Edgar Jopson, yang akrab disapa Edjop, tutup usia dalam sebuah operasi militer di Skyline Subdivision, Davao, pada 20 September 1982. Namun kisah tentang dirinya tidak berhenti di situ. Di balik kematian yang kejam itu, tersimpan sebuah cerita tentang bagaimana api kematiannya justru menyulut semangat balas dendam yang memungkinkan seorang aktivis lain bertahan hidup.
Bahkan setelah tiada, Edjop tetap menjadi sosok yang memancarkan energi, harapan, dan keberanian. Ia digambarkan sebagai mercusuar bagi perjuangan yang ia tinggalkan.
Rumah Persembunyian di Skyline
Edjop tinggal di rumah Skyline bersama sejumlah aktivis bawah tanah atau underground (U.G.). Salah satu penghuninya adalah Pastor Orlando "Dong" Tizon, pendeta aktivis yang telah dihormati gereja maupun organisasi hak asasi manusia, dan bahkan direkomendasikan untuk dimasukkan ke dalam Dinding Peringatan Bantayog ng Mga Bayani.
Selain Pastor Tizon, ada pula Betty De Vera, orang terakhir yang berada bersama Edjop sebelum ia tewas ditembak. Seorang aktivis lain yang disebut dengan nama samaran Laura dalam buku U.G. An Underground Tale juga menghuni rumah yang sama.
- 20 September 1982 — Pasukan militer melancarkan penyerbuan ke Skyline Subdivision di Davao.
- Operasi berlangsung mematikan — Edjop ditembak dan tewas di dalam rumah persembunyianya.
- Betty De Vera menjadi saksi terakhir — ia berada di sisi Edjop tepat sebelum tembakan mengakhiri hidupnya.
- Kematian memicu kemarahan — reaksi balik yang lahir dari kabar kematian Edjop justru memberi kekuatan bagi aktivis lain untuk terus bertahan.
Kematian Edjop bukanlah akhir perjuangan. Ia justru berubah menjadi pemicu kemarahan yang menolak untuk padam, dan kemarahan itulah yang menopang nyawa aktivis-aktivis yang tersisa.
Saksi Terakhir: Betty De Vera
Nama Betty De Vera menyimpan beban sejarah tersendiri. Ia adalah orang terakhir yang mendampingi Edjop sebelum peluru militer menghujani tubuhnya. Sosok yang disebut Laura dalam catatan U.G. An Underground Tale melengkapi potret rumah itu sebagai sebuah keluarga perjuangan yang terpaksa menjalani hidup dalam bayang-bayang ancaman.
Penggambaran Edjop sebagai kekuatan hidup bahkan setelah kematiannya menegaskan betapa besarnya pengaruh sosok ini di kalangan gerakan bawah tanah pada masa itu. Ia bukan sekadar korban operasi militer, melainkan simbol yang terus menghidupi perlawanan.
Dari Kematian Menuju Penebusan
Kisah paling kuat tentang Edjop justru muncul tidak lama setelah ia dibunuh. Kematian memicu kemarahan yang menantang, dan kemarahan itulah yang akhirnya mengubah nasib seorang aktivis lain. Dalam versi sejarah ini, kematian satu orang menjadi cerita penebusan bagi orang-orang yang ditinggalkannya.
Bagi mereka yang pernah tinggal serumah dengannya di Skyline, Edjop tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup dalam ingatan, dalam risiko yang terus dihadapi, dan dalam keputusan untuk tetap melangkah meski ancaman kapan pun bisa datang.
Comments (0)