Berdasarkan data KCIC, Kereta Cepat Whoosh telah mengangkut lebih dari 10 juta penumpang secara kumulatif sejak beroperasi pada Oktober 2023. Di tengah kabar dibukanya kembali Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung untuk pelayanan komersial, manajemen PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menyatakan optimistis minat penumpang terhadap Whoosh tetap terjaga. Keyakinan itu disampaikan seiring pertanyaan publik apakah kembalinya penerbangan komersial akan menggerus pangsa pasar kereta cepat pada koridor Jakarta–Bandung.
Sebagai pembanding, Whoosh melayani rute sepanjang 142 kilometer dalam waktu tempuh sekitar 30 menit dengan kecepatan operasional hingga 350 kilometer per jam. Harga tiket kelas ekonomi mulai dari sekitar Rp150.000, sementara frekuensi perjalanan mencapai puluhan kali sehari. Bandara Husein Sastranegara sendiri berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Bandung dan kembali melayani rute domestik setelah kegiatan penerbangan komersial sempat tidak aktif dalam beberapa tahun terakhir.
Optimisme Berbasis Fundamental, Bukan Sekadar Sentimen
Di satu sisi, optimisme KCIC bertumpu pada fundamental layanan. Waktu tempuh sekitar 30 menit dari Stasiun Halim di Jakarta Timur menuju Padalarang dan Tegalluar membuat kereta cepat unggul dalam perbandingan waktu total. Jika dihitung dari pintu ke pintu, proses check-in, pemeriksaan keamanan, dan boarding di bandara kerap menambah durasi perjalanan udara hingga dua jam, sehingga selisih waktu yang dimiliki kereta cepat semakin lebar.
Data juga menunjukkan tren penumpang yang tumbuh year-on-year. Rasio keterisian tempat duduk atau load factor Whoosh tercatat berada di kisaran 60–70 persen, dengan jumlah perjalanan harian yang terus ditambah sejak masa awal operasi. Keteraturan jadwal, harga yang kompetitif, serta integrasi dengan kereta feeder dan layanan transportasi kota menjadikan kereta cepat pilihan utama pelaku perjalanan bisnis jarak menengah.
Di sisi lain, kembalinya Bandara Husein Sastranegara menghadirkan kompetisi yang nyata. Lokasinya yang berada di dalam Kota Bandung jauh lebih dekat dibandingkan Stasiun Tegalluar yang terletak di kawasan timur. Bagi penumpang yang tujuan akhirnya di pusat kota, biaya dan waktu perjalanan darat menuju stasiun dapat menutup sebagian keunggulan waktu kereta cepat.
Dua Sisi Persaingan: Kecepatan Melawan Jangkauan
Pro: untuk perjalanan dalam Pulau Jawa, kecepatan dan frekuensi menjadi senjata utama Whoosh. Dengan puluhan perjalanan per hari dan waktu tempuh setengah jam, penumpang tidak lagi bergantung pada jadwal penerbangan yang terbatas. Fleksibilitas ini penting bagi pekerja yang harus bolak-balik Jakarta–Bandung dalam sehari.
Kontra: dari sisi jangkauan, penerbangan tetap tak tergantikan. Bandara Husein Sastranegara membuka rute langsung ke kota-kota seperti Surabaya, Medan, dan Denpasar, sesuatu yang belum bisa dilakukan kereta cepat. Penumpang yang hendak melanjutkan perjalanan ke luar Jawa tidak punya pilihan selain terbang, sehingga segmen ini otomatis menjadi milik maskapai.
"Persaingan ini bukan soal siapa yang lebih cepat, melainkan segmentasi pasar," ujar seorang pengamat transportasi di Bandung. "Kereta cepat menguasai segmen jarak menengah yang sensitif terhadap waktu, sedangkan penerbangan tetap unggul untuk perjalanan antarpulau dan rute jauh."
Analisis dua sisi ini menunjukkan bahwa kedua moda tidak saling mematikan. Yang terjadi justru pembagian peran: kereta cepat memperkuat posisinya pada koridor Jakarta–Bandung, sementara penerbangan menjaga konektivitas ke luar Jawa. Dengan kata lain, dibukanya kembali bandara tidak otomatis berarti penurunan penumpang Whoosh.
Proyeksi Tren dan Strategi Jangka Panjang
Ke depan, proyeksi penumpang Whoosh tetap bertumpu pada ekspansi layanan. KCIC berencana menambah frekuensi perjalanan dan mengembangkan integrasi dengan kereta ringan serta moda pengumpan, termasuk koneksi menuju pusat Kota Bandung. Rencana perpanjangan jalur hingga Surabaya juga menjadi katalis jangka panjang yang dapat memperluas pangsa pasar kereta cepat melampaui koridor saat ini.
Kendati demikian, faktor harga dan persepsi penumpang akan tetap menjadi penentu. Selama selisih tarif antara kereta cepat dan tiket pesawat kelas ekonomi tidak terlalu jauh, dan selama akses menuju stasiun terus diperbaiki, fundamental permintaan Whoosh diperkirakan tetap sehat. Sentimen pasar terhadap layanan ini pun dipengaruhi oleh kualitas pengalaman pengguna, bukan hanya oleh kehadiran pesaing baru.
Kesimpulannya, dibukanya kembali Bandara Husein Sastranegara adalah ujian sekaligus peluang bagi Whoosh. Di satu sisi, kompetisi memaksa KCIC menjaga kualitas dan harga. Di sisi lain, perbedaan segmen pasar membuat keduanya bisa tumbuh berdampingan. Pada akhirnya, penumpanglah yang menentukan pilihan berdasarkan waktu, biaya, dan kenyamanan — dan dalam pertarungan itu, tidak ada moda yang menang tanpa inovasi berkelanjutan.
Comments (0)