Oct 05, 2026
Bisnis

Ketangguhan Jadi Kunci Masa Depan Pemuda

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2024, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia mengalami penurunan menjadi 4,91%, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2023 ...

Ketangguhan Jadi Kunci Masa Depan Pemuda

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2024, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia mengalami penurunan menjadi 4,91%, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2023 yang tercatat sebesar 5,32%. Meskipun tren ini menunjukkan perbaikan secara year-on-year, angka tersebut masih menyisakan tantangan besar, khususnya bagi kelompok usia muda. Data yang sama menunjukkan bahwa TPT untuk usia 15-24 tahun masih berada di kisaran 19,40%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional. Kondisi ini menjadi latar belakang penting bagi upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia di berbagai wilayah, termasuk di Provinsi Lampung.

Bonus Demografi yang Tidak Gratis

Indonesia saat ini tengah berada dalam periode bonus demografi, yaitu kondisi dimana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) jauh lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia tidak produktif. Berdasarkan proyeksi BPS, jendela peluang ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga sekitar tahun 2035. Di satu sisi, kondisi ini dapat menjadi fundamental yang kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang, terutama apabila angkatan muda mampu terserap ke dalam lapangan kerja yang berkualitas. Di sisi lain, bonus demografi dapat berubah menjadi beban ekonomi apabila laju penciptaan lapangan kerja tidak mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja. Untuk wilayah seperti Lampung, dengan jumlah penduduk usia muda yang cukup besar, rasio ketergantungan (dependency ratio) yang terus mengalami penurunan perlu diimbangi dengan peningkatan kapasitas, keterampilan, serta ketangguhan mental untuk bersaing di pasar kerja yang semakin kompetitif.

Ketangguhan Sebagai Modal Ekonomi

Dalam konteks ketenagakerjaan dan pembangunan, istilah ketangguhan (resiliensi) tidak hanya berkaitan dengan kondisi psikologis, namun juga berkaitan dengan kemampuan ekonomi untuk bertahan dari tekanan. Berdasarkan data OJK per tahun 2023, indeks literasi keuangan nasional baru mencapai 65,43%, sedangkan indeks inklusi keuangan berada pada angka 75,02%. Angka ini menunjukkan adanya tren peningkatan, namun masih terdapat kesenjangan yang cukup lebar antar wilayah. Di satu sisi, semakin tinggi literasi keuangan, maka semakin besar potensi masyarakat untuk membentuk portofolio keuangan yang sehat serta menjaga likuiditas pribadi di tengah gejolak ekonomi. Di sisi lain, tingginya angka inklusi belum serta merta menjamin kualitas pemahaman keuangan. Tanpa dibarengi dengan sikap tangguh dan kritis terhadap risiko, kemudahan akses layanan keuangan justru dapat meningkatkan kerentanan terhadap guncangan, khususnya bagi mereka yang baru pertama kali terjun ke dunia kerja atau berwirausaha.

Pembelajaran dan Kerja Keras dalam Jangka Panjang

Proses membangun ketangguhan tidak dapat terjadi secara instan, melainkan melalui pembelajaran berkelanjutan. Hal ini berkaitan erat dengan valuasi terhadap waktu dan pengalaman. Berdasarkan data Bank Indonesia, sentimen pasar domestik kerap mengalami fluktuasi dari waktu ke waktu, dipengaruhi oleh faktor global seperti capital outflow maupun faktor domestik seperti ekspektasi pertumbuhan. Fluktuasi ini mengajarkan bahwa dalam dinamika ekonomi, tidak selalu terdapat hasil yang cepat, namun terdapat tren jangka panjang yang dapat diraih melalui konsistensi. Di satu sisi, budaya kerja keras dapat menjadi pendorong bagi generasi muda untuk terus meningkatkan kapabilitasnya, mulai dari keterampilan teknis, kemampuan digital, hingga pemahaman terhadap fundamental ekonomi. Di sisi lain, tekanan untuk meraih hasil secara cepat dapat memicu keputusan yang tidak rasional apabila tidak dibarengi dengan pembelajaran dari kegagalan itu sendiri. Oleh karena itu, membiasakan diri untuk belajar dari proses, bukan hanya dari keberhasilan, menjadi bagian penting dalam membentuk daya tahan ekonomi yang berkelanjutan.

Menjaga Momentum untuk Masa Depan

Melihat proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada pada kisaran 4,7% hingga 5,0% untuk tahun 2024 berdasarkan berbagai estimasi Bank Indonesia, momentum pemulihan ekonomi masih dapat terus dijaga. Namun, momentum tersebut tidak bersifat otomatis. Dibutuhkan kontribusi nyata dari angkatan muda untuk mengisi kebutuhan pasar kerja, mendorong inovasi, serta memperluas basis ekonomi di daerah. Di satu sisi, potensi ini dapat dimaksimalkan melalui penguatan pendidikan vokasi, literasi keuangan, serta ekosistem kewirausahaan yang inklusif. Di sisi lain, tanpa adanya pembentukan karakter berupa ketangguhan dan kedisiplinan dalam belajar, potensi tersebut berisiko tidak terwujud secara optimal. Dengan memanfaatkan jendela bonus demografi secara bijak, nilai-nilai tersebut bukan hanya menjadi bekal pribadi, namun juga menjadi investasi sumber daya manusia yang akan menentukan arah fundamental perekonomian Indonesia untuk beberapa dekade mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User