Isak tangis dan raut kecemasan menyelimuti posko pencarian dan penyelamatan di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Sejumlah keluarga anak buah kapal (ABK) dan penumpang KM Virgo Transport 8 terus berdatangan dari berbagai daerah, salah satunya dari Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Mereka menempuh perjalanan ratusan kilometer demi memastikan nasib sanak keluarga yang hingga kini belum diketahui keberadaannya setelah insiden laut menimpa kapal kargo tersebut.
Ketidakpastian informasi mengenai manifes penumpang dan data korban selamat memicu kekhawatiran mendalam bagi para kerabat. Berdasarkan investigasi lapangan, kedatangan keluarga korban bertujuan mendesak otoritas pelabuhan serta Badan SAR Nasional (Basarnas) agar membuka posko koordinasi terpadu yang menyajikan data manifes secara valid, akurat, dan transparan.
Kronologi Pencarian dan Keresahan Keluarga Korban
Keluarga korban menuturkan bahwa komunikasi terakhir terputus sesaat sebelum kapal dilaporkan hilang kontak atau mengalami kendala teknis di tengah perairan. Berikut adalah garis waktu ketidakpastian yang dialami pihak keluarga:
- Kontak Terakhir Terputus: Komunikasi rutin melalui sambungan telepon seluler mendadak terhenti beberapa hari sebelum kabar insiden KM Virgo Transport 8 tersiar ke publik.
- Informasi Tidak Menentu: Pihak keluarga pertama kali mendengar kabar buruk bukan dari perusahaan pemilik kapal, melainkan dari jejaring sesama pelaut dan media sosial.
- Perjalanan ke Surabaya: Didorong rasa cemas yang tak terbendung, keluarga korban dari Kudus langsung bertolak menuju Surabaya untuk memperoleh konfirmasi fisik di pangkalan operasi SAR.
- Pendataan Mandiri: Di lokasi penampungan informasi, keluarga terpaksa mengumpulkan data secara swadaya akibat minimnya pembaruan berkala dari pihak operator armada.
"Kami tidak bisa hanya diam menunggu di rumah tanpa kejelasan. Suami dan adik saya ada di dalam kapal itu. Kami hanya ingin kepastian hidup atau mati agar batin kami tenang," tegas salah seorang kerabat korban asal Kudus dengan mata sembab di posko informasi pelabuhan.
Sorotan atas Standar Keselamatan dan Transparansi Manifes
Kasus hilangnya awak KM Virgo Transport 8 kembali memicu evaluasi tajam terhadap sistem keselamatan pelayaran niaga nasional. Tim investigasi menemukan beberapa kejanggalan administratif yang kerap terjadi dalam insiden serupa di perairan Indonesia, di antaranya:
- Ketidaksesuaian Manifes Resmi: Dugaan ketidaksinkronan antara daftar kru yang tercatat di Syahbandar dengan jumlah riil tenaga kerja di atas dek.
- Fungsi Suar Darurat (EPIRB): Pemeriksaan terhadap apakah perangkat pemancar sinyal marabahaya otomatis bekerja optimal saat kondisi darurat terjadi.
- Tanggung Jawab Pemilik Kapal: Lambatnya pendampingan krisis dan penyediaan fasilitas pemulihan trauma bagi keluarga yang terdampak langsung.
Operasi pencarian dan pertolongan laut oleh unsur gabungan TNI AL, Polairud, dan Basarnas kini terus diperluas dengan memetakan pola arus laut. Otoritas maritim berjanji akan memanggil pihak manajemen kapal guna dimintai keterangan mengenai kelaiklautan armada dan kepatuhan prosedur operasional standar sebelum KM Virgo Transport 8 berlayar.
Comments (0)