Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per awal 2025, tingkat literasi keuangan generasi muda di Indonesia masih berada di kisaran 65,43 persen menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK, jauh di bawah target inklusi keuangan sebesar 75 persen. Kesenjangan inilah yang menjadi latar belakang kehadiran Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, dalam ajang Lampung Financial Festival yang menyasar audiens usia produktif, terutama mahasiswa dan pekerja muda di provinsi ujung selatan Sumatra tersebut.
Dalam forum itu, Anggito membagikan pengalaman panjangnya di dunia kebijakan fiskal dan stabilitas sistem keuangan sebagai bahan pembelajaran bagi generasi muda. Ia menekankan tiga pilar utama: ketangguhan menghadapi tekanan, kemauan belajar berkelanjutan, dan etos kerja keras. Pesan ini disampaikan bukan sebagai slogan, melainkan refleksi dari perjalanan karier yang melewati berbagai krisis ekonomi, mulai dari krisis moneter 1998 hingga guncangan pandemi 2020.
Ketangguhan sebagai Fondasi Pengambilan Keputusan
Di satu sisi, pesan ketangguhan yang disampaikan Anggito relevan dengan kondisi makroekonomi terkini. Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,05 persen year-on-year pada kuartal IV 2024 menurut data BPS, angka yang tergolong stabil namun belum cukup untuk menyerap seluruh angkatan kerja baru. Ketidakpastian global, mulai dari kebijakan suku bunga The Fed hingga gejolak geopolitik, membuat sentimen pasar mudah berubah dan berpotensi memicu capital outflow dari pasar keuangan domestik.
Dalam konteks ini, kemampuan generasi muda untuk bertahan dan beradaptasi menjadi modal penting. Anggito mencontohkan bagaimana sektor keuangan nasional tetap terjaga likuiditasnya berkat bantalan kebijakan yang dibangun bertahun-tahun. "Ketangguhan bukan berarti tidak pernah gagal, tetapi kemampuan bangkit setelah tekanan datang," ujarnya di hadapan peserta festival.
"Generasi muda perlu memahami bahwa fundamental ekonomi tidak dibangun dalam semalam. Ada proses panjang yang menuntut konsistensi dan kesabaran," kata Anggito.
Pembelajaran Berkelanjutan di Tengah Disrupsi Digital
Di sisi lain, tantangan yang dihadapi anak muda saat ini berbeda dari era Anggito memulai karier. Digitalisasi layanan keuangan, kemunculan fintech, hingga instrumen investasi berbasis aplikasi telah mengubah lanskap portofolio generasi muda. Data OJK menunjukkan nilai transaksi aset kripto dan reksa dana daring melonjak signifikan dalam tiga tahun terakhir, namun sering kali tidak diimbangi pemahaman rasio risiko yang memadai.
Anggito mengingatkan bahwa literasi bukan sekadar tahu produk, tetapi memahami valuasi, proyeksi, dan risiko di baliknya. Ia mendorong anak muda untuk membaca data, bukan hanya mengikuti tren di media sosial. Dalam paparannya, ia menyoroti pentingnya memahami laporan keuangan sederhana, menghitung rasio utang terhadap pendapatan, serta membedakan investasi produktif dan konsumtif.
Pendekatan ini sejalan dengan fungsi LPS sebagai penjamin simpanan nasabah. Meski demikian, edukasi mengenai batas penjaminan, tingkat bunga wajar, dan tata kelola bank tetap menjadi pekerjaan rumah besar. Hingga awal 2025, LPS mencatat jumlah rekening yang dijamin mencapai lebih dari 500 juta rekening dengan plafon penjaminan Rp2 miliar per nasabah per bank.
Kerja Keras dan Konteks Ekonomi Regional
Lampung menjadi pilihan strategis untuk kampanye literasi ini. Provinsi tersebut menyumbang sekitar 3,5 persen terhadap produk domestik regional bruto Sumatra, dengan sektor pertanian dan perdagangan sebagai penopang utama. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lampung pada 2024 berada di angka 72,48, masih di bawah rata-rata nasional yang mencapai 74,39. Angka ini mengindikasikan ruang perbaikan kualitas sumber daya manusia yang signifikan.
Anggito menekankan bahwa kerja keras harus diarahkan pada keterampilan yang relevan. Ia menyebut kemampuan analisis data, pemahaman teknologi finansial, dan komunikasi sebagai kompetensi yang akan terus dicari pasar kerja. Pesan ini diamini sejumlah peserta yang mengaku termotivasi untuk lebih disiplin dalam mengelola keuangan pribadi.
Kendati demikian, kritik terhadap pendekatan motivasional semacam ini kerap muncul. Sebagian pengamat menilai pesan kerja keras tanpa disertai perbaikan struktural, seperti akses modal usaha dan lapangan kerja berkualitas, berisiko menjadi narasi kosong. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) nasional per Februari 2025 tercatat 4,76 persen, dengan kontribusi terbesar dari kelompok usia 15-24 tahun yang mencapai dua digit.
Dengan demikian, keberhasilan pesan Anggito tidak hanya ditentukan oleh retorika, melainkan oleh bagaimana kebijakan pendukung seperti penjaminan simpanan, stabilitas sistem keuangan, dan pembukaan akses pembiayaan benar-benar menyentuh akar persoalan. Generasi muda Lampung, dan Indonesia secara luas, membutuhkan ekosistem yang memungkinkan ketangguhan, pembelajaran, dan kerja keras berbuah menjadi kesejahteraan nyata, bukan sekadar inspirasi sesaat di atas panggung festival.
Comments (0)