Ketua Harian Dekranas Buka Workshop Kriya Keluarga di Makassar

Makassar, Beritadua.com – Suasana hangat menyelimuti Atrium Trans Studio Makassar saat Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Tri Tito Karnavian

Ketua Harian Dekranas Buka Workshop Kriya Keluarga di Makassar

Makassar, Beritadua.com – Suasana hangat menyelimuti Atrium Trans Studio Makassar saat Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Tri Tito Karnavian, membuka Workshop Kreasi Kriya Keluarga Tunas bertema “Merajut Kehangatan di Era Digital”. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Dekranas yang bertujuan memperkuat kembali ikatan keluarga melalui sentuhan tangan dan kreativitas, di tengah derasnya arus teknologi yang kerap menjauhkan interaksi langsung antargenerasi.

Ratusan peserta dari berbagai kalangan—ibu, anak, hingga lansia—tampak antusias menyimak demonstrasi sekaligus langsung mempraktikkan teknik merajut, menyulam, dan membatik sederhana. Tri Tito Karnavian dalam sambutannya menekankan bahwa kriya bukan sekadar produk ekonomi, melainkan jembatan emosi yang mampu menghangatkan relasi keluarga yang mulai tergerus gawai.

Merajut Makna di Tengah Gempuran Digital

Mengusung tema yang puitis namun relevan, workshop ini mengajak peserta merefleksikan kembali pentingnya momen kebersamaan. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025 menunjukkan bahwa rata-rata waktu layar masyarakat Indonesia mencapai 8 jam 36 menit per hari, sementara interaksi berkualitas dalam keluarga justru menurun hingga 40 persen dalam satu dekade terakhir. Kondisi inilah yang melatari Dekranas menghadirkan kriya sebagai terapi sosial.

“Melalui gerakan tangan yang pelan, kita sebenarnya sedang merajut kembali benang-benang kasih yang putus karena kesibukan digital. Setiap tusukan jarum bisa menjadi doa, setiap simpul benang bisa menjadi pelukan yang tak terucap. Workshop ini adalah undangan untuk memperlambat ritme, hadir sepenuhnya untuk orang-orang tercinta,”

ungkapan Tri Tito yang disambut tepuk tangan membahana.

Dekranas dan Perjalanan 46 Tahun

Workshop Kreasi Kriya Keluarga Tunas sendiri menjadi program unggulan Dekranas yang menyasar unit terkecil masyarakat: keluarga. Sejak berdiri pada 3 Maret 1979, Dekranas konsisten mengawal produk kerajinan Indonesia agar tak hanya bernilai seni, tetapi juga berdaya saing global. Perayaan HUT ke-46 kali ini mengambil semangat “Kriya Menghubungkan Hati” dengan serangkaian kegiatan di 34 provinsi secara hybrid.

Di Makassar, kolaborasi dengan Dinas Perindustrian Sulawesi Selatan dan komunitas perajin lokal turut menghadirkan pameran produk unggulan, seperti tenun sutra Bugis, anyaman lontar, dan perhiasan mutiara. Pengunjung bisa membeli langsung dari perajin tanpa rantai distribusi panjang, sejalan dengan misi Dekranas menyejahterakan pelaku UMKM berbasis kriya.

Belajar dari Benchmark Global

Tren kerajinan tangan atau handmade movement sebenarnya telah mengglobal. Negara-negara Skandinavia menjadikan rajutan sebagai aktivitas wajib di sekolah untuk melatih fokus dan empati. Jepang mengintegrasikan origami dan sashiko dalam kurikulum karakter. Indonesia, menurut Tri Tito, memiliki modal kultural luar biasa untuk menjadikan kriya sebagai alat pemersatu sekaligus identitas bangsa.

Pada sesi praktik, instruktur berpengalaman dari Komunitas Perajin Sulsel memandu peserta membuat gantungan kunci dari sisa benang dan kain perca. Anak-anak yang semula lengket pada layar ponsel perlahan tenggelam dalam keseruan memilih warna dan menghitung tusukan. Seorang peserta, Nurhayati (42), mengaku sudah lama tidak merasakan sensasi berkarya bersama anaknya.

“Biasanya pulang sekolah anak langsung pegang HP, saya sibuk urus rumah. Hari ini kami duduk berdampingan, tertawa-tawa karena benang kusut. Rasanya seperti dulu waktu kecil saya diajari nenek. Sederhana tapi sangat berarti,”

ujarnya berbinar.

Kehangatan sebagai Investasi Sosial

Di penghujung acara, seluruh peserta diminta menuliskan harapan mereka pada secarik kertas yang kemudian diikatkan pada instalasi pohon benang setinggi tiga meter. Simbol ini menjadi pengingat bahwa kehangatan keluarga adalah investasi jangka panjang yang kerap terlupakan di era yang mengagungkan kecepatan. Tri Tito berjanji bahwa program serupa akan terus digulirkan hingga pelosok desa, menggandeng PKK dan karang taruna sebagai motor penggerak.

Workshop Kreasi Kriya Keluarga Tunas membuktikan bahwa teknologi dan tradisi tidak harus berseberangan. Justru di era digital, kehangatan yang dirajut tangan menjadi semakin bernilai—mengajarkan kembali kepada generasi muda bahwa sentuhan manusia tidak akan pernah tergantikan oleh algoritma.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User