Kabut Asap Karhutla Lumpuhkan Jadwal, Belasan Penerbangan Terdampak di Banjarbaru
Berdasarkan laporan otoritas bandara dan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per pekan ketiga Agustus, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelim...
Berdasarkan laporan otoritas bandara dan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per pekan ketiga Agustus, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti kawasan Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kondisi ini berdampak langsung pada operasional Bandara Internasional Syamsudin Noor, di mana tercatat 12 penerbangan mengalami gangguan dalam satu hari karena jarak pandang yang menurun drastis. Penurunan visibilitas memaksa maskapai menunda jadwal keberangkatan, sebagian penerbangan lainnya harus menunggu lebih lama di landasan, sehingga penumpang mengantre lebih lama di terminal keberangkatan.
Jarak Pandang Menipis, Jadwal Penerbangan Terganggu
Asap tebal yang terbawa angin dari titik api di sekitar wilayah hutan dan lahan gambut membuat jarak pandang di sekitar bandara turun ke level yang jauh di bawah ambang keselamatan normal. Sebagai gambaran, pada kondisi normal jarak pandang horizontal di kawasan bandara umumnya mencapai lebih dari 5.000 meter, sementara saat kabut asap puncak, visibilitas dapat merosot hingga di bawah 1.000 meter. Ketika angka tersebut bertahan dalam waktu lama, prosedur keselamatan penerbangan mewajibkan otoritas bandara untuk memperlambat pergerakan pesawat, menunda take-off, hingga menghentikan sementara operasional. Dampaknya terasa langsung pada 12 penerbangan yang jadwalnya berubah, baik berupa penundaan keberangkatan, perubahan urutan slot, maupun penyesuaian waktu kedatangan.
Penumpang yang terdampak umumnya baru mengetahui perubahan jadwal beberapa jam sebelum keberangkatan. Bagi penumpang dengan jadwal sambung, gangguan ini berisiko membuat mereka kehilangan penerbangan lanjutan, sementara penumpang lain harus menunggu di ruang tunggu lebih lama. Situasi serupa sebenarnya bukan hal baru: dalam beberapa tahun terakhir, tren gangguan penerbangan akibat karhutla di Kalimantan cenderung berulang pada musim kemarau, terutama ketika jumlah titik panas (hotspot) mengalami kenaikan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dua Sisi Dampak: Keselamatan Versus Ekonomi
Di satu sisi, penundaan penerbangan merupakan keputusan yang tepat dan patut diapresiasi karena menempatkan keselamatan penumpang sebagai prioritas utama. Dalam dunia penerbangan, jarak pandang yang buruk meningkatkan risiko kecelakaan secara signifikan, sehingga mengambil risiko demi menjaga ketepatan jadwal bukanlah pilihan yang rasional. Keputusan menunda lebih baik daripada memaksakan operasional dalam kondisi di luar batas aman.
Di sisi lain, gangguan operasional ini menimbulkan biaya ekonomi yang tidak kecil. Setiap penundaan berarti kerugian waktu bagi penumpang, tambahan biaya operasional bagi maskapai, dan tekanan pada citra layanan bandara. Dalam skala lebih luas, karhutla yang berulang setiap tahun berpotensi mengganggu konektivitas wilayah, menghambat distribusi logistik, dan menekan sektor pariwisata serta pergerakan bisnis di Kalimantan Selatan. Para pengamat memperkirakan kerugian ekonomi akibat karhutla tidak hanya dihitung dari luas lahan yang terbakar, tetapi juga dari biaya kesehatan, penurunan produktivitas, dan terganggunya sektor transportasi seperti yang terlihat di Banjarbaru.
Imbauan dan Langkah Mitigasi
Menghadapi kondisi ini, otoritas bandara dan maskapai mengimbau penumpang untuk tiba di bandara lebih awal dari jadwal normal. Kedatangan lebih awal memberi ruang bagi penumpang untuk mengurus dokumen perjalanan, menitipkan bagasi, dan bersiap menghadapi kemungkinan perubahan jadwal. Selain itu, penumpang diminta memantau informasi penerbangan secara berkala melalui kanal resmi maskapai maupun bandara, karena situasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan jarak pandang.
Penumpang juga diimbau menjaga kesehatan selama berada di kawasan terdampak kabut asap. Paparan asap dalam waktu lama dapat memicu iritasi saluran pernapasan, mata berair, hingga gangguan pernapasan bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit paru atau asma. Penggunaan masker, memperbanyak minum air putih, dan mengurangi aktivitas di luar ruangan menjadi langkah sederhana yang disarankan. Bagi penumpang yang membawa anak-anak atau lansia, kewaspadaan ekstra diperlukan karena kelompok tersebut lebih rentan terhadap dampak polusi udara.
Proyeksi dan Catatan untuk Masyarakat
Ke depan, durasi gangguan penerbangan sangat bergantung pada dinamika cuaca dan efektivitas upaya pemadaman. Jika hujan turun atau arah angin berubah membawa asap menjauh dari kawasan bandara, operasional dapat kembali normal dalam hitungan jam. Sebaliknya, jika titik api bertambah dan angin tidak mendukung, gangguan berpotensi berlanjut selama beberapa hari. Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun, karena sebagian besar karhutla dipicu aktivitas manusia. Upaya pencegahan sejak dini dinilai jauh lebih murah dibandingkan biaya pemadaman, penundaan penerbangan, dan beban kesehatan yang harus ditanggung bersama. Dengan koordinasi antara pemerintah daerah, TNI/Polri, dan masyarakat, risiko terulangnya gangguan serupa di Banjarbaru diharapkan dapat ditekan pada musim kemarau tahun ini.
Comments (0)