Kim Jong Un Beri Syarat Ketat, Kabut Asap RI Tutup Ratusan Sekolah

Dua kabar besar datang dari dua belahan kawasan yang berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan. Di Semenanjung Korea, Presiden Amerika Serikat Donald Trump

Aug 21, 2026 - 23:18
0 0
Kim Jong Un Beri Syarat Ketat, Kabut Asap RI Tutup Ratusan Sekolah

Dua kabar besar datang dari dua belahan kawasan yang berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan. Di Semenanjung Korea, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyatakan keinginannya untuk bertemu pemimpin Korea Utara Kim Jong Un — namun respons Pyongyang justru dingin dan penuh syarat. Di Asia Tenggara, kabut asap kebakaran hutan Indonesia menyelimuti negara tetangga, memaksa otoritas Sarawak, Malaysia, menutup ratusan sekolah dan memindahkan pembelajaran puluhan ribu siswa ke rumah masing-masing.

Kedua peristiwa itu tampak tak saling berhubungan, tetapi keduanya menggambarkan betapa rapuhnya kerja sama di kawasan: diplomasi antarnegara yang tersandera kepentingan, serta krisis lingkungan lintas batas yang tak lagi bisa ditangani sendiri oleh satu negara.

Kim Jong Un Beri Syarat Super Berat

Keinginan Trump untuk bertemu kembali dengan Kim Jong Un bukanlah rahasia. Sejak pertemuan bersejarah di Singapura pada 2018, Trump beberapa kali menegaskan hubungan pribadinya yang "hangat" dengan pemimpin Korut itu. Namun, sikap Pyongyang belakangan ini jauh dari hangat. Korea Utara merespons dingin tawaran pertemuan itu dan justru memasang syarat yang oleh banyak pihak disebut sangat berat.

Syarat-syarat itu pada intinya menuntut Washington mengubah sikap dasarnya: mencabut kebijakan permusuhan, melonggarkan sanksi ekonomi, serta menawarkan konsesi nyata — bukan sekadar janji pertemuan simbolis. Bagi pengamat, ini adalah sinyal bahwa Korut tidak ingin lagi terjebak dalam siklus pertemuan puncak yang dramatis tetapi berakhir tanpa hasil nyata.

"Pertemuan puncak tanpa substansi hanya akan mengulang kegagalan Hanoi. Pyongyang kini menuntut bukti, bukan gestur," ujar seorang pengamat hubungan internasional yang memantau dinamika Semenanjung Korea.

Pertemuan Trump-Kim memang pernah melahirkan momen teatrikal, seperti saat Trump melangkahkan kaki pertama kali ke wilayah Korea Utara di Panmunjom pada 2019. Namun, setelah KTT Hanoi gagal mencapai kesepakatan denuklirisasi, kepercayaan antara kedua pihak justru merosot tajam. Kini, dengan syarat yang diajukan Pyongyang, jalan menuju meja perundingan kembali tampak berliku.

Kabut Asap Kepung Tetangga, 591 Sekolah Tutup

Sementara itu, krisis lingkungan kembali menimpa Asia Tenggara. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia — khususnya di Kalimantan — menyebar ke negara tetangga dan menyelimuti wilayah Sarawak, Malaysia. Dampaknya langsung terasa di dunia pendidikan. Otoritas Sarawak menutup 591 sekolah karena kualitas udara memburuk ke level berbahaya. Sebanyak 197.323 siswa terdampak dan dialihkan ke pembelajaran berbasis rumah (home-based learning).

Penutupan sekolah massal ini bukan yang pertama. Pola yang sama berulang hampir setiap tahun ketika musim kemarau tiba: kebakaran lahan gambut di Indonesia memicu kabut asap lintas batas yang menjangkau Malaysia, Singapura, hingga sebagian Thailand. Kualitas udara di Kuala Lumpur pun pernah tercatat di level tidak sehat akibat kiriman asap dari Kalimantan.

"Kesehatan anak-anak tidak bisa ditawar. Selama indeks pencemaran udara masih di zona bahaya, pembelajaran dari rumah adalah pilihan paling aman," demikian pernyataan resmi otoritas pendidikan setempat.

Analisis: Dua Krisis, Satu Pelajaran

Ada kesamaan yang mencolok di antara kedua kisah ini: masalah yang sudah jelas, tetapi penyelesaiannya terus tertunda karena masing-masing pihak menunggu yang lain bergerak lebih dulu.

Dalam kasus Semenanjung Korea, deadlock terjadi karena Washington dan Pyongyang sama-sama menuntut langkah pertama dari lawannya. Dalam kasus kabut asap, sumber utama kebakaran berada di wilayah Indonesia, tetapi dampaknya dirasakan lintas batas — sementara penegakan hukum di lapangan masih lemah dan penyelesaian struktural, seperti restorasi lahan gambut, berjalan lambat.

IndikatorKrisis Trump–KimKrisis Kabut Asap Sarawak
Bentuk krisisDiplomasi macetLingkungan lintas batas
Skala terdampakRundingan denuklirisasi591 sekolah, 197.323 siswa
Respons otoritasSyarat ketat dari PyongyangTutup sekolah, belajar dari rumah
Risiko terbesarEskalasi kawasanGangguan kesehatan dan pendidikan

Bagi masyarakat awam, yang terasa paling dekat adalah dampak kabut asap: anak-anak yang kehilangan hari belajar, orang tua yang cemas terhadap kesehatan, dan sekolah-sekolah yang kembali sepi. Sementara di level global, kebuntuan Trump–Kim mengingatkan bahwa diplomasi tanpa kompromi hanya melahirkan pertemuan tanpa kesepakatan.

Para ahli menilai kedua krisis ini membutuhkan pendekatan yang sama: kejujuran untuk mengakui akar masalah, dan kemauan politik untuk mengambil langkah pertama. Selama itu belum terjadi, warga di kedua kawasan akan terus menanggung akibatnya.

[SOCIAL_TWEET]: Kabut asap RI tutup 591 sekolah di Sarawak, 197.323 siswa belajar dari rumah. Di sisi lain, Kim Jong Un beri syarat ketat untuk Trump. #KabutAsap #TrumpKim #Sarawak[SOCIAL_TG]: [Berita] Kabut asap RI kepung Malaysia: 591 sekolah ditutup, 197.323 siswa belajar dari rumah. Sementara itu, Kim Jong Un pasang syarat super berat untuk pertemuan dengan Trump. Selengkapnya di Beritadua.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User