Oct 10, 2026
Bisnis

Era Suku Bunga Tinggi Berkepanjangan, BI Matangkan Strategi Likuiditas

Berdasarkan data Bank Indonesia per awal 2025, perekonomian global tengah memasuki fase yang oleh banyak kalangan ekonom disebut sebagai higher for longer — sebuah kondisi ketika suku bunga acuan ne...

Era Suku Bunga Tinggi Berkepanjangan, BI Matangkan Strategi Likuiditas

Berdasarkan data Bank Indonesia per awal 2025, perekonomian global tengah memasuki fase yang oleh banyak kalangan ekonom disebut sebagai higher for longer — sebuah kondisi ketika suku bunga acuan negara-negara maju bertahan di level tinggi jauh lebih lama dari perkiraan awal pasar. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa fenomena ini menjadi tantangan struktural bagi perekonomian domestik, terutama dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan arus modal keluar atau capital outflow.

Dalam terminologi ekonomi, higher for longer merujuk pada kebijakan moneter ketat yang dipertahankan dalam durasi panjang. Bank sentral Amerika Serikat, misalnya, masih menahan suku bunga di kisaran 5,25–5,5 persen, level tertinggi dalam dua dekade terakhir. Dampaknya terasa hingga ke pasar emerging market, termasuk Indonesia, melalui tekanan pada nilai tukar rupiah dan imbal hasil surat berharga negara.

Tekanan Global dan Respons Bank Indonesia

Di satu sisi, kebijakan suku bunga tinggi global memberikan tekanan signifikan terhadap likuiditas domestik. Capital outflow dari pasar keuangan Indonesia tercatat mencapai Rp 18,7 triliun sepanjang kuartal pertama 2025, dengan mayoritas keluar dari instrumen obligasi negara. Tekanan ini memaksa Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate guna mempertahankan daya tarik aset domestik. Rasio kecukupan modal perbankan yang berada di level 25,6 persen sebenarnya masih tergolong kuat, namun bukan jaminan bahwa gejolak eksternal tidak akan merembet ke sektor riil.

Di sisi lain, fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang patut diperhitungkan. Pertumbuhan ekonomi year-on-year pada kuartal IV 2024 tercatat 5,02 persen, ditopang konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. Inflasi inti juga terkendali di kisaran 2,3 persen, masih dalam sasaran target Bank Indonesia sebesar 2,5±1 persen. Cadangan devisa per Februari 2025 mencapai USD 141 miliar, cukup untuk membiayai 6,3 bulan impor. Angka-angka ini menunjukkan bahwa ruang fiskal dan moneter masih memadai untuk menghadapi tekanan eksternal.

"Dunia memang sedang memasuki era higher for longer. Kita tidak bisa menghindar, tapi kita bisa menyiapkan napas panjang. Yang penting adalah menjaga kredibilitas kebijakan dan komunikasi pasar yang terukur," ujar Destry dalam sebuah forum diskusi ekonomi.

Pro dan Kontra Kebijakan Moneter Ketat

Pro: Mempertahankan suku bunga tinggi memberikan sinyal stabilitas kepada investor global. Imbal hasil obligasi Indonesia yang menarik dapat menahan capital outflow lebih lanjut, sekaligus menjaga valuasi rupiah di level fundamentalnya. Bank Indonesia juga memiliki ruang untuk melakukan operasi moneter guna menyerap likuiditas berlebih di pasar.

Kontra: Kebijakan ketat berkepanjangan berpotensi menekan pertumbuhan kredit perbankan, yang pada akhir 2024 hanya tumbuh 10,4 persen year-on-year, melambat dari 11,8 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor properti dan manufaktur padat modal menjadi yang paling rentan terkena imbasnya. Jika kredit melambat, maka konsumsi dan investasi bisa ikut terpangkas, mengancam target pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,2 persen.

Proyeksi dan Sentimen Pasar ke Depan

Sejumlah lembaga internasional memproyeksikan bahwa Federal Reserve baru akan mulai menurunkan suku bunga secara signifikan pada akhir 2025 atau awal 2026. Artinya, periode higher for longer masih akan berlangsung setidaknya 12–18 bulan ke depan. Dalam kondisi ini, sentimen pasar akan sangat dipengaruhi oleh data inflasi Amerika Serikat dan pernyataan pejabat The Fed.

Bagi Indonesia, kuncinya adalah menjaga portofolio kebijakan yang seimbang: tidak terlalu agresif menaikkan suku bunga hingga menekan sektor riil, namun juga tidak terlalu longgar hingga mengorbankan stabilitas nilai tukar. Diversifikasi sumber pembiayaan, penguatan pasar domestik, dan percepatan realisasi investasi menjadi kunci untuk menjaga tren pertumbuhan tetap pada jalurnya. Dengan fundamental yang masih solid, Indonesia memiliki ruang untuk bermanuver, asalkan komunikasi kebijakan tetap konsisten dan terukur.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User