Berdasarkan data BPS dan Bank Indonesia per Agustus 2026, nilai ekspor kelompok rempah, minyak atsiri dan hasil hutan bukan kayu Indonesia tercatat mencapai 1,12 miliar dolar AS atau mengalami kenaikan 8,4 persen secara year-on-year dibandingkan periode yang sama tahun 2025, dengan tren surplus neraca perdagangan yang menjaga fundamental rupiah di tengah volatilitas global.
Kisah di balik angka tersebut membawa perhatian kembali ke pesisir barat Sumatra, tepatnya Barus di Kabupaten Tapanuli Tengah. Di kawasan ini tumbuh endemik pohon penghasil kafur atau kapur barus dari spesies Dryobalanops aromatica yang hanya tumbuh optimal pada ketinggian 200 hingga 800 meter di atas permukaan laut. Dalam tradisi Islam, kata kafur dikenal karena disebut dalam Surah Al-Insan ayat 5 sebagai campuran minuman yang sejuk dan aromatik bagi penghuni surga. Istilah year-on-year yang dipakai BPS berarti perbandingan kinerja terhadap periode yang sama tahun sebelumnya, sehingga publik dapat menilai apakah terjadi penguatan atau pelemahan secara objektif.
Jejak Maritim Barus dan Fundamental Perdagangan Aromatik Dunia
Secara historis, Barus telah dikenal sebagai bandar maritim sejak abad pertama Masehi dan mencapai puncak kejayaan pada abad ke-9 hingga abad ke-12. Catatan geografi kuno menyebut Barousai, sementara catatan Arab, Persia, India dan Tiongkok mencatat Barus sebagai sumber tunggal kafur kualitas terbaik dunia. Pada masa itu kafur bukan sekadar wewangian, melainkan dipakai sebagai bahan pengawet, campuran dupa ritual, bahan pengobatan, hingga bagian tata cara pemulasaraan jenazah di berbagai peradaban. Nilai tukarnya sangat tinggi dan literatur sejarah ekonomi mencatat harga satu kati kafur Barus pada abad ke-10 di pasar Baghdad dan Kairo bisa setara dengan 3 hingga 5 dinar emas, jauh melampaui lada dan cengkeh pada periode yang sama. Tingginya valuasi atau penilaian pasar atas komoditas ini menjelaskan mengapa pedagang Arab rela menempuh pelayaran lebih dari 8.000 kilometer selama berbulan-bulan menuju Sumatra.
Interaksi dagang intensif itu membangun fundamental ekonomi maritim Nusantara yang maju untuk ukurannya. Barus memiliki sistem kepelabuhanan, jaringan pergudangan, dan mekanisme likuiditas atau kemudahan mengubah barang menjadi alat tukar yang diakui lintas bangsa. Para pedagang dari Timur Tengah tidak hanya membeli kafur, kamper, benzoin dan gaharu, tetapi juga membawa serta jaringan pembiayaan, sistem navigasi, dan tradisi keilmuan. Kontak inilah yang dalam banyak kajian sejarah disebut sebagai salah satu jalur awal masuknya Islam ke Nusantara pada abad ke-7, jauh sebelum kesultanan besar berdiri di Jawa dan Maluku. Makam kuno berusia lebih dari 1.000 tahun yang ditemukan di kompleks Mahligai Barus menjadi bukti arkeologis penting bagi narasi tersebut.
Di satu sisi, warisan dagang tersebut menunjukkan betapa kuatnya daya saing komoditas aromatik Indonesia dalam rantai pasok global selama lebih dari lima belas abad. Di sisi lain, ketergantungan pada satu komoditas mentah membuat struktur ekonomi lokal rentan terhadap perubahan sentimen pasar atau pergeseran jalur dagang global, sebuah pola yang dalam ekonomi modern dikenal sebagai risiko konsentrasi portofolio. Ketika jalur perdagangan berpindah dan produksi kafur sintetis dari Tiongkok dan Jepang berkembang pada abad ke-19, harga kafur alam mengalami penurunan hingga 60 persen dalam dua dekade dan kejayaan Barus meredup dengan cepat.
Proyeksi Ekonomi Syariah dan Sentimen Pasar Timur Tengah
Saat ini perhatian wisatawan Arab terhadap Barus kembali mengalami kenaikan signifikan. Data Dinas Pariwisata Sumatra Utara per Juni 2026 mencatat kunjungan wisatawan Timur Tengah ke kawasan Tapanuli Raya mencapai 18.750 kunjungan atau mengalami kenaikan 22,6 persen dibandingkan tahun 2024, dengan indeks lama tinggal rata-rata 3,2 hari dan belanja rata-rata 1.450 dolar AS per kunjungan. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata belanja wisman nasional yang sebesar 1.180 dolar AS. Sentimen pasar dalam istilah ekonomi berarti persepsi kolektif pelaku pasar terhadap suatu aset atau destinasi yang mendorong keputusan membeli atau berkunjung, dan dalam kasus Barus sentimen tersebut ditopang oleh narasi religius yang otentik.
Proyeksi atau perkiraan ke depan menunjukkan portofolio ekonomi syariah Indonesia yang mencakup wisata religi, produk herbal halal, dan aromaterapi dapat memperoleh tambahan devisa 250 juta hingga 400 juta dolar AS per tahun pada 2030 apabila Barus dikembangkan sebagai destinasi heritage Islam terpadu. Pro dari skenario ini adalah Indonesia yang menempati peringkat ketiga dalam indeks Global Muslim Travel Index 2025 memiliki modal kuat untuk mengemas Barus sebagai pintu masuk sejarah Islam Nusantara. Pemerintah daerah telah mengusulkan anggaran 185 miliar rupiah untuk museum, konservasi makam kuno, dan pusat riset kafur selama periode 2026 hingga 2029. Kontra yang perlu diantisipasi adalah tanpa standardisasi layanan, konektivitas penerbangan langsung, dan jaminan kelestarian, lonjakan kunjungan justru dapat menurunkan kualitas pengalaman dan merusak valuasi jangka panjang situs sejarah tersebut.
Tantangan Kelangkaan Likuiditas Alam dan Capital Outflow Pengetahuan
Tantangan terbesar justru berada di sisi hulu. Organisasi konservasi internasional memasukkan Dryobalanops aromatica dalam kategori rentan karena populasinya di alam mengalami penurunan lebih dari 30 persen dalam tiga dekade terakhir akibat deforestasi dan alih fungsi lahan. Rasio atau perbandingan antara pohon dewasa yang siap disadap dan anakan yang baru ditanam kini mencapai 1 berbanding 7, menunjukkan likuiditas pasokan bahan baku yang sangat terbatas. Dalam bahasa ekonomi, likuiditas alam berarti kemampuan ekosistem menyediakan bahan baku secara berkelanjutan tanpa merusak stok induknya. Jika ekstraksi dilakukan tanpa replanting, maka tren pemulihan akan membutuhkan waktu 40 hingga 60 tahun karena pohon kafur baru menghasilkan kristal optimal setelah berusia puluhan tahun.
Kondisi ini diperparah oleh capital outflow pengetahuan atau aliran keluar pengetahuan tradisional ke luar negeri tanpa nilai tambah domestik. Selama satu abad terakhir, sebagian besar paten pengolahan kamper dan turunannya didaftarkan oleh perusahaan asing, sementara petani penyadap di Barus hanya menerima kurang dari 12 persen dari harga jual akhir produk olahan di pasar global yang mencapai 85 dolar AS per kilogram untuk kafur murni farmasi. Tanpa hilirisasi, Indonesia berisiko mengulang pola lama sebagai pengekspor bahan mentah berharga murah dan pengimpor produk jadi berharga mahal.
Barus adalah contoh klasik bagaimana keunggulan komparatif sumber daya alam harus diubah menjadi keunggulan kompetitif melalui riset, hilirisasi, dan perlindungan kawasan. Tanpa itu, sejarah kejayaan hanya menjadi nostalgia, bukan mesin pertumbuhan.
Upaya perbaikan mulai berjalan dengan program budidaya 500 ribu bibit hingga 2028 dan kemitraan dengan universitas untuk sertifikasi halal dan farmakope. Di satu sisi, langkah ini memperkuat fundamental ekonomi hijau berbasis masyarakat. Di sisi lain, keberhasilannya bergantung pada konsistensi pendanaan, penegakan hukum terhadap pembalakan liar, dan kemampuan menjaga sentimen pasar agar tetap positif tanpa mengeksploitasi simbol agama secara berlebihan. Jika dikelola seimbang, kafur Barus dapat menjadi jembatan antara warisan spiritual yang disebut dalam kitab suci dan masa depan ekonomi syariah yang berdaya saing global.
Comments (0)