas, terutama di kalangan rumah tangga menengah ke bawah yang belum tersentuh layanan perbankan secara optimal.

Strategi BBSI Membidik Segmen Gadai

Sebagai bank digital hasil transformasi dari bank konvensional, Krom Bank memiliki modal struktural untuk masuk ke bisnis gadai. Ekosistem digitalnya memungkinkan proses taksiran agunan, pencairan dana, hingga pemantauan jatuh tempo dilakukan lebih efisien dibandingkan model pergadaian konvensional. Manajemen perseroan menilai prospek pertumbuhan industri ini sejalan dengan target ekspansi portofolio kredit konsumen berbasis agunan yang tengah dibangun perseroan.

Dari sisi permodalan, emiten berkode BBSI ini tercatat memiliki rasio kecukupan modal (CAR) yang berada jauh di atas batas minimum regulator sebesar 8 persen, memberikan ruang memadai bagi penyaluran kredit baru. Sentimen pasar terhadap saham bank digital juga cenderung membaik seiring membaiknya profitabilitas segmen tersebut, meski valuasi saham perbankan digital secara umum masih berfluktuasi mengikuti arah kebijakan suku bunga global dan pergerakan indeks harga saham gabungan.

Peluang dan Risiko: Analisis Dua Sisi

Di satu sisi, ekspansi ke segmen gadai menawarkan sejumlah keunggulan. Pertama, agunan emas bersifat likuid dan mudah dilelang bila nasabah gagal bayar, sehingga risiko kredit lebih terkendali. Kedua, margin keuntungan di segmen gadai umumnya lebih tebal dibandingkan kredit korporasi. Ketiga, basis nasabah gadai yang luas membuka peluang cross-selling produk perbankan digital, mulai dari tabungan hingga layanan pembayaran, yang dapat memperkuat pendapatan non-bunga perseroan.

Di sisi lain, sejumlah risiko perlu dicermati secara serius. Harga emas yang fluktuatif dapat menekan nilai agunan; bila harga emas mengalami penurunan tajam, rasio pinjaman terhadap nilai agunan (loan-to-value) berpotensi melebihi ambang aman dan memicu kerugian saat lelang. Persaingan juga ketat mengingat pemain lama telah memiliki ribuan outlet dan basis nasabah loyal. Selain itu, ekspansi agresif berpotensi menggerus likuiditas bila tidak diimbangi penghimpunan dana pihak ketiga yang memadai. Risiko capital outflow dari pasar keuangan domestik akibat ketidakpastian global turut dapat memengaruhi biaya dana perbankan secara keseluruhan.

Proyeksi dan Catatan bagi Pelaku Pasar

Ke depan, proyeksi pertumbuhan industri pergadaian masih positif seiring ekspektasi harga emas yang tetap tinggi akibat permintaan aset safe haven global. Namun, keberhasilan BBSI akan sangat bergantung pada kemampuan manajemen risiko, kecepatan eksekusi digital, dan efisiensi biaya operasional. Investor sebaiknya memantau indikator kunci seperti pertumbuhan outstanding, rasio NPL, dan tren harga emas sebelum menilai prospek emiten. Analisis ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi atas efek tertentu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User