Oct 12, 2026
Bisnis

Kerupuk Kulit Jakarta Tembus Pasar Inggris, Bertahan 26 Tahun

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Badan Pusat Statistik per awal 2026, sektor industri makanan olahan skala mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi tulang punggung penyerapan tena...

Kerupuk Kulit Jakarta Tembus Pasar Inggris, Bertahan 26 Tahun

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Badan Pusat Statistik per awal 2026, sektor industri makanan olahan skala mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja nasional dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) industri manufaktur yang stabil di kisaran angka dua digit. Di tengah tekanan capital outflow dan pelemahan sentimen pasar global, salah satu rumah produksi kerupuk kulit di Jakarta—Cap Tiga Bintang—menunjukkan bahwa fundamental bisnis berbasis komoditas lokal dapat menembus pasar ekspor non-tradisional, termasuk Inggris.

Dari Kulit Sapi ke Pasar Global: Kapasitas 150 Kilogram per Hari

Rumah produksi yang beroperasi sejak 1999 ini mengolah sekitar 150 kilogram kulit sapi per hari menjadi kerupuk kulit siap konsumsi. Angka tersebut, jika dikonversi secara kasar, setara dengan 54 ton per tahun bahan baku—sebuah skala yang tidak kecil untuk usaha yang masih dikategorikan UMKM. Dalam konteks industri, utilisasi kapasitas sebesar itu menunjukkan likuiditas operasional yang terjaga, karena perputaran bahan baku yang cepat mengurangi risiko penyimpanan dan pembusukan, dua faktor yang sering menjadi titik lemah industri pengolahan hewani.

Dari sisi nilai tambah, kulit sapi mentah memiliki harga relatif rendah dibanding daging. Namun setelah melalui proses pencucian, perebusan, pengeringan, dan penggorengan, nilai jualnya dapat mengalami kenaikan berkali-kali lipat. Inilah yang dalam terminologi ekonomi disebut sebagai value added creation—menciptakan nilai tambah melalui pengolahan, bukan sekadar menjual bahan mentah.

Ekspor ke Inggris dan Tren Diversifikasi Pasar

Produk kerupuk kulit ini kini menembus pasar Inggris, sebuah negara dengan standar keamanan pangan yang ketat. Keberhasilan ini menarik untuk dicermati dari dua sisi.

Di satu sisi, penetrasi ke pasar Inggris membuktikan bahwa produk UMKM Indonesia mampu memenuhi standar internasional seperti sertifikasi higienitas, pelabelan, dan ketertelusuran bahan baku. Ini adalah sinyal positif bagi proyeksi ekspor makanan olahan nasional, yang menurut data Kementerian Perdagangan mengalami kenaikan year-on-year pada komoditas makanan olahan sepanjang periode 2021–2025. Diversifikasi pasar ke Eropa juga mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional seperti Malaysia, Singapura, dan Arab Saudi.

Di sisi lain, ekspor produk makanan rentan terhadap volatilitas nilai tukar, biaya logistik, dan perubahan regulasi di negara tujuan. Nilai tukar rupiah terhadap pound sterling yang berfluktuasi dapat menggerus margin keuntungan. Belum lagi kebijakan pasca-Brexit Inggris yang mengubah lanskap kepabeanan dan standar impor. Artinya, capaian ini perlu dibaca sebagai titik awal, bukan garis akhir. Tren ekspor satu produk tidak otomatis mencerminkan kesehatan keseluruhan industri.

"Ketahanan UMKM pangan kita sebenarnya terletak pada kedekatan dengan bahan baku lokal dan kemampuan beradaptasi dengan selera pasar. Ekspor ke Inggris itu bonus, bukan basis utama," kata seorang pengamat ekonomi industri dari sebuah lembaga riset di Jakarta, menggambarkan pentingnya fondasi domestik sebelum ekspansi global.

Valuasi, Risiko, dan Proyeksi ke Depan

Secara valuasi, bisnis kerupuk kulit memiliki karakteristik padat karya dengan margin yang bergantung pada efisiensi produksi dan harga bahan baku. Jika harga kulit sapi naik akibat permintaan industri lain—misalnya untuk gelatin atau pakan ternak—maka rasio biaya bahan baku terhadap pendapatan bisa membengkak. Karena itu, pengusaha perlu menjaga portofolio produk dan tidak bertumpu pada satu jenis olahan saja.

Dari kacamata makro, kontribusi ekspor kerupuk kulit memang tidak signifikan terhadap total devisa negara. Nilainya kalah jauh dibanding ekspor minyak kelapa sawit, tekstil, atau elektronik. Namun, dari perspektif mikro, keberadaan usaha yang bertahan lebih dari dua dekade—26 tahun sejak 1999—menunjukkan adanya keberlanjutan yang jarang dimiliki UMKM Indonesia, di mana banyak usaha gulung tikar dalam lima tahun pertama.

Proyeksi ke depan, sektor ini menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya energi, persaingan dengan produk impor, dan perubahan preferensi konsumen ke makanan rendah lemak. Di sisi lain, tren makanan etnik dan eksotis di pasar Barat justru membuka peluang. Indeks permintaan makanan Asia di Inggris dan Eropa cenderung mengalami kenaikan dalam lima tahun terakhir, sejalan dengan meningkatnya populasi diaspora dan minat kuliner global.

Kesimpulannya, kisah Cap Tiga Bintang adalah cermin dua wajah ekonomi Indonesia: optimisme bahwa produk lokal bisa mendunia, sekaligus pengingat bahwa tanpa dukungan likuiditas, akses pembiayaan, dan stabilitas regulasi, prestasi ekspor semacam ini sulit direplikasi dalam skala luas. Sentimen pasar boleh positif, tetapi fundamental usaha tetap harus dijaga dari hulu ke hilir.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User