BNI Fasilitasi UMKM Batik dan Kriya di Puspa Nuswantara
Jakarta – Upaya memperkuat ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus dilakukan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kali ini, bank pelat merah tersebut melibatkan tiga pelaku usaha ...
Jakarta – Upaya memperkuat ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus dilakukan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kali ini, bank pelat merah tersebut melibatkan tiga pelaku usaha binaannya dalam Pameran Puspa Nuswantara 2026, sebuah ajang tahunan yang mempertemukan para perajin dengan pasar yang lebih luas. Langkah ini menjadi bagian dari strategi BNI untuk tidak hanya memberikan pembiayaan, tetapi juga membuka akses pemasaran bagi para mitra binaannya.
Mendorong Promosi dan Jaringan Pasar
Keikutsertaan dalam pameran berskala nasional seperti Puspa Nuswantara diyakini mampu memberikan dampak signifikan bagi para pelaku UMKM. Ketiga mitra yang dibawa BNI berasal dari sektor batik dan kriya—dua subsektor yang kaya akan warisan budaya sekaligus memiliki potensi ekonomi besar. Dengan kehadiran di pameran tersebut, para perajin dapat memamerkan produk unggulannya langsung kepada konsumen, kolektor, dan pembeli potensial dari berbagai daerah. Selain transaksi langsung, pameran juga menjadi ajang untuk menjalin relasi bisnis dan membuka peluang kerja sama dengan pihak lain, termasuk eksportir dan pemilik galeri. Banyak UMKM yang sebelumnya hanya mengandalkan penjualan daring atau dari mulut ke mulut, kini berkesempatan memperluas jangkauan pasar secara signifikan.
Peran BNI dalam Pengembangan UMKM
Sebagai salah satu bank BUMN, BNI memiliki program kemitraan dan binaan yang telah berjalan selama bertahun-tahun. Hingga akhir 2025, BNI mencatat memiliki lebih dari 10.000 UMKM binaan yang tersebar di berbagai sektor. Dari jumlah tersebut, sekitar 35 persen bergerak di bidang fesyen dan kerajinan, termasuk batik, tenun, dan aksesori. Tidak hanya memberikan pinjaman dengan bunga ringan, BNI juga menyediakan pelatihan manajemen usaha, digitalisasi, dan strategi pemasaran. Keikutsertaan dalam Puspa Nuswantara 2026 menjadi kelanjutan dari program pendampingan tersebut, di mana UMKM benar-benar didorong untuk naik kelas dari sekadar produksi rumahan menjadi brand yang dikenal luas.
Melalui pameran, UMKM binaan BNI mendapatkan pendampingan dalam hal kurasi produk, desain kemasan, hingga teknik presentasi. Hal ini penting karena banyak perajin yang produknya berkualitas namun belum memahami cara mengemas dan memasarkan dengan baik. BNI bahkan menanggung biaya partisipasi pameran sepenuhnya, sehingga UMKM tidak perlu khawatir soal biaya sewa stan dan logistik. Dengan begitu, para pelaku usaha dapat fokus menyiapkan produk terbaik dan menjalin komunikasi dengan calon pembeli.
Dampak Bagi Pelestarian Budaya
Puspa Nuswantara sendiri dikenal sebagai pameran yang mengedepankan produk-produk berbasis kearifan lokal. Dengan menampilkan batik dan kriya, BNI tidak hanya membantu dari sisi bisnis, tetapi juga turut melestarikan warisan budaya tak benda. Batik, misalnya, telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, namun pelaku usaha kecil sering kali kesulitan menjaga keberlanjutan produksi karena persaingan dengan produk tekstil bermotif batik cetak yang lebih murah. Pameran ini menjadi momen penting untuk mengedukasi masyarakat tentang nilai batik tulis dan cap asli, sekaligus memperkuat posisi tawar para perajin tradisional. Selain itu, kehadiran produk kriya seperti anyaman, ukiran, dan perhiasan etnik juga mampu menghidupkan kembali minat pasar terhadap kerajinan daerah yang nyaris terlupakan.
Direktur Utama BNI dalam keterangannya menegaskan bahwa dukungan terhadap UMKM batik dan kriya sejalan dengan misi BNI untuk menjadi bank yang dekat dengan komunitas. “Kami percaya bahwa UMKM adalah tulang punggung perekonomian nasional. Dengan hadir di Puspa Nuswantara, kami ingin mempertemukan produk-produk unggulan binaan kami dengan pasar yang lebih luas, sekaligus mengangkat budaya Indonesia ke panggung yang lebih tinggi,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai sekitar 61 persen pada tahun 2025. Namun, akses pasar masih menjadi kendala utama, terutama bagi UMKM yang berlokasi di luar Jawa. Pameran seperti Puspa Nuswantara yang diadakan di pusat perbelanjaan atau area strategis di Jakarta menjadi jembatan penting untuk mengurangi kesenjangan tersebut. Dengan mempertemukan langsung produsen dan konsumen, transaksi bisa terjadi tanpa rantai distribusi panjang yang sering menggerus margin keuntungan perajin.
Prospek Setelah Pameran
BNI tidak hanya berhenti setelah pameran usai. Pihak bank akan memantau perkembangan penjualan dan jejaring yang terbentuk selama pameran. Jika ada UMKM yang berhasil mendapatkan order dalam jumlah besar, BNI siap memberikan tambahan modal kerja agar kapasitas produksi dapat ditingkatkan. Ini merupakan bagian dari ekosistem pembinaan terpadu yang diharapkan mampu menciptakan UMKM tangguh dan berdaya saing global. Bagi mitra binaan yang produknya mendapat apresiasi positif, BNI juga berencana mendorong mereka untuk mengurus hak kekayaan intelektual (HAKI) seperti merek dagang dan desain industri, guna melindungi produk dari peniruan.
Ke depan, BNI merencanakan membawa lebih banyak UMKM binaan ke pameran-pameran internasional seperti Inacraft, Trade Expo Indonesia, hingga pameran di luar negeri. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat citra produk Indonesia dan secara langsung mendorong ekspor nonmigas. Dengan demikian, dukungan BNI tidak hanya berdampak pada skala lokal, tetapi juga membantu menempatkan UMKM Indonesia di kancah global.
Baca juga:
Comments (0)