Ketika Teror Pocong Menjadi Cermin Krisis Ekonomi

Riuh penampakan makhluk berbalut kain kafan kembali menyeruak di tengah lesunya denyut nadi perekonomian nasional. Dalam beberapa pekan terakhir, laporan warga yang mengaku menyaksikan teror pocong me...

Ketika Teror Pocong Menjadi Cermin Krisis Ekonomi

Riuh penampakan makhluk berbalut kain kafan kembali menyeruak di tengah lesunya denyut nadi perekonomian nasional. Dalam beberapa pekan terakhir, laporan warga yang mengaku menyaksikan teror pocong melonjak di berbagai daerah, bersamaan dengan rilis data makro yang menunjukkan pelemahan daya beli masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir kuartal ketiga, angka kemiskinan bertambah dan kelas menengah terus mengalami penurunan proporsi, menciptakan tekanan psikologis kolektif yang menemukan salurannya pada folklor kematian.

Melacak Koinidensi di Tengah Tekanan Inflasi

Di satu sisi, kemunculan narasi mistis ini dapat dijelaskan sebagai mekanisme katarsis sosial. Ketika inflasi bahan pokok merangkak naik dan nilai tukar rupiah terdepresiasi, otak manusia secara alami mencari kambing hitam di luar nalar untuk menjelaskan ketidakberdayaan. Angka inflasi inti yang bertahan di kisaran 3,2 persen secara year-on-year dan melebarnya rasio gini ke 0,389 menciptakan kecemasan eksistensial yang tak kasat mata. Di sisi lain, skeptisisme ilmiah mempertanyakan validitas fenomena ini sebagai sekadar konstruksi psikologis belaka. Namun, pengabaian total terhadap gejalanya justru mengabaikan fakta bahwa sentimen negatif yang berlebihan dapat mempengaruhi fundamental ekonomi riil melalui perlambatan transaksi malam hari dan terganggunya mobilitas warga di sentra-sentra ekonomi kecil.

Membaca Siklus: Pola Berulang Sejak Krismon 1998

Sejarah ekonomi modern Indonesia mencatat, teror pocong bukanlah variabel baru dalam lanskap krisis. Kala badai krismon menerjang pada periode 1997 hingga 1998, histeria massal serupa merebak, sejalan dengan anjloknya Produk Domestik Bruto hingga minus 13,1 persen. Fundamental yang rapuh akibat rasio utang luar negeri terhadap PDB menciptakan gelombang pemutusan hubungan kerja massal, dan di tengah ketidakpastian tersebut, rumor tentang penampakan pocong menjadi katup pelepas tekanan yang paling mudah dicerna. Saat ini, proyeksi pertumbuhan ekonomi yang direvisi ke level 4,8 hingga 5,0 persen serta capital outflow dari portofolio surat berharga negara mengulangi pola serupa, meski dengan skala yang lebih moderat.

Fenomena ini bergerak layaknya leading indicator non-konvensional yang mencerminkan memburuknya ekspektasi masyarakat. Valuasi psikologis terhadap masa depan individu seringkali tercermin bukan dari indeks saham gabungan, melainkan dari seberapa besar ketakutan mereka terhadap hal-hal irasional. Ketika likuiditas di pasar tradisional mengering dan kredit macet mulai menunjukkan tren kenaikan di atas 2,5 persen, kengerian terhadap hantu penagih utang yang disimbolkan melalui pocong justru menjadi metafora paling jujur dari keterhimpitan anggaran rumah tangga.

Dari Mitos ke Indikator Alternatif Tekanan Hidup

"Fenomena sosial seperti ini adalah cerminan dari tingkat stres finansial yang tidak tertangkap dalam laporan makroprudensial OJK atau data moneter BI," ujar seorang analis perilaku ekonomi yang menolak disebutkan namanya. "Pocong adalah representasi dari mayat hidup, mereka yang secara teknis hidup tetapi tidak memiliki akses pada kredit produktif atau tabungan yang memadai."

Dari perspektif ini, meningkatnya penampakan tidak bisa dipisahkan dari menyusutnya porsi tabungan masyarakat di level menengah bawah. Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan memang masih mencatat pertumbuhan year-on-year sekitar 6,4 persen, namun hal itu lebih didominasi oleh pundi-pundi korporasi besar dan nasabah tajir, bukan oleh masyarakat kebanyakan yang justru menghadapi fenomena makan tabungan. Deindustrialisasi dini di beberapa sektor padat karya serta impor pangan yang mengalami lonjakan nilai membuat dapur rumah tangga mengepulkan asap yang semakin tipis. Di tengah himpitan itu, narasi pocong yang bergentayangan di pekarangan rumah menjadi simbol paling gamblang atas rasa terisolasi dan tak berdaya seorang individu yang terperangkap dalam sistem ekonomi yang tidak berpihak.

Kontra terhadap asumsi mistis tentu meyakini bahwa semua ini memiliki penjelasan fisik, mulai dari kelelahan massal hingga sugesti media sosial. Namun, ekonomi perilaku mengajarkan bahwa manusia tidak selalu rasional; mereka digerakkan oleh sentimen pasar dalam arti yang paling mendasar, yaitu rasa takut dan harapan. Ketika indikator kepercayaan konsumen turun di bawah ambang 100 poin, kepercayaan pada hal-hal gaib seringkali naik secara proporsional. Oleh karena itu, memandang fenomena ini hanya sebagai lelucon atau kegilaan massal adalah sebuah kekeliruan dalam membaca peta ketahanan sosial. Kain kafan putih yang melompat-lompat di malam hari itu, pada hakikatnya, adalah bendera putih perlawanan warga terhadap himpitan beban hidup yang kian mencekik.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User