Sep 01, 2026
Bisnis

Ketegangan Selat Hormuz Angkat IHSG, Analis Bagikan Dua Perspektif

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per perdagangan sesi akhir pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 1,67% ke level 7.258, setelah sempat tertekan di awal...

Ketegangan Selat Hormuz Angkat IHSG, Analis Bagikan Dua Perspektif

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per perdagangan sesi akhir pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 1,67% ke level 7.258, setelah sempat tertekan di awal perdagangan akibat sentimen geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah. Lonjakan ini terjadi di tengah proses rebalancing portofolio indeks MSCI yang turut memengaruhi aliran modal asing di pasar domestik.

Selat Hormuz Kembali Jadi Sorotan

Ketegangan di Selat Hormuz mengalami eskalasi setelah adanya insiden pelayaran yang melibatkan kapal tanker di kawasan strategis tersebut. Selat yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Teluk Persia ini menjadi jalur pengiriman 20% pasokan minyak mentah dunia setiap harinya. Ancaman gangguan di jalur ini secara historis selalu memicu volatilitas tinggi di pasar energi global sekaligus membangkitkan sentimen risk-off di pasar saham berkembang.

Di satu sisi, ketegangan geopolitik ini justru mendorong harga minyak mentah Brent naik ke kisaran USD 84 per barel, yang memberikan angin segar bagi emiten sektor energi dan pertambangan yang memiliki bobot signifikan dalam indeks komposit. Kenaikan harga komoditas energi secara langsung meningkatkan proyeksi pendapatan dan marjin keuntungan perusahaan-perusahaan sektor tersebut, sehingga menarik minat beli investor institusional.

Di sisi lain, analis mengingatkan bahwa eskalasi konflik di kawasan tersebut membawa risiko capital outflow dari pasar berkembang termasuk Indonesia. Kondisi ini berpotensi melemahkan nilai tukar rupiah dan meningkatkan biaya impor energi yang pada akhirnya membebani defisit transaksi berjalan. Data Bank Indonesia menunjukkan neraca pembayaran Indonesia pada kuartal sebelumnya sudah mencatat tekanan moderat akibat kenaikan impor energi.

Dinamika Rebalancing MSCI Indonesia

Proses rebalancing indeks MSCI yang berlangsung pada akhir periode review turut menjadi pendorong naiknya IHSG. Dalam siklus review terbaru, beberapa saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan dan consumer goods mengalami penyesuaian bobot. Aliran dana masuk dari rebalancing ini diperkirakan mencapai USD 280 juta berdasarkan estimasi valuasi manajer investasi yang mengikuti indeks.

Pro: Partisipasi asing dalam rebalancing menunjukkan kepercayaan investor global terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang tetap solid di tengah ketidakpastian global. Rasio utang terhadap PDB Indonesia yang terjaga di bawah 40% menjadi salah satu indikator positif yang menopang sentimen investornya.

Kontra: Namun, analis mengingatkan bahwa ketergantungan pada aliran portofolio asing membawa risiko tersendiri. Volatilitas aliran masuk dan keluar (hot money) dapat memperlebar fluktuasi indeks, terutama ketika sentimen global berbalik negatif akibat kebijakan bank sentral negara maju.

Proyeksi dan Rekomendasi Fundamental

Melihat tren data makro terkini, konsumsi rumah tangga Indonesia masih menunjukkan resiliensi dengan pertumbuhan 5,05% year-on-year berdasarkan laporan BPS. Sektor-sektor defensif seperti farmasi, makanan minuman, dan utilitas menjadi magnet minat beli investor yang mencari portofolio pelindung di tengah ketidakpastian geopolitik.

Secara teknikal, IHSG saat ini berada di zona support psikologis 7.100 dengan resisten terdekat di level 7.350. Indikator Relative Strength Index (RSI) menunjukkan kondisi overbought pada level 68, yang mengisyaratkan potensi koreksi moderat dalam perdagangan mendatang.

Para ekonom memperkirakan volatilitas pasar akan tetap tinggi dalam beberapa minggu ke depan seiring dengan menunggu keputusan The Fed regarding kebijakan suku bunga acuannya. Jika bank sentral AS mempertahankan sikap hawkish, arus modal ke pasar berkembang termasuk Indonesia berpotensi mengalami tekanan tambahan.

Secara keseluruhan, rebound IHSG kali ini menunjukkan karakteristik yang berbeda dari kenaikan biasa karena didorong oleh kombinasi faktor eksternal berupa ketegangan geopolitik dan faktor teknis dari rebalancing indeks. Investor disarankan untuk tetap memperhatikan diversifikasi portofolio dan memantau perkembangan situasi di Selat Hormuz sebagai variabel kunci penentu arah pasar dalam periode terdekat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User