Jonggol — Puluhan Hektare Sawah Gagal Panen Akibat Wereng dan Kekeringan

Desa Weninggalih, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, menjadi saksi pahit bagi puluhan petani yang memanen padi dari lahan yang sesungguhnya telah gagal pa

Jul 09, 2026 - 06:43
0 0
Jonggol — Puluhan Hektare Sawah Gagal Panen Akibat Wereng dan Kekeringan
Desa Weninggalih, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, menjadi saksi pahit bagi puluhan petani yang memanen padi dari lahan yang sesungguhnya telah gagal panen. Pada Minggu (5/7/2026), sejumlah petani tetap memanen butir padi sisa yang hanya mencapai kurang dari sepertiga produksi normal. Kombinasi serangan hama wereng batang cokelat dan musim kemarau berkepanjangan membuat lahan seluas sekitar 47 hektare tidak mampu memberikan hasil yang layak secara ekonomi.

Kronologi: Dari Musim Tanam hingga Gagal Panen

Rangkaian kejadian yang berujung pada gagal panen ini berlangsung dalam tiga fase utama, yang terekam sebagai berikut:
  1. Musim Tanam dan Kemunculan Serangan Hama (Maret–Mei 2026). Petani di blok III Desa Weninggalih mulai menanam padi varietas Ciherang pada awal Maret 2026. Memasuki akhir April, populasi wereng batang cokelat generasi kedua mulai melonjak. Data mandiri kelompok tani mencatat serangan awal di 15 hektare, dan dalam tiga pekan meluas ke 37 hektare meski penyemprotan insektisida telah dilakukan secara swadaya.
  2. Penyebaran dan Kedatangan Kekeringan (Juni 2026). Curah hujan pada dasarian pertama Juni 2026 hanya 12 mm — jauh di bawah rerata dasarian yang biasanya di atas 60 mm pada periode yang sama. Saluran irigasi teknis dari Sungai Cisarua menyusut hingga 75 persen, sehingga penggenangan sawah tidak optimal. Wereng yang bertahan di pangkal batang semakin leluasa mengisap cairan tanaman, menyebabkan tanaman mengering dan rebah.
  3. Puncak Gagal Panen (Awal Juli 2026). Saat panen dimulai pada 5 Juli, hasil ubinan dari Dinas Pertanian Kabupaten Bogor menunjukkan produktivitas hanya 1,8 ton gabah kering panen per hektare, anjlok dari potensi normal 5,6 ton per hektare. Sekitar 42 persen dari total luas lahan yang diserang hama mengalami kerusakan berat dengan butir padi kosong dan berwarna cokelat kehitaman, sementara sisanya menghasilkan butir padi yang ringan dan kapur.
Kepala Desa Weninggalih, H. Sutisna, menyebut bahwa ini adalah gagal panen terparah dalam lima tahun terakhir. “Pada musim tanam kedua ini, petani tak hanya kehilangan modal tanam, pupuk, dan upah buruh, tetapi juga gagal mengembalikan pinjaman sarana produksi. Beberapa petani memilih untuk tidak memanen sama sekali karena biaya panen lebih besar daripada nilai gabah yang didapat,” ujarnya. Sebagian petani lain terpaksa menjual gabah mereka dengan harga Rp 3.800 per kilogram kepada penebas, di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp 4.400 per kilogram, akibat kualitas bulir yang buruk.

Pro dan Kontra Strategi Penanganan

Polemik tentang cara mengantisipasi gagal panen berulang muncul di kalangan petani, penyuluh, dan ahli pertanian. Dua kubu terlihat dalam perdebatan solusi jangka pendek versus jangka panjang. Pro: Penggunaan Pestisida Sistemik dan Rotasi Varietas Toleran. Sejumlah petani dan penyuluh setempat berpendapat bahwa penyemprotan pestisida sistemik berbahan dasar pimetrozin sejak awal serangan — dengan dosis tepat dan serempak — dapat memutus siklus hidup wereng dalam waktu 72 jam. Ditambah dengan pergiliran varietas Inpari 42 yang memiliki toleransi terhadap wereng biotipe 3, petani dapat menekan kerugian hingga 70 persen. “Bila dilakukan serentak se-kecamatan, populasi hama bisa dikendalikan tanpa merusak musuh alami secara masif,” kata Lukman, penyuluh pertanian lapangan Kecamatan Jonggol. Kontra: Risiko Resistensi dan Degradasi Lingkungan. Pihak lain menekankan bahwa penggunaan pestisida secara intensif justru memicu resistensi hama yang lebih kuat. Data Laboratorium Hama Tanaman Institut Pertanian Bogor menunjukkan bahwa wereng di wilayah Bogor Timur telah mulai menunjukkan resistensi terhadap pimetrozin pada 2025. Alternatif pengendalian hayati seperti pemanfaatan bakteri Beauveria bassiana dan predator alami laba-laba ordo Araneae dinilai lebih aman dan berkelanjutan, meskipun hasilnya lambat diterima petani yang membutuhkan solusi cepat. Selain itu, normalisasi saluran irigasi dan pembangunan embung kecil di lahan tadah hujan dianggap lebih mendasar untuk mengantisipasi kekeringan berulang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User