Langkah kaki ribuan komuter yang memadati kawasan pusat bisnis Jakarta kini bersiap menyambut babak baru mobilitas perkotaan. PT Kereta Api Indonesia (Persero) tengah mempercepat proyek integrasi fisik antara Stasiun Karet dan Stasiun BNI City dengan menghadirkan fasilitas travelator di sepanjang selasar pedestrian. Proyek infrastruktur pejalan kaki ini ditargetkan tuntas dalam kurun waktu 70 hari kerja guna mempermudah mobilitas harian para penumpang kereta rel listrik (KRL) maupun Kereta Bandara.
Konektivitas pejalan kaki di kawasan Dukuh Atas dan sekitarnya selama ini menjadi salah satu simpul paling krusial sekaligus menantang di ibu kota. Selasar penghubung yang representatif menjadi jawaban atas keluhan penumpang yang kerap harus berjalan cukup jauh di bawah terpaan cuaca untuk berpindah moda.
Menjembatani Celah Integrasi Dua Stasiun Vital
Berdasarkan pantauan di lapangan, arus pergerakan calon penumpang di selasar pedestrian Stasiun Karet menuju Stasiun BNI City sudah mulai memanfaatkan jalur koridor sementara. Pemasangan travelator atau tangga berjalan datar dirancang untuk memangkas waktu tempuh serta mengurangi kelelahan fisik komuter yang membawa barang bawaan berat menuju akses bandara.
"Pembangunan travelator ini adalah respons nyata atas kebutuhan integrasi antarmoda yang ramah pengguna. Kami memacu pengerjaan agar rampung tepat waktu tanpa mengabaikan aspek keselamatan perjalanan kereta dan kenyamanan penumpang," ungkap perwakilan manajemen KAI saat meninjau proyek di lokasi.
Pembangunan fasilitas pejalan kaki mekanis ini memegang peran strategis dalam menata alur transit penumpang di kawasan Sudirman. Selama ini, Stasiun BNI City telah melayani operasional KRL Commuter Line selain fungsi utamanya sebagai stasiun Kereta Bandara Soekarno-Hatta, sementara Stasiun Karet menampung padatnya pergerakan pekerja di koridor barat-timur Jakarta.
Fasilitas Modern dan Evaluasi Aksesibilitas
Proyek integrasi selasar ini tidak hanya menitikberatkan pada percepatan pemasangan travelator, tetapi juga menyangkut penataan fasilitas pendukung demi menciptakan ekosistem transit yang inklusif. Sejumlah pembaruan yang dihadirkan meliputi:
- Pemasangan Jalur Pemandu (Tactile Paving): Menyediakan akses aman dan terarah bagi penyandang disabilitas tunanetra di sepanjang lorong.
- Kanopi Pelindung Cuaca Ekstrem: Struktur atap dirancang tertutup penuh untuk melindungi pejalan kaki dari panas terik dan curah hujan tinggi.
- Sistem Penerangan dan Keamanan 24 Jam: Penambahan lampu hemat energi serta kamera pengawas (CCTV) di titik-titik blindspot selasar.
- Papan Informasi Terintegrasi (Signage): Panduan visual navigasi yang lebih jelas agar penumpang tidak kebingungan saat berpindah stasiun.
Kehadiran selasar bertravelator ini diproyeksikan bakal mendongkrak efisiensi transit di kawasan perkotaan Jakarta. Dengan durasi pengerjaan yang ditargetkan selesai dalam 70 hari, integrasi Stasiun Karet dan Stasiun BNI City digadang-gadang menjadi percontohan revitalisasi ruang publik yang mengedepankan kebutuhan hakiki para pejalan kaki urban.
Comments (0)