Kopi Batang Tembus Pasar Global Berkat Inovasi dan Dukungan BRI
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal I/2025, ekspor kopi Indonesia mencapai USD 1,2 miliar, tumbuh 8,5% year-on-year. Di tengah tren positif ini, muncul kisah sukses dari Kabupaten...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal I/2025, ekspor kopi Indonesia mencapai USD 1,2 miliar, tumbuh 8,5% year-on-year. Di tengah tren positif ini, muncul kisah sukses dari Kabupaten Batang, Jawa Tengah, di mana seorang pengusaha muda, Ika Yuanita, berhasil membawa racikan kopi lokal menembus pasar internasional. Melalui PT Kingkaf Makmur Sejahtera, Ika tidak hanya membangun bisnis, tetapi juga memberdayakan petani kopi di sekitarnya. Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan permodalan dan pendampingan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang selama ini konsisten mendorong sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk go global.
Perjalanan Bisnis Kopi dari Hulu ke Hilir
Ika Yuanita memulai usahanya pada tahun 2017 dengan modal awal yang terbatas. Berawal dari keprihatinan melihat banyak petani kopi di Batang yang menjual biji kopi dengan harga rendah, ia memutuskan untuk membangun usaha pengolahan kopi yang memberikan nilai tambah. PT Kingkaf Makmur Sejahtera kini mengelola seluruh rantai pasok, mulai dari budidaya, panen, pengolahan, hingga pemasaran. Perusahaan ini bekerja sama dengan lebih dari 200 petani kopi di lereng Gunung Prau, dengan total lahan sekitar 150 hektare. Produk unggulan mereka, seperti kopi arabika dan robusta specialty, telah diekspor ke sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, dan beberapa negara Eropa.
Di satu sisi, keberhasilan ini menunjukkan potensi besar kopi Indonesia di pasar global. Di sisi lain, perjalanan Ika tidak selalu mulus. Ia sempat menghadapi kendala permodalan dan akses pasar yang terbatas. Namun, dengan dukungan BRI melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pendampingan bisnis, Ika mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi standar ekspor. "BRI tidak hanya memberikan pinjaman, tetapi juga pelatihan manajemen keuangan dan akses ke pameran internasional," ujar Ika saat ditemui di sela-sela acara UMKM Go Global di Jakarta.
Dukungan BRI sebagai Katalis Pertumbuhan UMKM
Berdasarkan data BRI per Mei 2025, penyaluran KUR mencapai Rp 85 triliun, dengan porsi 60% dialokasikan untuk sektor pertanian dan UMKM. Direktur Utama BRI, Sunarso, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk terus mendorong UMKM naik kelas. "Kami melihat UMKM adalah tulang punggung ekonomi nasional. Melalui pembiayaan dan pendampingan, kami ingin UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga menembus pasar global," kata Sunarso. Program seperti BRI Menyapa, BRI UMKM Center, dan pelatihan ekspor menjadi andalan untuk meningkatkan kapasitas pelaku UMKM.
Pro: Dukungan BRI terbukti efektif meningkatkan omzet dan daya saing UMKM. Kontra: Beberapa pelaku UMKM masih terkendala dalam hal digitalisasi dan kepatuhan terhadap regulasi ekspor. Namun, BRI terus berupaya menjembatani kesenjangan tersebut dengan menyediakan platform digital dan konsultasi bisnis.
Dampak Ekonomi dan Sosial bagi Petani Lokal
Keberadaan PT Kingkaf Makmur Sejahtera memberikan dampak signifikan bagi perekonomian lokal. Sebelumnya, petani di Batang hanya menjual biji kopi mentah dengan harga rata-rata Rp 25.000 per kilogram. Kini, dengan adanya pengolahan, harga jual naik menjadi Rp 60.000 per kilogram untuk biji kopi roasted, dan hingga Rp 150.000 untuk kopi specialty. Pendapatan petani meningkat sekitar 40% dalam dua tahun terakhir. Selain itu, perusahaan ini juga menyerap tenaga kerja lokal, terutama perempuan, untuk proses sortasi dan pengemasan.
Di sisi lain, ada tantangan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan kualitas produk. Ika menerapkan praktik pertanian berkelanjutan dengan mengurangi penggunaan pestisida kimia dan melakukan reboisasi di area sekitar perkebunan. Ia juga memberikan edukasi kepada petani tentang teknik pascapanen yang baik. "Kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan bisnis ini tidak mengorbankan lingkungan dan kesejahteraan petani jangka panjang," tambah Ika.
Proyeksi dan Harapan ke Depan
Dengan tren konsumsi kopi global yang terus meningkat, proyeksi ekspor kopi Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai USD 1,5 miliar, tumbuh 10% year-on-year. Ika menargetkan untuk meningkatkan volume ekspor sebesar 30% pada tahun ini, dengan membuka pasar baru di Timur Tengah dan Asia Tenggara. Ia juga berencana untuk mengembangkan produk turunan seperti kopi ready-to-drink dan kosmetik berbahan dasar kopi.
Para ekonom menilai bahwa kisah sukses seperti ini menunjukkan pentingnya sinergi antara perbankan, pemerintah, dan pelaku usaha. "Dukungan finansial dan non-finansial yang terintegrasi adalah kunci untuk mendorong UMKM naik kelas. BRI telah menunjukkan peran yang strategis dalam ekosistem ini," ujar ekonom dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, dalam sebuah diskusi.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga kualitas dan konsistensi pasokan. Namun, dengan komitmen dan inovasi yang dimiliki Ika, serta dukungan BRI, bukan tidak mungkin kopi Batang akan semakin dikenal di kancah internasional. Kisah ini menjadi inspirasi bagi UMKM lain untuk berani bermimpi dan melangkah go global.
Comments (0)