Kampung Jangkrik Depok, Perputaran Uang Rp1,2 Juta per Hari

Suara derik serangga malam hari bukan lagi sekadar latar suara alam bagi warga di sebuah permukiman di Depok, Jawa Barat. Di sana, bunyi khas jangkrik justru menjadi irama yang mengiringi aktivitas ek...

Jul 23, 2026 - 19:13
0 2
Kampung Jangkrik Depok, Perputaran Uang Rp1,2 Juta per Hari

Suara derik serangga malam hari bukan lagi sekadar latar suara alam bagi warga di sebuah permukiman di Depok, Jawa Barat. Di sana, bunyi khas jangkrik justru menjadi irama yang mengiringi aktivitas ekonomi puluhan kepala keluarga. Tidak mengherankan jika kawasan ini kemudian akrab disapa Kampung Jangkrik, sebuah julukan yang lahir dari pemandangan unik hampir seluruh rumah yang menjadikan pekarangan dan ruang kosongnya sebagai tempat budidaya serangga bernilai jual tinggi.

Bukan sekadar hobi atau pengisi waktu luang, ternak jangkrik telah menjelma menjadi sumber penghasilan tambahan yang signifikan. Setiap harinya, dari kampung ini mengalir transaksi yang nilainya mencapai Rp1,2 juta. Angka itu bukanlah omzet satu peternak besar, melainkan akumulasi dari puluhan pelaku usaha rumahan yang masing-masing menyuplai telur, anakan, maupun jangkrik dewasa ke berbagai pasar di Jabodetabek.

Dari Coba-Coba Menjadi Andalan Ekonomi

Budidaya jangkrik di wilayah ini bermula sekitar satu dekade silam. Ketika itu, seorang warga yang kerap berburu jangkrik untuk pakan burung peliharaannya menyadari potensi serangga ini sebagai komoditas. Ia lalu mencoba membiakkan beberapa kotak kayu sederhana di bawah naungan pohon. Dalam waktu singkat, permintaan dari sesama penghobi burung kicau, pemancing, hingga pemilik reptil peliharaan terus berdatangan. Melihat peluang itu, tetangga-tetangganya mulai meniru. Ilmu beternak pun dibagikan secara cuma-cuma dari rumah ke rumah, menjadikan kampung ini sebagai pusat belajar kolektif yang organik.

Kini, hampir setiap gang dipenuhi tumpukan egg tray dan kotak kayu berselimut kain tipis. Dari situ lahir tiga jenis produk utama: telur jangkrik yang dijual per gram, nimfa atau anakan yang siap dibesarkan pembeli, dan jangkrik dewasa untuk pakan hidup. Dengan siklus panen yang relatif singkat, sekitar 30-40 hari, perputaran uang di kampung ini terjadi sangat cepat.

Ekonomi di Balik Derik Serangga

Mari kita petakan skala bisnis ini. Satu kotak budidaya standar berukuran panjang satu meter mampu menampung sekitar 100-150 indukan betina. Seekor betina dapat bertelur hingga 200-400 butir per siklus. Dalam sebulan, satu rumah tangga dengan tiga hingga lima kotak bisa memproduksi puluhan gram telur yang dijual dengan harga pasaran sekitar Rp15.000-Rp25.000 per gram. Adapun jangkrik dewasa dihargai per kilogram dengan kisaran Rp45.000-Rp60.000 untuk pakan burung dan lebih mahal untuk umpan pancing premium.

Dengan lebih dari 40 rumah yang aktif membudidayakan, total omzet harian yang menyentuh Rp1,2 juta adalah angka yang konservatif. Pada momen-momen tertentu, seperti menjelang musim lomba burung berkicau atau saat sedang ramai peminat pancing, angka tersebut bisa melonjak hampir dua kali lipat. “Dari jangkrik saja, kami bisa membiayai uang sekolah anak dan menambah tabungan keluarga, tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama,” ungkap Darman, salah seorang peternak yang sudah menjalani usaha ini selama tujuh tahun. Dana itu berputar di tingkat lokal, mulai dari pembeli pakan dedak di warung sekitar, ongkos angkut ojek pengiriman, hingga produsen kotak kayu yang kini juga kebanjiran pesanan.

Tantangan Budidaya di Tengah Kota

Namun, menjalankan bisnis serangga di tengah pemukiman padat penduduk bukan tanpa masalah. Musim hujan sering kali membawa kelembapan berlebih yang memicu jamur dan penyakit pada koloni jangkrik. Tingkat kematian anakan bisa langsung meroket jika sanitasi kandang lengah sedikit saja. Selain itu, keluhan tetangga yang kurang nyaman dengan suara bising derik jangkrik jantan pun kerap muncul, meski mayoritas warga telah memahami bahwa suara itu adalah bunyi rezeki.

Dari sisi pasar, fluktuasi harga komoditas juga turut memengaruhi pendapatan. Ketika jumlah peternak bertambah, pasokan kadang melebihi permintaan, sehingga harga telur dan jangkrik dewasa bisa terkoreksi hingga 20 persen. Untuk menyiasati, peternak di Kampung Jangkrik membangun jejaring pemasaran melalui grup WhatsApp dan media sosial agar informasi stok dan harga terkini cepat tersebar. Mereka juga mulai menjajaki pasar baru seperti ekspor pakan reptil ke Malaysia dan Singapura, yang kini membuka peluang lebih lebar.

Masa Depan Kampung Jangkrik

Keberhasilan kampung ini melirikkan rencana dari pemerintah setempat untuk mengukuhkannya sebagai desa wisata edukasi berbasis budidaya jangkrik. Dinas terkait telah memberikan pelatihan pengemasan telur dalam kepingan media khusus agar awet dalam perjalanan jarak jauh. Koperasi kecil juga mulai dibentuk untuk mengelola keuangan bersama dan menyediakan sarana produksi seperti pakan khusus, vitamin, serta kotak budidaya bersubsidi. Dengan manajemen yang lebih modern, bukan mustahil omzet harian Rp1,2 juta itu akan naik berkali-kali lipat.

Di tengah gencarnya urbanisasi dan menyusutnya lahan pertanian di kota penyangga Ibu Kota, model ekonomi pekarangan ala Kampung Jangkrik menawarkan alternatif cerdas. Tidak perlu sawah luas atau modal raksasa; sebuah sudut rumah yang dikelola dengan sabar bisa berdering dengan uang tunai. Suara jangkrik yang semula hanya menjadi latar malam, kini berubah menjadi metronom yang menghitung denyut ekonomi warga. Dari sini, satu kotak kecil mampu melahirkan siklus kesejahteraan yang terus beranak-pinak—layaknya jangkrik itu sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User