Oct 05, 2026
Bisnis

Rupiah dan IHSG Tertekan Sentimen Eksternal

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 30 September 2025, pergerakan pasar keuangan domestik menunjukkan tekanan yang cukup signifikan. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) men...

Rupiah dan IHSG Tertekan Sentimen Eksternal

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 30 September 2025, pergerakan pasar keuangan domestik menunjukkan tekanan yang cukup signifikan. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) mengalami penurunan hingga berada di kisaran Rp16.215 per USD, atau setara dengan depresiasi (penurunan nilai mata uang) sebesar 5,8% secara year-on-year dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yaitu indeks yang mengukur pergerakan harga seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, juga mengalami penurunan yang cukup dalam. IHSG tercatat turun sebesar 7,2% secara year-on-year, dengan rata-rata volume perdagangan yang menunjukkan perlambatan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Kondisi ini menandakan adanya pergeseran dalam sentimen pasar (pandangan dan ekspektasi pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi ke depan) yang saat ini cenderung berhati-hati terhadap aset-aset berisiko di negara berkembang.

Tekanan Global yang Mendorong Perubahan Tren

Pergerakan ini tidak terlepas dari dinamika ekonomi global yang saat ini sedang mengalami ketidakpastian. Di satu sisi, kebijakan moneter (kebijakan yang diambil bank sentral untuk mengatur jumlah uang beredar dan suku bunga) di Amerika Serikat masih menjadi faktor dominan. Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, telah mempertahankan suku bunga acuan pada level yang tinggi selama beberapa periode terakhir. Tingkat suku bunga yang tinggi ini berdampak pada meningkatnya daya tarik aset-aset berbasis Dolar, sehingga mendorong terjadinya capital outflow (arus keluar modal asing dari suatu negara ke negara lain) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Berdasarkan estimasi arus modal, capital outflow bersih dari pasar obligasi dan saham domestik tercatat mencapai Rp15,3 triliun pada kuartal III tahun 2025, angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal II tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp6,7 triliun.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik dan pelemahan ekonomi di sejumlah kawasan juga turut memperkuat tren penghindaran risiko (risk-off) di kalangan investor global. Hal ini menyebabkan likuiditas (kemudahan suatu aset untuk dikonversi menjadi uang tunai tanpa kehilangan nilai yang signifikan) di pasar negara berkembang menjadi lebih terbatas. Kondisi tersebut secara langsung memberikan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah, sekaligus memengaruhi kinerja portofolio (kumpulan aset investasi yang dimiliki oleh individu maupun institusi) yang berinvestasi pada instrumen pasar modal domestik.

Dampak Terhadap Fundamental Ekonomi Domestik

Meskipun tekanan berasal dari luar, fundamental (kondisi dasar ekonomi suatu negara, seperti inflasi, pertumbuhan, dan neraca pembayaran) perekonomian Indonesia masih menunjukkan beberapa titik ketahanan. Berdasarkan data BPS per Agustus 2025, inflasi (kenaikan harga barang dan jasa secara umum) tercatat sebesar 2,1% secara year-on-year, masih berada di bawah batas atas sasaran Bank Indonesia yaitu 3,0%. Selain itu, rasio (perbandingan antara dua angka atau indikator ekonomi) utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada pada kisaran 39,5%, jauh di bawah rata-rata negara berkembang lainnya yang umumnya berada di atas 60%. Neraca perdagangan (selisih antara nilai ekspor dan impor) juga masih mencatatkan surplus (kelebihan ekspor dibandingkan impor) sebesar USD4,2 miliar secara kumulatif hingga Agustus 2025, yang turut membantu menopang kebutuhan valuta asing.

Namun, perlu diperhatikan bahwa tekanan terhadap valuasi (penilaian terhadap harga suatu aset dibandingkan dengan nilai intrinsiknya) pasar saham domestik mulai terlihat. Beberapa sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku mengalami tekanan margin (selisih antara pendapatan dan biaya) akibat depresiasi Rupiah. Di samping itu, kenaikan imbal hasil (return) obligasi pemerintah Amerika Serikat turut memengaruhi ekspektasi imbal hasil instrumen domestik, sehingga berpotensi membatasi ruang pergerakan bagi beberapa sektor dalam jangka pendek.

Dua Perspektif atas Kondisi Saat Ini

Di satu sisi, tekanan yang terjadi saat ini lebih banyak didorong oleh sentimen pasar, bukan oleh kerusakan fundamental yang menyeluruh. Ketahanan inflasi, surplus perdagangan, serta rasio utang yang terjaga memberikan landasan bahwa perekonomian domestik masih memiliki bantalan untuk merespons gejolak. Dalam konteks ini, likuiditas domestik yang dikelola oleh Bank Indonesia melalui berbagai instrumen operasi pasar terbuka turut berperan dalam meredam volatilitas (pergerakan harga yang cepat dan tidak menentu) tanpa mengorbankan stabilitas harga secara berlebihan.

Di sisi lain, tidak dapat diabaikan bahwa durasi tekanan global berpotensi memperlebar dampaknya. Apabila capital outflow terus berlanjut dalam intensitas yang tinggi, tekanan terhadap Rupiah dapat berimplikasi pada biaya impor, khususnya komoditas strategis. Selain itu, koreksi (penurunan harga) pada IHSG dapat berdampak pada persepsi terhadap pasar secara keseluruhan, meski hal tersebut tidak serta merta mencerminkan kinerja riil seluruh pelaku usaha. Oleh karena itu, proyeksi (perkiraan kondisi ekonomi ke depan berdasarkan data dan asumsi) pergerakan pasar ke depan akan sangat bergantung pada kecepatan meredanya ketidakpastian global, serta konsistensi respons kebijakan domestik.

"Dalam kondisi di mana sentimen global mendominasi, stabilitas makro menjadi faktor yang paling menentukan daya tahan suatu negara. Namun, ketahanan tersebut perlu diuji oleh konsistensi kebijakan dan respons terhadap dinamika likuiditas global,"

Dengan mempertimbangkan kedua perspektif tersebut, tren saat ini menunjukkan bahwa pasar keuangan domestik sedang berada dalam fase koreksi yang dipengaruhi oleh faktor eksternal. Meskipun fundamental domestik masih relatif terjaga, volatilitas diperkirakan masih akan mewarnai pergerakan indeks dan nilai tukar dalam beberapa periode mendatang. Hal ini menjadi pengingat penting bahwa dalam perekonomian terbuka, gejolak di belahan dunia lain dapat dengan cepat merambat ke pasar domestik, namun kekuatan fundamental tetap menjadi penyeimbang yang krusial bagi ketahanan ekonomi secara keseluruhan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User