Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 30 Juni 2025, ketegangan geopolitik (hubungan politik antarnegara yang berpotensi menimbulkan konflik) di Timur Tengah kembali menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi sentimen pasar (suasana psikologis para pelaku pasar terhadap suatu aset atau kondisi ekonomi) di tingkat global. Pergerakan ini tidak terlepas dari rencana penguatan kehadiran pasukan Amerika Serikat di wilayah tersebut, yang secara langsung memicu perhitungan ulang terhadap risiko di pasar keuangan maupun pasar komoditas (barang dagangan yang dapat diperjualbelikan, seperti minyak, emas, dan gandum).
Perubahan yang terjadi pada pasar komoditas umumnya tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya eskalasi konflik. Hal ini dikarenakan reaksi pasar lebih sering ditentukan oleh proyeksi (perkiraan atas kondisi yang akan terjadi di masa mendatang) para pelaku pasar, dibandingkan dengan kejadian itu sendiri. Dengan kata lain, ketidakpastian akan masa depan cenderung lebih berpengaruh dibandingkan dengan kepastian atas adanya peningkatan kehadiran militer.
Reaksi Pasar Terhadap Peningkatan Risiko
Di satu sisi, peningkatan risiko geopolitik kerap mendorong pelaku pasar untuk beralih ke aset yang dianggap aman. Salah satu aset tersebut adalah emas, yang secara historis kerap mengalami kenaikan permintaan ketika sentimen pasar memburuk. Berdasarkan data year-on-year (perbandingan antara periode yang sama di tahun ini dengan tahun sebelumnya) per Mei 2025, harga emas spot (harga emas untuk transaksi langsung di pasar global) tercatat mengalami kenaikan sebesar 27,8% jika dibandingkan dengan Mei 2024. Tren (kecenderungan pergerakan data dalam jangka waktu tertentu) ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap emas masih terjaga, meski laju kenaikannya cenderung melambat dalam beberapa pekan terakhir.
Di sisi lain, pasar juga tetap memperhitungkan fundamental (kondisi dasar yang memengaruhi nilai suatu aset, seperti penawaran, permintaan, dan biaya produksi) dari masing-masing komoditas. Untuk pasar minyak mentah, faktor penawaran global masih menjadi penentu utama. Berdasarkan proyeksi dari lembaga energi internasional, rasio (perbandingan antara dua angka atau nilai) pemanfaatan kapasitas produksi minyak dunia masih berada di kisaran 83%, yang tergolong cukup untuk menahan lonjakan harga secara drastis. Kondisi ini turut menjelaskan mengapa harga minyak mentah Brent (salah satu acuan harga minyak global) hanya mengalami kenaikan tipis sebesar 0,7% ke level USD 86,50 per barel, jauh di bawah lonjakan yang kerap terjadi pada masa eskalasi konflik besar di masa lalu.
Dampak Terhadap Keuangan Global dan Domestik
Ketegangan ini tidak hanya berdampak pada komoditas, namun juga terhadap aliran dana global. Ketika sentimen pasar memburuk, beberapa investor asing dapat melakukan capital outflow (keluarnya dana asing dari suatu negara untuk dialihkan ke negara atau aset lain), khususnya dari pasar negara berkembang. Berdasarkan data OJK per Mei 2025, pasar surat berharga negara Indonesia mencatat capital outflow sebesar Rp 14,2 triliun secara month-to-month (perbandingan antara bulan ini dengan bulan sebelumnya), yang turut memengaruhi likuiditas (kemudahan suatu aset untuk dikonversi menjadi uang tunai tanpa kehilangan nilai yang signifikan) di pasar domestik.
Di satu sisi, keluarnya dana tersebut dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Indeks nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tercatat mengalami penurunan sebesar 1,9% year-on-year hingga akhir Juni 2025. Tekanan ini dapat berdampak pada biaya impor, khususnya impor barang yang berdenominasi dolar, sehingga perlu diwaspadai dalam perhitungan valuasi (penilaian atas nilai wajar suatu aset atau barang) terhadap inflasi domestik. Di sisi lain, fundamental perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Berdasarkan data BPS per kuartal I 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 4,87% year-on-year, dengan rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang masih berada di bawah 40%, sebuah angka yang relatif terjaga dibandingkan dengan beberapa negara berkembang lainnya.
Implikasi Jangka Menengah
Pergerakan harga emas yang hanya mengalami kenaikan tipis, berbanding dengan lonjakan pada aset safe haven (aset yang dianggap aman saat pasar bergejolak) di periode lain, menjadi salah satu indikator bahwa pasar masih berhati-hati. Hal ini dapat dilihat dari pergerakan indeks volatilitas (indeks yang mengukur tingkat ketidakpastian pasar) global yang hanya naik sebesar 4,3% dalam dua pekan terakhir, jauh lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan sebesar 32% yang tercatat pada periode eskalasi serupa pada tahun 2022.
Di satu sisi, jika ketegangan berlanjut tanpa eskalasi berskala besar, proyeksi pasar cenderung mengarahkan harga komoditas untuk kembali bergerak berdasarkan fundamental, alih-alih sentimen pasar semata. Hal ini dapat memberikan ruang bagi stabilitas harga, khususnya bagi komoditas energi. Di sisi lain, jika terdapat perluasan wilayah konflik, premi risiko (tambahan harga yang dibebankan akibat adanya risiko atau ketidakpastian) dapat kembali meningkat secara signifikan. Kondisi ini berpotensi memengaruhi portofolio (kumpulan aset yang dimiliki oleh individu, institusi, atau dana) global, sekaligus menambah tekanan terhadap likuiditas di pasar negara berkembang.
Ketegangan geopolitik memang dapat memicu reaksi pasar dalam jangka pendek, namun dampak jangka menengahnya akan sangat bergantung pada apakah perubahan tersebut memengaruhi penawaran fisik komoditas, bukan hanya persepsi risiko. - Ekonom Senior, Beritadua
Secara keseluruhan, reaksi pasar terhadap rencana penguatan pasukan di Timur Tengah saat ini lebih mencerminkan kehati-hatian, bukan kepanikan. Kenaikan tipis pada harga emas, diiringi dengan stabilitas relatif harga minyak, menunjukkan adanya keseimbangan antara sentimen pasar dan fundamental. Bagi perekonomian domestik, tantangan yang perlu dicermati terletak pada potensi capital outflow dan tekanan nilai tukar, namun ketahanan fundamental Indonesia masih menjadi faktor penyeimbang yang cukup kuat untuk meredam guncangan tersebut.
Comments (0)