Oct 10, 2026
Bisnis

Korea Investasi Irigasi 750.000 Hektare di Merauke

Berdasarkan data Kementerian Pertanian dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) per kuartal terkini, Kabupaten Merauke di Provinsi Papua Selatan tengah diposisikan sebagai episentrum lumbung pangan...

Korea Investasi Irigasi 750.000 Hektare di Merauke

Berdasarkan data Kementerian Pertanian dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) per kuartal terkini, Kabupaten Merauke di Provinsi Papua Selatan tengah diposisikan sebagai episentrum lumbung pangan nasional di kawasan timur Indonesia. Kawasan Sentra Pangan Wanam yang selama ini dikenal sebagai bentang lahan gambut dan rawa pasang surut itu kini masuk dalam radar investasi asing, dengan Korea Selatan disebut-sebut tengah menjajaki pembangunan jaringan irigasi bagi lahan pertanian seluas 750.000 hektare. Angka itu setara sekitar 1,7 kali luas lahan sawah baku di Provinsi Bali, atau hampir 5 persen dari total luas panen padi nasional yang pada 2023 mencapai sekitar 10,2 juta hektare.

Skala proyek ini bukan perkara kecil. Jika terealisasi penuh, kebutuhan air irigasi untuk 750.000 hektare diperkirakan menembus 3 miliar meter kubik per tahun, atau setara dengan kapasitas tampung sejumlah waduk besar di Jawa. Pembangunan kanal primer, sekunder, dan tersier di atas lahan gambut juga menuntut rekayasa hidrologi khusus agar tidak memicu oksidasi karbon dan penurunan permukaan tanah. Dari sisi pembiayaan, estimasi biaya infrastruktur irigasi skala tersebut berkisar Rp25 juta hingga Rp40 juta per hektare, mengacu pada proyek serupa di Kalimantan dan Sumatera. Artinya, total kebutuhan investasi berpotensi menyentuh Rp18,75 triliun hingga Rp30 triliun.

Pro: Peluang Diversifikasi Pangan dan Masuknya Capital Inflow

Di satu sisi, masuknya investor strategis dari Asia Timur dapat mempercepat pembangunan infrastruktur yang selama ini menjadi bottleneck utama pengembangan pangan di Papua. Selama ini, rasio infrastruktur irigasi di wilayah timur Indonesia tertinggal jauh dibanding Jawa. Data Direktorat Jenderal Prasarana Strategis Kementerian PUPR menunjukkan luas layanan irigasi di Papua baru sekitar 12 persen dari total lahan potensial, jauh di bawah rata-rata nasional yang berada di kisaran 40 persen. Kehadiran modal asing berpotensi menutup gap itu tanpa sepenuhnya membebani APBN, sekaligus mendorong capital inflow yang selama ini lebih banyak mengalir ke sektor manufaktur dan jasa.

"Investasi irigasi skala besar di Papua Selatan bisa menjadi katalis transformasi struktural, bukan hanya menambah luas tanam, tetapi menciptakan multiplier effect pada logistik, pengolahan, dan tenaga kerja lokal," ujar seorang ekonom pertanian dari sebuah lembaga riset independen.

Merauke secara geografis hanya berjarak sekitar 400 kilometer dari Darwin, Australia, dan memiliki akses langsung ke jalur pelayaran Asia-Pasifik. Posisi ini membuat Merauke strategis sebagai pintu ekspor komoditas pangan ke pasar Asia Timur, termasuk Korea Selatan yang memiliki ketergantungan impor pangan cukup tinggi. Dengan populasi sekitar 51 juta jiwa dan rasio swasembada beras di bawah 90 persen, Korea membutuhkan pasokan eksternal yang stabil. Skema kerja sama irigasi ini pun berpotensi dikaitkan dengan jaminan offtake komoditas jangka panjang.

Kontra: Risiko Ekologis dan Ketergantungan Asing

Di sisi lain, sejumlah kalangan menilai pendekatan ekstensifikasi di lahan gambut menyimpan risiko fundamental. Konversi rawa pasang surut dalam skala ratusan ribu hektare berpotensi menimbulkan degradasi lingkungan, emisi karbon, serta intrusi air laut yang dapat merusak produktivitas lahan dalam jangka menengah. Proyek sejenis di Kalimantan pada era 1990-an, yang dikenal sebagai Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektare, meninggalkan persoalan drainase dan lahan terlantar hingga bertahun-tahun, dengan tingkat keberhasilan tanam yang diklaim beberapa pihak hanya sekitar 30 persen dari target.

Dari perspektif makroekonomi, dominasi investor asing dalam infrastruktur dasar pangan juga memunculkan kekhawatiran soal kedaulatan pangan dan ketergantungan jangka panjang. Skema kerja sama bisa berujung pada penguasaan rantai pasok, dari irigasi hingga distribusi, sehingga nilai tambah tidak sepenuhnya dinikmati petani lokal. Sentimen pasar terhadap proyek ini pun cenderung hati-hati, mengingat risiko eksekusi yang tinggi, jangka waktu pengembalian modal yang panjang, serta volatilitas harga komoditas pangan dunia yang mencapai fluktuasi 25-40 persen dalam lima tahun terakhir.

Proyeksi dan Fundamental yang Harus Diuji

Dari kacamata valuasi proyek, internal rate of return (IRR) investasi irigasi biasanya berkisar 8 hingga 12 persen per tahun, bergantung pada produktivitas hasil dan harga jual gabah. Jika produktivitas mencapai 5 ton per hektare dengan harga gabah sekitar Rp6.000 per kilogram, potensi nilai produksi dari 750.000 hektare bisa menembus Rp22,5 triliun per musim tanam. Namun angka itu sangat bergantung pada kualitas irigasi, kesuburan tanah, dan kapasitas SDM petani setempat yang masih terbatas.

Kesimpulan sementara, proyek ini menawarkan potensi jangka panjang yang besar bagi ketahanan pangan nasional dan perekonomian Papua Selatan, tetapi membutuhkan desain tata kelola yang ketat, kajian lingkungan yang transparan, serta skema kemitraan yang berpihak pada petani lokal. Tanpa itu, euforia investasi berisiko berubah menjadi beban fiskal dan ekologis di kemudian hari. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap tahapan, mulai dari studi kelayakan hingga operasional, memiliki indikator kinerja yang terukur dan dapat diaudit publik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User