Oct 10, 2026
Bisnis

Kekeringan Tekan Lahan Pertanian, Produksi Pangan Diklaim Aman

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta laporan Kementerian Pertanian per semester I 2024, luas lahan pertanian yang terdampak kekeringan tercatat pada kisaran ratu...

Kekeringan Tekan Lahan Pertanian, Produksi Pangan Diklaim Aman

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta laporan Kementerian Pertanian per semester I 2024, luas lahan pertanian yang terdampak kekeringan tercatat pada kisaran ratusan ribu hektare. Angka ini muncul di tengah musim kemarau yang diperparah fenomena El Nino lemah yang memperpanjang periode tanpa hujan di sejumlah sentra produksi padi di Jawa, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan bahwa skala dampak tersebut masih terkendali jika dibandingkan dengan total luas pertanaman padi nasional yang mencapai sekitar 10,4 juta hektare per tahun.

Peta Dampak: Berapa Luas Lahan yang Benar-benar Terdampak?

Dalam konferensi pers di Jakarta, Mentan menyebut bahwa area terdampak kekeringan berada pada level yang tidak mengganggu neraca pangan nasional secara keseluruhan. Secara persentase, luas terdampak diperkirakan kurang dari 5 persen dari total luas tanam padi. Pemerintah juga mengklaim telah menyiapkan pompa air, embung, dan program percepatan tanam sebagai bantalan likuiditas bagi petani agar tetap bisa menanam di musim gadu.

Di satu sisi, angka tersebut memang relatif kecil. Dalam kerangka fundamental ekonomi pertanian, produksi padi nasional tahun 2023 berada di kisaran 53,6 juta ton gabah kering giling (GKG) berdasarkan data BPS. Jika kehilangan akibat kekeringan hanya berkisar 3–5 persen, maka produksi masih bisa ditopang oleh cadangan beras pemerintah di Bulog yang mencapai sekitar 1,4 juta ton pada pertengahan 2024. Rasio kecukupan stok terhadap konsumsi bulanan yang sekitar 2,9 juta ton masih tergolong aman, meski tidak nyaman.

Pro: Neraca Pangan Masih Terjaga

Argumen kubu optimistis bertumpu pada tiga hal. Pertama, panen raya di beberapa daerah datang lebih awal sehingga mengurangi tekanan pada kuartal III. Kedua, indeks pertanaman (IP) di sejumlah irigasi teknis masih bisa mencapai 2,5–3 kali setahun. Ketiga, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani masih bergerak di kisaran Rp5.500–Rp6.200 per kilogram, di atas harga pembelian pemerintah (HPP) Rp5.000 per kilogram, yang menandakan sentimen pasar masih sehat.

"Kekeringan itu siklus tahunan. Yang penting adalah kecepatan respons irigasi dan distribusi benih. Kalau itu jalan, produksi tidak akan tergelincir jauh," ujar Amran dalam keterangannya.

Dari sisi proyeksi, Kementerian Pertanian menargetkan produksi padi 2024 tumbuh 2–3 persen year-on-year. Angka ini didukung oleh alokasi pupuk subsidi yang naik menjadi 9,55 juta ton pada 2024 dari 8,7 juta ton pada 2023, serta perluasan lahan rawa yang dikonversi menjadi sawah baru.

Kontra: Risiko Inflasi Pangan dan Tekanan Impor

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa kekeringan bukan sekadar soal luas terdampak, melainkan soal timing dan distribusi. Jika kekeringan terjadi pada fase pengisian bulir, kehilangan hasil bisa jauh lebih besar per hektare. Data historis menunjukkan pada El Nino 2015, produksi padi turun sekitar 3,4 persen dan inflasi beras menyentuh 11,5 persen year-on-year pada Februari 2016.

Tekanan terhadap indeks harga pangan bergejolak (volatile food) juga patut dicermati. Inflasi pangan bergejolak pada Mei 2024 tercatat 8,2 persen year-on-year, jauh di atas inflasi umum yang sekitar 2,8 persen. Jika kekeringan berlanjut hingga Oktober, risiko capital outflow dari sektor agribisnis dan pelemahan valuasi emiten pangan di bursa bisa meningkat. Selain itu, ketergantungan pada impor beras medium yang pada 2023 mencapai 3,06 juta ton menjadi titik lemah jika produksi domestik tergelincir.

Dari kacamata portofolio pangan nasional, kombinasi antara cekaman iklim, keterbatasan anggaran irigasi, dan volatilitas harga global membuat pernyataan "aman" perlu dibaca sebagai sinyal sementara, bukan jaminan struktural. Pasar akan menguji klaim itu melalui data produksi triwulanan dan pergerakan harga di pasar induk sepanjang semester II 2024.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User