Ketegangan AS-Iran Bikin Bursa Asia Variatif, Kospi Melejit 2%

Berdasarkan data Bank Indonesia dan bursa efek regional per 15 Agustus 2025, pasar saham Asia menunjukkan tren yang variatif di tengah eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. I...

Aug 18, 2026 - 13:50
0 0
Ketegangan AS-Iran Bikin Bursa Asia Variatif, Kospi Melejit 2%

Berdasarkan data Bank Indonesia dan bursa efek regional per 15 Agustus 2025, pasar saham Asia menunjukkan tren yang variatif di tengah eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Indeks Kospi Korea Selatan mengalami kenaikan signifikan sebesar 2% pada penutupan perdagangan sesi terakhir, sementara bursa lain seperti Nikkei 225 Jepang dan Hang Seng Hong Kong mengalami penurunan tipis di kisaran 0,3% hingga 0,7%. Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak terbatas dengan likuiditas yang menipis seiring dengan sikap wait-and-see pelaku pasar global yang mencermati dinamika harga minyak mentah dan rilis data ekonomi Amerika Serikat.

Dinamika Regional dan Sentimen Geopolitik

Ketegangan di Selat Hormuz telah memicu lonjakan volatilitas pada aset-aset berisiko di kawasan Asia. Di satu sisi, eskalasi konflik AS-Iran mendorong capital outflow dari pasar negara berkembang menuju aset safe-haven seperti dolar AS dan emas, yang membuat indeks bursa Jakarta maupun Bangkok mengalami tekanan jual dalam jangka pendek. Di sisi lain, sektor energi dan pertahanan di beberapa bursa justru mendapatkan sentimen positif karena proyeksi kenaikan harga komoditas energi. Hal ini tercermin dari lompatan indeks Kospi yang didorong oleh saham-saham teknologi dan energi besar, dengan rasio kenaikan year-on-year mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir.

Investor juga mengalokasikan ulang portofolio mereka dengan mempertimbangkan risiko geopolitik yang semakin kompleks. Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan mengalami kenaikan mendekati USD 82 per barel, naik sekitar 4,5% dibandingkan minggu lalu. Kondisi ini menambah beban bagi negara-negara importir energi bersih, termasuk Indonesia, India, dan Jepang, yang berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan serta menekan fundamental ekonomi makro secara keseluruhan.

Fundamental Ekonomi dan Tren Likuiditas Global

Pasar saham regional tidak lepas dari bayangan data ekonomi AS yang akan dirilis dalam waktu dekat, termasuk indikator inflasi Consumer Price Index (CPI) dan klaim pengangguran. Data tersebut menjadi acuan utama bagi pelaku pasar untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Jika data menunjukkan perlambatan ekonomi yang signifikan, maka ekspektasi penurunan suku bunga akan meningkat dan berpotensi mengalirkan kembali likuiditas ke pasar Asia. Sebaliknya, inflasi yang persisten bisa memperpanjang sikap hawkish Fed dan memperburuk tekanan pada mata uang regional.

"Kami melihat bahwa valuasi pasar saham Asia saat ini berada pada level yang menarik secara historis, namun investor tetap harus waspada terhadap sentimen pasar yang bisa berbalik cepat akibat faktor geopolitik. Penyesuaian portofolio dengan memperhatikan rasio risk-reward menjadi sangat krusial dalam kondisi ini," ujar seorang analis ekonomi regional.

Di tengah ketidakpastian global, valuasi IHSG berada pada level PER (Price Earnings Ratio) sekitar 14,8 kali, sedikit di bawah rata-rata lima tahun sebesar 15,2 kali. Kondisi ini mengindikasikan bahwa dari sisi fundamental, sejumlah saham sudah masuk ke zona diskon, meskipun sentimen pasar masih cenderung negatif akibat aksi jual asing. Nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia juga terpantau turun sekitar 12% year-on-year, menandakan bahwa partisipasi investor masih wait-and-see hingga ada kejelasan dari data makro global.

Prospek Valuasi dan Penyesuaian Portofolio

Melihat ke depan, arah pergerakan bursa Asia sangat bergantung pada resolusi ketegangan Timur Tengah dan kebijakan moneter AS. Di satu sisi, apabila harga minyak stabil di bawah USD 85 per barel dan The Fed memberikan sinyal pelonggaran moneter, maka pasar berpotensi mengalami rebound yang didukung oleh masuknya kembali arus modal asing. Di sisi lain, jika konflik memanas dan mendorong harga energi ke level USD 90 per barel atau lebih tinggi, risiko stagflasi akan mengancam dan bisa memicu koreksi lebih dalam pada indeks-indeks regional, terutama bagi negara dengan rasio utang luar negeri tinggi dan ketergantungan impor energi besar.

Dalam konteks ini, diversifikasi portofolio menjadi strategi yang relevan. Investor domestik disarankan untuk memperhatikan sektor-sektor dengan fundamental kuat seperti perbankan dan konsumen staples yang memiliki daya tahan terhadap gejolak harga komoditas. Sementara itu, sektor manufaktur dan transportasi berpotensi mengalami penurunan margin akibat kenaikan biaya energi. Pemantauan terhadap indeks volatilitas (VIX), pergerakan rupiah terhadap dolar AS, serta data cadangan devisa Indonesia yang dilaporkan Bank Indonesia menjadi parameter penting untuk membaca arah tren pasar keuangan dalam beberapa pekan mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User