Kageogama Dukung Bursa Komoditas Strategis, Minta Tata Kelola Transparan
Jakarta — Ikatan Alumni Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (Kageogama) menyatakan dukungannya terhadap rencana pemerintah mendirikan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS). Lembaga tersebu...
Jakarta — Ikatan Alumni Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (Kageogama) menyatakan dukungannya terhadap rencana pemerintah mendirikan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS). Lembaga tersebut dirancang menjadi fondasi Indonesia Reference Price, acuan harga resmi bagi komoditas unggulan ekspor tanah air. Dukungan ini mengemuka di tengah proses pemerintah yang tengah mematangkan skema pembentukan bursa, mulai dari struktur badan pengelola hingga aturan main perdagangannya.
Langkah ini dinilai menjawab persoalan yang sudah lama mengganjal: Indonesia selama ini menjadi penentu pasokan, tetapi bukan penentu harga. Untuk nikel saja, produksi dalam negeri menguasai lebih dari separuh pasokan global, namun patokan harganya tetap mengacu pada London Metal Exchange (LME). Kondisi serupa terjadi pada timah, batu bara, dan minyak sawit mentah, yang nilai transaksinya acap kali ditentukan oleh bursa dan indeks harga di luar negeri.
Mengapa Indonesia Perlu Acuan Harga Sendiri
Kehadiran BMKS bersifat strategis karena harga komoditas menyentuh langsung tiga hal sekaligus: penerimaan negara, pendapatan eksportir, dan stabilitas ekonomi domestik. Ketika harga ditentukan di luar negeri, Indonesia otomatis menjadi price taker, yakni pihak yang menerima begitu saja harga yang terbentuk di pasar global. Dampaknya terlihat pada fluktuasi penerimaan negara yang ikut naik turun mengikuti sentimen pasar dunia.
Besarnya posisi Indonesia tidak bisa diabaikan. Ekspor batu bara mencapai ratusan juta ton per tahun, menjadikan tanah air salah satu pemasok terbesar dunia. Sektor minerba juga menjadi penyumbang signifikan bagi penerimaan negara bukan pajak, dengan rasio kontribusinya terus mengalami kenaikan seiring program hilirisasi. Dengan acuan harga sendiri, pemerintah berpeluang memperkuat posisi tawar, menjaga stabilitas harga di dalam negeri, serta mengurangi ketergantungan pada patokan luar negeri yang tidak selalu mencerminkan fundamental komoditas Indonesia.
Dua Sisi: Peluang Besar dan Risiko Likuiditas
Di satu sisi, bursa domestik sejalan dengan tren hilirisasi yang digencarkan sejak kebijakan larangan ekspor bijih nikel pada 2020. BMKS dapat menjadi simpul ekosistem hilirisasi: produsen, smelter, dan pembeli bertransaksi dengan acuan yang transparan, sekaligus menekan capital outflow karena transaksi tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bursa asing. Dalam jangka panjang, Indonesia berpeluang menjadi pusat penetapan harga kawasan Asia Tenggara dan memperluas portofolio instrumen perdagangan komoditasnya.
Di sisi lain, pengalaman bursa berjangka di dalam negeri menunjukkan tantangan likuiditas. Bursa komoditas dengan volume transaksi tipis justru berisiko menghasilkan harga yang mudah dipengaruhi segelintir pemain besar. Jika pelaku pasar global tidak mempercayai acuan yang terbentuk, pembeli tetap akan mengacu pada LME atau bursa lain, dan Indonesia Reference Price hanya menjadi angka di atas kertas. Karena itu, membangun kedalaman pasar menjadi pekerjaan rumah yang tidak kalah berat dibandingkan mendirikan lembaganya.
Tata Kelola Berbasis Ilmu dan Transparansi
Menurut Kageogama, kunci keberhasilan BMKS terletak pada tata kelola yang berbasis ilmu dan transparan. Artinya, penetapan harga acuan harus disusun dengan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan dan menggunakan data fundamental seperti produksi, stok, serta permintaan, bukan sekadar mengekor fluktuasi harga internasional. Mekanisme semacam ini penting untuk membangun kepercayaan pelaku pasar sejak hari pertama operasional.
Kageogama juga mengingatkan agar pembentukan bursa menghindari konflik kepentingan. Pengawasan yang ketat, keterbukaan data, serta keterlibatan akademisi dan pelaku industri dalam merumuskan aturan menjadi prasyarat yang tidak bisa ditawar. Pelajaran dari lembaga serupa di berbagai negara menunjukkan bahwa kredibilitas sebuah bursa dibangun bertahun-tahun, tetapi bisa runtuh hanya karena satu kasus manipulasi harga. Valuasi kepercayaan pasar, menurut pengamat komoditas, justru lebih mahal daripada biaya pembangunan infrastruktur bursa itu sendiri.
Dukungan dari komunitas akademik ini menambah tekanan bagi pemerintah untuk memastikan eksekusi berjalan hati-hati. Keberhasilan BMKS tidak diukur dari sekadar berdirinya lembaga, melainkan dari sejauh mana pasar mempercayai angka yang dihasilkan. Proyeksi optimistis menyebut Indonesia Reference Price dapat menjadi rujukan yang dihormati pasar domestik dan internasional dalam beberapa tahun ke depan, dengan catatan likuiditas terjaga dan fundamental dijaga. Namun tanpa tata kelola yang benar, seluruh potensi itu hanya akan menjadi peluang yang tertunda.
Comments (0)