Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta per triwulan ketiga 2026, sektor perikanan dan pengolahan hasil laut di kawasan pesisir utara menyumbang sekitar 2,4 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Jakarta, atau setara Rp3,1 triliun. Angka itu memang kecil dibandingkan sektor keuangan dan perdagangan yang mendominasi struktur ekonomi ibu kota. Namun bagi ribuan rumah tangga di Cilincing, Jakarta Utara, usaha kerang hijau bukan sekadar angka statistik — ia adalah sumber penghasilan harian yang menopang likuiditas rumah tangga di tengah tekanan biaya hidup.
Kerang hijau (Perna viridis) selama ini dikenal sebagai komoditas bernilai ekonomi rendah namun bervolume besar. Di satu sisi, aktivitas merebus, mengupas, dan mendistribusikan kerang menciptakan lapangan kerja informal yang menyerap tenaga kerja berpendidikan rendah. Di sisi lain, model usaha ini sangat rentan terhadap fluktuasi harga, kualitas air laut, dan musim cuaca yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim.
Nilai Ekonomi yang Kerap Terabaikan
Merujuk data Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta, produksi kerang hijau dari perairan Teluk Jakarta mencapai 12.500 ton sepanjang 2025, mengalami kenaikan sekitar 6,8 persen secara year-on-year dibandingkan 11.700 ton pada 2024. Harga jual di tingkat pengolah berkisar Rp8.000 hingga Rp12.000 per kilogram, bergantung ukuran dan kualitas cangkang.
Dengan asumsi harga rata-rata Rp10.000 per kilogram, nilai transaksi bruto komoditas ini menembus Rp125 miliar per tahun. Sebuah angka yang, jika dikelola dengan tata kelola rantai pasok yang lebih baik, berpotensi meningkat dua kali lipat melalui hilirisasi — misalnya pengolahan menjadi kerang kaleng, kerupuk, atau tepung protein.
"Sektor informal pesisir seperti pengolahan kerang hijau memiliki multiplier effect yang besar terhadap perputaran uang di tingkat kampung. Setiap rupiah yang dibelanjakan di sana langsung berputar ke warung, transportasi, dan jasa lokal," ungkap seorang pengamat ekonomi kelautan dari sebuah lembaga riset independen di Jakarta.
Multiplier effect ini menjelaskan mengapa sektor yang tampak marginal tetap vital. Uang yang beredar tidak bocor ke luar wilayah dalam waktu cepat, sehingga likuiditas lokal terjaga. Inilah fundamental ekonomi pesisir yang sering luput dari perhatian analis makro yang terlalu fokus pada indeks saham dan capital outflow di pasar modal.
Tekanan Biaya, Cuaca, dan Kualitas Lingkungan
Pro: usaha kerang hijau menawarkan biaya masuk (barrier to entry) yang rendah. Warga tidak memerlukan modal besar, sertifikasi rumit, atau teknologi canggih. Cukup dengan peralatan rebus sederhana, satu keluarga bisa membuka usaha pengolahan dan menyerap 3-5 tenaga kerja tetangga. Model ini terbukti tangguh saat krisis, termasuk ketika gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) melanda sektor formal pada 2020-2021.
Kontra: struktur pasar kerang hijau sangat terfragmentasi. Tidak ada koperasi tunggal yang mampu menetapkan harga acuan. Akibatnya, posisi tawar pengolah terhadap tengkulak lemah. Ketika pasokan melimpah, harga di tingkat produsen bisa anjlok hingga Rp6.000 per kilogram — di bawah biaya produksi rata-rata Rp7.500 per kilogram.
Risiko lain datang dari sisi lingkungan. Pencemaran perairan Teluk Jakarta membuat kualitas kerang fluktuatif. Kandungan logam berat dan mikroba patogen menjadi sentimen pasar yang menekan permintaan dari segmen ritel modern dan hotel. Beberapa pasar swalayan besar mensyaratkan sertifikasi mutu yang tidak terjangkau oleh pengolah skala rumahan.
Proyeksi dan Jalan Hilirisasi
Jika tren kenaikan produksi 6-7 persen per tahun berlanjut, DKPKP memproyeksikan volume kerang hijau Jakarta Utara menembus 14.000 ton pada 2027. Namun proyeksi ini bergantung pada dua variabel kunci: stabilitas kualitas air dan akses pembiayaan mikro.
Dari sisi pembiayaan, rasio kredit usaha rakyat (KUR) yang diserap sektor perikanan pesisir masih di bawah 3 persen dari total portofolio KUR nasional. Artinya, ada ruang besar untuk intermediasi keuangan yang lebih inklusif. Program kredit mikro berbasis komunitas, misalnya melalui bank sampah atau koperasi nelayan, bisa menjadi katalis.
Dari sisi valuasi, usaha pengolahan kerang hijau memiliki margin kotor tipikal 15-25 persen. Dengan hilirisasi menjadi produk olahan bernilai tambah, margin bisa naik ke 35-40 persen. Inilah daya tarik yang membuat sejumlah investor sosial (social investor) mulai melirik sektor ini, meski masih dalam skala rintisan.
Pada akhirnya, menjaga roda ekonomi pesisir lewat usaha kerang hijau bukan sekadar soal produksi. Ia menyangkut ekosistem: kualitas lingkungan, akses pasar, kelembagaan koperasi, dan keberpihakan kebijakan. Tanpa intervensi struktural, sektor ini akan terus bertahan sebagai penyangga darurat — bukan sebagai mesin pertumbuhan yang berkelanjutan. Pilihan kebijakan ada di tangan pemangku kepentingan, dan waktu terus berjalan seiring pasang surut Teluk Jakarta.
Comments (0)