Konsumsi Listrik SPKLU Tembus 62,4 Juta kWh, PLN Genjot Ekspansi

Berdasarkan data PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) per Juni 2026, konsumsi listrik pada Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) mengalami lonjakan signifikan hingga mencapai 62,4 juta ki...

Aug 07, 2026 - 18:34
0 0
Konsumsi Listrik SPKLU Tembus 62,4 Juta kWh, PLN Genjot Ekspansi

Berdasarkan data PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) per Juni 2026, konsumsi listrik pada Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) mengalami lonjakan signifikan hingga mencapai 62,4 juta kilowatt-hour (kWh). Angka ini mencerminkan tren adopsi kendaraan listrik (EV) yang semakin menguat di dalam negeri, seiring dengan meningkatnya jumlah unit kendaraan listrik yang beroperasi. Realisasi tersebut tumbuh sekitar 45% year-on-year (yoy) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yang hanya berada di kisaran 43 juta kWh. Pertumbuhan ini mengindikasikan pergeseran perilaku konsumen dari kendaraan konvensional ke kendaraan berbasis baterai, didorong oleh penurunan harga baterai dan insentif pemerintah.

Ekspansi Infrastruktur SPKLU oleh PLN

Menanggapi lonjakan permintaan listrik untuk kendaraan listrik, PLN memutuskan untuk memperluas infrastruktur pengisian daya secara agresif. Hingga pertengahan 2026, jumlah SPKLU yang beroperasi telah mencapai 3.850 unit yang tersebar di 450 kota/kabupaten, meningkat dari 2.900 unit pada akhir 2025. PLN menargetkan penambahan 1.500 unit baru hingga akhir tahun ini, dengan fokus pada koridor jalan tol Trans-Jawa dan Trans-Sumatera serta kawasan wisata utama. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa ekspansi ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik nasional. "Kami tidak hanya membangun SPKLU, tetapi juga memastikan keandalan pasokan listrik di setiap titik, termasuk menggunakan energi baru terbarukan (EBT) untuk sebagian besar stasiun," ujarnya.

"Lonjakan konsumsi listrik SPKLU adalah sinyal positif bagi transisi energi, namun kita perlu memastikan bahwa pertumbuhan infrastruktur tidak tertinggal dari pertumbuhan jumlah kendaraan listrik itu sendiri," kata Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa.

Di sisi lain, ekspansi SPKLU juga menghadapi tantangan dari sisi biaya investasi. Setiap unit SPKLU dengan kapasitas 50 kW membutuhkan investasi sekitar Rp350 juta hingga Rp500 juta, belum termasuk biaya pemasangan dan koneksi jaringan. PLN mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp2,1 triliun untuk program ini pada 2026, yang sebagian besar berasal dari kas internal dan sebagian lagi dari skema kerja sama dengan pihak swasta melalui mekanisme build-operate-transfer (BOT). Proyeksi internal PLN menunjukkan bahwa tingkat utilitas rata-rata SPKLU baru mencapai 12% dari kapasitas terpasang, yang berarti masih terdapat ruang besar untuk peningkatan efisiensi operasional.

Analisis Dua Sisi: Optimisme vs Tantangan

Pro: Lonjakan konsumsi listrik SPKLU menunjukkan bahwa ekosistem kendaraan listrik di Indonesia mulai matang. Data dari Kementerian Perindustrian mencatat penjualan mobil listrik (BEV) pada semester I-2026 mencapai 38.500 unit, naik 60% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dengan semakin banyaknya pengguna EV, permintaan listrik untuk pengisian daya akan terus meningkat, memberikan kepastian pendapatan bagi PLN dan investor swasta yang masuk ke sektor ini. Selain itu, perluasan SPKLU mendukung target pemerintah untuk mengurangi emisi karbon sebesar 31,89% pada 2030, sejalan dengan komitmen Nationally Determined Contribution (NDC).

Kontra: Di sisi lain, pertumbuhan konsumsi listrik SPKLU yang tinggi belum tentu berkelanjutan jika tidak diimbangi dengan daya beli masyarakat. Harga mobil listrik termurah saat ini masih di atas Rp250 juta, sementara sepeda motor listrik baru menyentuh angka Rp15 juta setelah subsidi. Tingkat utilitas SPKLU yang rendah (12%) menunjukkan bahwa banyak stasiun yang belum dimanfaatkan secara optimal, terutama di daerah dengan kepadatan kendaraan listrik rendah. Hal ini berpotensi menyebabkan investasi yang tidak efisien dan memperpanjang periode pengembalian modal (payback period) hingga 8-10 tahun, yang bisa menjadi beban bagi keuangan PLN jika tidak dikelola dengan hati-hati.

Proyeksi dan Implikasi bagi Pasar Energi

Ke depan, PLN memproyeksikan konsumsi listrik SPKLU akan mencapai 150 juta kWh pada akhir 2026, dengan asumsi penambahan 200.000 unit kendaraan listrik baru sepanjang tahun. Untuk mengantisipasi lonjakan ini, PLN juga mengembangkan sistem smart charging yang memungkinkan pengisian daya pada saat beban puncak rendah, sehingga menjaga stabilitas jaringan listrik nasional. Dari sisi harga, tarif listrik untuk SPKLU saat ini berada di kisaran Rp1.650 per kWh untuk golongan B-2, yang masih kompetitif dibandingkan biaya bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan konvensional.

Namun, para analis mengingatkan bahwa pemerintah perlu memperhatikan kesiapan jaringan listrik di luar Jawa. Berdasarkan data PLN, kapasitas listrik di luar Jawa hanya mencapai 20% dari total kapasitas nasional, sementara pertumbuhan kendaraan listrik mulai merambah ke Sumatera dan Sulawesi. Jika tidak ada perbaikan infrastruktur transmisi, dikhawatirkan akan terjadi ketimpangan antara pasokan dan permintaan listrik di wilayah tersebut. Dengan demikian, meskipun lonjakan konsumsi SPKLU menjadi kabar baik, keberhasilan transisi energi jangka panjang sangat bergantung pada sinergi antara kebijakan pemerintah, kesiapan jaringan, dan perilaku pasar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User