Oct 10, 2026
Bisnis

BI Sebut Tekanan Global Biang Pelemahan Rupiah, Bukan Faktor Domestik

Berdasarkan data Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik per kuartal terakhir, nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan signifikan di pasar valuta asing. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti,...

BI Sebut Tekanan Global Biang Pelemahan Rupiah, Bukan Faktor Domestik

Berdasarkan data Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik per kuartal terakhir, nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan signifikan di pasar valuta asing. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa sumber persoalan utama bukan berasal dari dalam negeri, melainkan dari dinamika ekonomi global yang tengah bergolak. Pernyataan ini menjadi penting di tengah kekhawatiran publik soal daya beli dan stabilitas harga barang impor.

Fundamental Ekonomi Domestik Masih Terjaga

Di satu sisi, indikator makro Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup solid. Pertumbuhan ekonomi tercatat 5,29% secara year-on-year, angka yang tergolong sehat dibandingkan rata-rata negara berkembang lain di kawasan ASEAN. Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto juga masih di kisaran 39%, jauh di bawah ambang batas aman 60%. Likuiditas perbankan pun tercatat memadai dengan rasio kredit terhadap simpanan (LDR) sekitar 84%.

Menurut Destry, kombinasi indikator tersebut menunjukkan bahwa pelemahan rupiah bukan cerminan kerapuhan fundamental ekonomi nasional. "Yang kita hadapi ini tekanan eksternal, bukan cerminan kelemahan dalam negeri," ujarnya dalam sebuah forum ekonomi baru-baru ini.

"Sentimen pasar global masih didominasi ekspektasi suku bunga The Fed yang bertahan tinggi, sehingga capital outflow dari pasar negara berkembang sulit dihindari," jelasnya.

Dalam bahasa sederhana, capital outflow adalah fenomena ketika investor asing menarik dana mereka dari pasar domestik dan memindahkannya ke aset yang dianggap lebih aman, umumnya obligasi pemerintah Amerika Serikat. Ketika permintaan terhadap dolar AS melonjak, mata uang negara berkembang otomatis tertekan.

Ancaman Capital Outflow dan Ketergantungan pada Dana Asing

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa ketergantungan pada aliran modal asing tetap menjadi titik rentan. Data menunjukkan bahwa kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) masih berada di kisaran 14% hingga 15% dari total outstanding. Angka ini memang turun dibandingkan periode 2019 yang sempat menyentuh 39%, namun tetap cukup besar untuk membuat pasar obligasi sensitif terhadap sentimen global.

Pro: Pemerintah dan BI memiliki bantalan berupa cadangan devisa yang tercatat sekitar USD 136 miliar, cukup untuk membiayai 6,3 bulan impor. Instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga dinilai efektif menahan capital outflow jangka pendek dengan menawarkan imbal hasil kompetitif.

Kontra: Sebagian analis menilai strategi menahan rupiah melalui suku bunga tinggi berpotensi mengorbankan momentum pertumbuhan kredit. Jika BI terlalu agresif mempertahankan daya tarik imbal hasil, sektor riil bisa mengalami perlambatan karena biaya pinjaman meningkat. Selain itu, depresiasi rupiah terhadap dolar AS secara year-on-year tetap membebani industri yang bergantung pada bahan baku impor.

Proyeksi dan Arah Kebijakan ke Depan

Ke depan, arah pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada dua faktor utama: kebijakan moneter Federal Reserve dan stabilitas geopolitik global. Jika The Fed mulai menurunkan suku bunga acuan, tekanan terhadap mata uang negara berkembang umumnya mereda, dan aliran modal berpotensi kembali masuk ke pasar emerging markets, termasuk Indonesia.

Namun, valuasi rupiah saat ini juga membuka peluang bagi eksportir untuk memanfaatkan daya saing harga. Sektor komoditas seperti batu bara, minyak kelapa sawit, dan nikel diperkirakan tetap menjadi penopang penerimaan devisa. Pemerintah pun diharapkan memperkuat hilirisasi agar nilai tambah tidak semata bergantung pada fluktuasi harga komoditas global.

Dari kacamata portofolio, investor institusi cenderung mencermati spread imbal hasil SBN Indonesia dibandingkan obligasi AS. Selama selisih tersebut dinilai memadai untuk mengompensasi risiko nilai tukar, minat terhadap aset rupiah diperkirakan tetap terjaga. Yang perlu diwaspadai adalah jika capital outflow berlangsung berkepanjangan dan menembus cadangan devisa secara signifikan.

Pada akhirnya, pesan utama dari otoritas moneter adalah bahwa stabilitas rupiah merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor domestik dan global. Fundamental ekonomi yang kuat memberi ruang bagi BI untuk bermanuver, tetapi bukan berarti kebal terhadap guncangan eksternal. Keseimbangan antara menjaga stabilitas nilai tukar dan mendorong pertumbuhan ekonomi akan menjadi ujian utama kebijakan moneter dalam beberapa kuartal mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User